Bekasi

Mobil Terseret Satu Kilometer

Korban Meninggal Dunia Bertambah

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Agus Muliana (57), warga Pondok Gede Permai hanya bisa tercengang melihat tiga mobil miliknya bergeser dari tempat semua, bahkan terbawa air satu kilometer. Ya, banjir sejak Rabu (1/1) kemarin tidak hanya menghanyutkan kendaraan pribadi miliknya, namun begitu juga warga lainnya.

Begitu air mulai surut pada hari Kamis, sekira pukul 14.00 Agus mulai memberanikan diri untuk mendekat memasuki wilayah Perumahan Pondok Gede Permai (PGP) yang sejak hari Rabu lalu.

Tidak hanya mobil miliknya, puluhan mobil milik warga lainnya juga ikut bergerak terseret arus, dipastikan kerugian tidak sedikit.

Sejumlah mobil mengalami kerusakan mulai dari kaca pecah, mesin dipastikan tidak menyala akibat terendam, hingga bagian badan mobil rusak terbentur kendaraan lain. Semua warga yang merasa memiliki kendaraan dan tidak berhasil diselamatkan, mulai mencari kemana kendaraan terbawa arus, tidak ada yang menyangka satupun arus dan sebut air datang begitu cepat dan besar.

Bak dilanda sunami, begitu kira-kira sekejap mata memandang, daratan belum terlihat jelas siang itu, walaupun air telah surut, kendaraan di beberapa lokasi bertumpuk satu dengan yang lainnya, nyaris seperti barang bekas yang sudah lama tak terpakai dan diabaikan oleh pemiliknya, entah diapakan kendaraan-kendaraan tersebut dikemudian hari oleh pemiliknya.

”Tadi jam duaan, mobil jam tigaan baru ketemu, kalau yang dua ada di atas jembatan (di area yang biasa tidak terendam banjir). Tadinya kan tiga-tignya ada disitu Deket jembatan, cuma yang Baleno itu nggak kuat kebawa air,” kata Agus.

Belasan mobil dan puluhan motor yang berada sejajar dengan kendaraan miliknya semua terbawa arus, saat ditemukan mobil sudah dalam keadaan rusak, kaca bagian depan pecah, bagian atap mobil rusak karena sempat terbalik, kaca sepion patah dan entah dimana keberadaannya. Saat ini Agus tinggal memikirkan kapan dan berapa ia harus mengeluarkan uang untuk memperbaiki kendaraannya.

Hingga sore hari puluhan mobil masih dibiarkan oleh pemiliknya, termasuk Agus. Sebab, akses jalan untuk menderek mobil keluar wilayah perumahan masih sulit, terhalang oleh puluhan kendaraan lainnya. Setidaknya ia memerlukan uang Rp40 juta hanya untuk memperbaiki kendaraannya, belum termasuk harta benda yang ada didalam rumah, termasuk rumah dua lantai miliknya.

Selama banjir menggenang, Agus tidak begitu saja beranjak mengungsi jauh dari wilayah tempat tinggalnya, ia memilih untuk bertahan di lokasi sekitar bersama ibundanya, itu dipilih untuk tetap menjaga kendaraannya. Termasuk detik-detik mobilnya terbawa arus ia abadikan melalui kamera telepon genggam.

Dalam video amatir yang ia perlihatkan, air sudah nyaris menutup atap puluhan mobil yang terparkir, suara sirine puluhan mobil tersebut terdengar tak henti-hentinya hingga perlahan mobil mundur terbawa air, saling berbenturan, dan hanyut terbawa arus, pemiliknya hanya bisa berteriak dan pasrah.

”Jam duaan hari Rabu (mobil terseret arus), lagi dahsyat-dahsyatnya, ngeri juga kaya tsunami,” ia mengenang peristiwa hari Rabu lalu.

Ia menceritakan bagaimana air kali Bekasi yang meluap itu seakan marah, ganas dan cepat meluluhlantakkan wilayah sekitar. Air mulai mengganas sekira pukul 12.00. Ya, di waktu-waktu itu memang telah diprediksi air dari wilayah hulu tiba di Kota Bekasi, ditambah hujan yang tak henti-hentinya mengguyur Kota Bekasi hari itu.

