Pendidikan

Observatorium Mudahkan Siswa Amati Fenomena Alam

Observatorium
GUNAKAN ALAT: Siswa menggunakan teleskop yang dipergunakan untuk observatorium.Ist

Radarbekasi.id – SMA Badan Perguruan Indonesia (BPI) 1 Bandung menjadi satu-satunya sekolah di Jawa Barat yang memiliki observatorium. Keberadaannya di sekolah memudahkan siswa untuk mengamati fenomena alam, khususnya di bidang ilmu astronomi.

Seperti yang baru saja terjadi, Kamis (26/12), SMA BPI 1 Bandung mengadakan pengamatan gerhana matahari cincin yang diikuti oleh para siswa dan guru.

Kepala SMA BPI 1 Bandung Deti Sudiarti mengatakan, observatorium tersebut mulai beroperasi pada September 2016. Peresmian dilakukan langsung oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin.

Observatorium ini dibangun dengan sistem sliding-roof berukuran 3 x 12 meter persegi. Terdapat dua jenis teleskop yang dipergunakan observatorium tersebut, yaitu yang bersifat fixed (tetap) dan teleskop portabel.

Teleskop pertama, yakni teleskop pemantul berdiameter 152 mm dan panjang fokus 731 mm terpasang pada sebuah pilar tunggal dengan mounting equatorial.

Sedangkan teleskop jenis kedua adalah teleskop bergerak yang dapat dipindahkan sesuai kegiatan yang dilakukan di lapangan. Untuk jenis teleskop ini ada dua tabung, yaitu teleskop pembias dengan diameter 80 mm dan fokus 800 mm serta Newtonian berdiameter 76 mm dan fokus 700 mm.

Deti menegaskan, keberadaan observatorium tersebut adalah wujud inovasi yang digagas sekolah untuk menunjang pembelajaran bagi siswa. ”Ini juga bisa meningkatkan mutu pendidikan di sekolah karena bisa dipakai untuk berbagai mata pelajaran, seperti geografi, fisika dan agama,” tuturnya dikutip dalam laman resmi Disdik Jabar, kemarin.

Selain mengetahui proses ilmiah pada mata pelajaran eksak, siswa juga mendapatkan pendidikan karakter melalui mata pelajaran agama, dengan menunjukkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam semesta.

Lebih jauh, lanjut Deti, inovasi tersebut selaras dengan ditunjuknya sekolah yang berdiri pada 1962 itu sebagai pilot project penerapan model pembelajaran berbasis science, technology, engineering, and math (STEM) oleh SEAMEO QITEP in Science, sebuah organisasi pendidikan se-Asia Tenggara.

Pengoptimalan fasilitas ini terlihat dengan prestasi yang diraih sekolah tersebut. Tahun ini, kata Deti, siswanya berhasil lolos pada kejuaraan astronomi tingkat provinsi. Selain siswa, pada 2017, guru sains di sekolah tersebut pun berhasil meraih peringkat II dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional dan berhak mendapatkan beasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB). ”Selain itu, kita juga sering diundang untuk memamerkan produk karya siswa oleh pemerintah,” tambahnya.

Secara teknis, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar (KD) yang disusun oleh guru mata pelajaran terkait, mulai dari kelas X hingga XII. ”Fasilitas ini juga dimanfaatkan oleh ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR) astronom yang dibina oleh mahasiswa astronomi ITB,” ujarnya. (oke/tim)

Related Articles

Back to top button