BekasiBerita UtamaMetropolis

Pasca Banjir, Volume Sampah Naik 100 Persen

SAMPAH BANJIR: Petugas Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi mengangkut sampah pascabanjir dari Perumahan Papanmas, Desa Mekarsari, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Senin (6/1). Sampah berupa perabotan rumah tangga itu akan dibuang ke TPA Burangkeng. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pascabanjir yang melanda wilayah Kabupaten Bekasi dan sekitarnya beberapa hari lalu, volume sampah naik seratus persen lebih atau mencapai 800 ton perhari. Namun karena keterbatasan armada, sehingga pengangkutan sampah tersebut tidak bisa dilakukan dengan cepat.

“Memang volume sampah pasca banjir naik seratus persen. Bahkan dua hari lalu, sampah banjir yang sudah terangkut sebanyak 300 ton dari 60 armada yang diturunkan,” ujar Pelaksan tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, Peno Suyatno, Senin (6/1).

Kata Peno, berdasarkan data dari enam Unit Pelayanan Terpadu (UPTD) DLH, 30 ton sampah yang sudah diangkut pasca banjir berasal dari dua kecamatan, yakni di Kecamatan Cibitung dan Tambun Selatan.

“Untuk pengangkutan sampah dilakukan secara bergantian. Sebab kami juga harus tetap mengangkut sampah warga sehari-hari. Dan memang prioritas kami adalah mengangkut sampah pasca banjir. Namun lantaran keterbatasan armada, pengangkutannya kami lakukan secara bertahab,” terang Peno.

Dalam memaksimalkan pengangkutan sampah tersebut, lanjut Peno, sesuai perintah Bupati, pihaknya menerjunkan enam UPTD yang ada untuk membantu masyarakat yang terkena dampak banjir.

“Kami akui, lokasi banjir saat ini ada di 14 titik. Diantaranya wilayah Tarumajaya, Babelan, Tambun Utara, dan Sukatani. Namun karena keterbatasan armada, yang baru dilayani baru hanya Tambun Selatan dan Cibitung,” tuturnya.

Sementara di Perumahaan Papanmas, Desa Mekarsari, tumpukan sampah dan barang perabotan rumah tangga, seperti kasur, springbed, pakaian yang sudah terendam air, dan berserakan di jalan maupun didepan rumah warga. Saat Radar Bekasi mendatangi lokasi tersebut, masih terlihat tumpukan perabotan rumah tangga yang sebelumnya terendam air saat terjadi banjir.

Salah satu relawan siaga banjir, Dede Fadilah mengatakan, penumpukan sampah seperti ini baru terlihat pascabanjir surut.

”Tumpukan sampah pascabanjir ini sebagaian sudah dibawa oleh para pemulung, dan sebagian lagi diangkut truk sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kabupaten Bekasi,” ujar Dede, Senin (6/1).

Ia menjelaskan, selain di perumahaan, tumpukan sampah seperti ini juga banyak terlihat di wilayah perkampungan, dan sama sekali belum diangkut. Bahkan beberapa warga terpaksa membuang barang-barang tersebut ke lahan kosong, karena tidak ada yang mengangkut.

”Para warga terpaksa membuang barang-barang sisa banjir ke lahan kosong. Padahal, sampah itu bisa menimbulkan penyakit juga,” tuturnya.

Dede berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi tidak hanya memberikan bantuan saat banjir saja, tapi sampah yang disebabkan oleh banjir harus dibersihkan. Misalkan dibuang ke kali atau sungai, pasti akan menghambat aliran sungai.

”Kami hanya minta disediakan truk untuk mengangkut sampah ini. Sebab kalau dibiarkan, bisa menimbulkan penyakit,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Forum Warga Dukuh Bima Mas, Edwin Sunarno mengakui, pascabanjir, volume sampah memang meningkat tajam, rata-rata perabotan rumah tangga. Kendati demikian, dia mengaku jika truk pengangkut sampah sudah dateng ke tempatnya.

”Dari hari Jumat sudah diangkut sampah-sampahnya. Sekarang juga sudah diangkut lagi. Jadi, walaupun volume sampah meningkat pascabanjir, sudah tiga kali diangkut menggunakan truk dari Pemkab Bekasi,” terang Edwin.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Muhammad Nuh tetap mengimbau, pascabanjir harus ada tindakan yang tegas dari Bupati, karena otomatis penumpukan sampah akan terjadi dimana-mana.

”DLH harus langsung bergerak untuk mengangkut sampah-sampah tersebut, karena ini bukan sampah biasa, karena dikhawatirkan bisa menimbulkan penyakit,” saran Nuh.

Menurut pria yang juga Ketua DPD PKS Kabupaten Bekasi ini, untuk mengangkut sampah-sampah pascabanjir, Pemkab Bekasi bisa menggunakan dana siaga bencana, walaupun pada Januari ini anggaran belum turun.

”Saya pikir bisa menggunakan dana siaga bencana terlebih dahulu. Jangan semata-mata baru bergerak menunggu pencarian dana. Dan sejauh ini DLH belum turun, saya sudah banyak mendapatkan laporan dari warga,” tukasnya.

Adapun Kepala UPTD TPA Burangkeng, Maulana mengakui, peningkatan sampah yang dibuang ke TPA Burangkeng mengalami peningkatan sejak Minggu (5/1) lalu. Dimana ada 60 truk yang khusus membawa sampah pascabanjir.

”Kalau hari biasa jumlahnya tidak terlalu banyak mobil yang membuang sampah. Tapi pascabanjir, jumlahnya terus meningkat,” pungkas Maulana. (and/pra)

Related Articles

Back to top button