Sementara itu, Korban bertambah satu di Kota Bekasi. Kondisi ini menambah jumlah total korban jatuh di wilayah Provinsi Jawa Barat manjadi 17 orang. Cuaca saat ini disebut extreme, saat malam pergantian tahun curah hujan disebut 400 Milimeter, masyarakat diminta untuk waspada empat hingga lima hari ini.

Curah hujan yang tinggi ditambah dengan debit air sangat tinggi di hulu kali Bekasi menyebabkan sejumlah wilayah tergenang air, selain genangan yang tinggi arus juga terpantau deras. Kondisi ini membahayakan bagi warga jika memaksakan bertahan dan bermain di tengah genangan banjir.

Kemarin, satu anak berinisial AB (11) warga Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Medansatria dikabarkan terbawa arus saat bermain di jembatan kali Kapuk dengan teman-temannya. Kejadian dilaporkan terjadi pada pukul 09.00, hingga pukul 15.00, belum juga berhasil diketemukan, pencarian terkendala arus cukup deras.

”Tadi pagi ada anak keseret arus kali, satu orang usia 11 tahun. Udah 2 kali mencoba pencarian, tapi belum membuahi hasil, karena air yang cukup deras, jadi belum bisa dapat hasil,” ungkap Koordinator Kebersihan, keindahan, dan ketertiban (K3) wilayah Kecamatan Medansatria, Taufik Rachman Hidayat.

Pemerintah Kota Bekasi telah menetapkan situasi saat ini sebagai tanggal darurat bencana, setelah lebih dari 70 persen wilayah Kota Bekasi terkena banjir. Di wilayah sekitar AB terseret arus, ketinggian air mencapai dada orang dewasa, menambah sulit pencarian.

Sementara itu, paman Korban, Iriansyah (25) yang juga berada dilokasi menerangkan bahwa rumah AB di wilayah RW 02 tidak terdampak banjir. Namun, korban bermain di lokasi yang terendam banjir, ia berharap AB cepat diketemukan dalam kondisi apapun. Warga sempat memberikan keterangan melihat kepala dan kaki AB di tepi kali Kapuk, namun tidak sempat diraih hanyut terbawa arus.

”Enggak cuma karena main aja pertama ketemu saya, kejadian jam 9 lima orang saya suruh pulang cuma enggak mau. Terus pas saya suruh pulang enggak mau ada yang ngomong katanya dia tenggelem jam 10-nya,” terang Iriansyah.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pada kesempatan meninjau titik banjir di perumahan Taman Kartini menyebut hingga Kamis pagi tercatat 17 korban meninggal dunia di Provinsi Jawa Barat. Korban paling banyak ada di wilayah Bogor sebanyak 15 orang, Kota Bekasi hingga Kamis pagi terdata dua orang.

Terkait dengan keluhan warga mengenai lambannya evakuasi, Ridwan mengatakan bahwa akses petugas untuk menuju ke lokasi cukup sulit. Pria yang akrab di sapa kang Emil itu juga memantau titik-titik banjir di Kota Bekasi melalui udara.

”Saya menghimbau jangan saling menyalahkan dulu ya, nanti aja sesi begitu-begitu kita bahas di waktu yang. Lebih baik sekarang fokuskan pada penyelamatan nyawa, keamanan terus dan evakuasi, jadi media kita fokus ke situ aja dulu, mudah-mudahan tidak ada korban tambahan lagi, karena jumlah korban saya terima laporan sudah lumayan banyak. Mudah-mudahan ini jadi pelajaran dan ini memang lintas wilayah ya, harus pemerintah pusat turun, provinsi juga, kota dan kabupaten, jadi gak bisa di sektor-sektor seperti itu,” jelasnya.

Ia mengatakan sudah merilis dana tak terduga kebencanaan yang dapat diakses oleh Wali Kota, namun tidak menyebutkan besaran dana yang telah disiapkan.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi membenarkan lima korban yang jatuh hingga hari Kamis pagi kemarin. ”Bekasi Barat dua orang, di Kotabaru 1 orang, di perum bumi di Rawalumbu sebab nya belum jelas, Pondok Gede 2 karena kebakaran, harus identifikasi betul bahwa penyebabnya banjir,” kata Rahmat dibantu oleh petugas di posko Bencana Alam Pemkot Bekasi.

Terkait dengan keluhan warga akibat lambatnya evakuasi, ia mengatakan bahwa kesulitan dialami akibat keterbatasan perahu. Perahu karet yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat sebanyak 40 unit sudah di sebar ke sejumlah titik banjir Kamis pagi.

Close