BekasiBerita UtamaMetropolis

Progres Pembangunan Capai 80 Persen

Pembangunan
TAHAP AKHIR: Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung SDLB/SMPLB (Disabilitas Fisik dan Sensorik Netra) di Jalan Pramuka, Margajaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Dinas Pendidikan mengatakan progress pembangunan sudah mencapai angka 80 persen dan rencana bisa digunakan pada 2020. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

Radarbekasi.id – Pembangunan gedung SDLB/SMPLB (Disabilitas Fisik dan Sensorik Netra) hampir rampung. Pembangunan gedung yang dimulai pada pertengahan Agustus 2019 tersebut, kini telah memasuki tahap finishing atau penyelesaian.

Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pendidikan Kota Bekasi Yopik Royilah mengungkapkan, belum lama ini pihaknya menyambangi sekolah disabilitas terpadu di Jalan Pramuka, Margajaya, Bekasi Selatan tersebut.

Menurutnya, progres pembangunan gedung telah mencapai angka 80 persen. Pihaknya menargetkan sekolah ini dapat digunakan pada tahun depan.

”Belum lama ini saya dan beberapa staf menyambangi sekolah tersebut dan saya menilai bahwa pembangunannya sudah memasuki angka 80 persen atau dalam masa penyelesaian,” kata Yopik, kepada Radar Bekasi, Kamis (26/12).

Sekolah dua lantai ini memiliki kapasitas enam ruangan kelas. Setiap lantai terdiri dari tiga ruangan kelas. Adapun setiap kelasnya siap menampung 30 siswa.

Kendati demikian, Yopik belum dapat memastikan daya tampung sekolah disabilitas yang siap dibuka pada 2020 tersebut. ”Saya belum bisa menyebutkan daya tampungnya berapa, karena sistemnya nanti menyesuaikan jumlah pengajar agar sistem pembelajarannya juga bisa berjalan dengan maksimal. Kalau nantinya menerima banyak siswa tapi tidak bisa menyesuaikan percuma,” tuturnya.

Saat ini, pihaknya sedang merumuskan kebutuhan tenaga pengajar di sekolah tersebut. ”Kita sekarang dalam tahap perumusan guru untuk mengajar di sekolah disabilitas ini, karena harus sesuai dengan kebutuhan yang ada,” ujarnya.

Adapun pengadaan mebeler seperti meja dan kursi akan dilakukan secepatnya. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar telah siap sepenuhnya.

”Pokonya pengadaan mebeler itu yang utama agar proses kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Dan yang kedua adalah guru, baru yang terakhir adalah siswa. Karena jika sudah terpenuhi semuanya maka penerimaan siswa dapat kita tentukan,” tegasnya.

Ia berharap, pembangunan sekolah disabilitas tersebut dapat membantu jalannya pendidikan bagi siswa yang memiliki keterbatasan fisik. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan siswa yang mengalami kendala untuk bersekolah karena keterbatasan fisiknya.

”Ini adalah pemeratan agar generasi penerus bangsa dapat merasakan dan menjankan aktivitas kegiatan belajar yang sama dengan siswa yang lain,” pungkasnya. (dew)

Related Articles

Back to top button