BekasiBerita UtamaSosial

Pascabanjir, Angka Kemiskinan Diprediksi Bertambah

MASAK DI TENDA: Seorang warga korban banjir, Nenek Sarni sedang memasak di tenda pengungsian sementara yang dibuatnya sendiri di Jalan Raya Buni Bakti, Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (7/1). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pasca terjadinya bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi, Pemerintah Daerah diharapkan bisa membantu perekonomian masyarakat yang sudah tidak punya tempat tinggal maupun harta benda.

Menurut Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Universitas Pelita Bangsa, Fahri Pangestu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi patut diapresiasi dengan cepat memberikan bantuan logistik dengan mengerahkan hampir seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada.

”Namun yang terpenting itu adalah, bagaimana untuk menyelesaikan permasalahan itu secara jangka panjang. Sebab, masalah banjir perlu ditangani secara keseluruhan, baik dari aspek ekonomi masyarakat serta infrastruktur. Dan kami dalam hal ini bukan untuk menyalahkan kebijakan Pemkab Bekasi, melainkan menyuarakan aspirasi dari masyarakat yang terdampak banjir,” tuturnya.

Sebab, kata dia, berdasarkan data yang diperoleh, pada tahun 2019  angka kemiskinan di Kabupaten Bekasi terus meningkat. Ditambah lagi musibah banjir ini, tidak menutup kemungkinan masyarakat prasejahtera berpotensi naik lagi.

”Kenaikan angka kemiskinan ini sangat memprihatinkan, Oleh sebab itu, kami berharap ada perhatian dan penanganan dari Pemkab Bekasi untuk mengurangi masyarakat kurang mampu di Kabupaten Bekasi,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait masalah banjir yang melanda Kabupaten Bekasi dan sekitarnya juga dirasakan beberapa pengelola objek wisata. Yang mana saat terjadi banjir, momentum nya libur akhir tahun, dan membuat para pengelola wisata tidak dapat beroperasi.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Bekasi, Sarman Faisal mengakui, para pengelola objek wisata yang semula memperkirakan jumlah pengunjung pada libur akhir tahun bakal meningkat hingga tiga kali lipat, akan tetapi justru jauh dari kenyataan.

”Alih-alih dapat untung. Yang ada malah rata-rata tempat wisata sepi dari pengunjung,” beber Sarman.

Hal itu ia prediksi berdasarkan waktu libur yang panjang hingga mencapai dua pekan. Selain itu, pemberlakukan cuti bersama pun dinilai dapat menstimulus kunjungan wisata bersama keluarga.

”Prediksi saya justru berbanding terbalik. Hujan yang mengguyur Kabupaten Bekasi di malam pergantian tahun serta banjir merendam hampir separuh wilayah membuat tempat pariwisata sepi,” tuturnya.

Berdasarkan laporan yang diterima, tambah Sarman, jumlah kunjungan anjlok hingga 90 persen. ”Jadi hitungannya biasa ada 1.000 orang yang datang, ini cuma 100 orang, dan turunnya jauh. Penurunan ini bukan dibanding dengan prediksi kami yang mencapai tiga kali lipat tapi dibandingkan dengan kunjungan pada libur reguler, Sabtu atau Minggu,” ucap Sarman.

Sekadar diketahui, Pokdarwis merupakan kelompok yang beranggotakan warga sadar atas potensi wisata di daerahnya. Layaknya swasta, para warga ini mengelola tempat wisata dengan tujuan meningkatkan perekonomian di wilayah sekitar.

Sarman mencatat, hingga kini tercatat ada 11 Pokdarwis yang tersebar di sembilan kecamatan. Dari 11 Pokdarwis, seluruhnya mengeluhkan kunjungan wisata yang anjlok.

”Seperti di Muaragembong ada dua Pokdarwis yang mengelola lokasi wisata. Memang lokasinya tidak banjir, tapi akses jalan ke sananya yang susah,” tandas Sarman.

Selain di Muaragembong, lokasi yang sepi pengunjung juga terjadi di Gedung Juang 45 Tambun, Jembatan Cinta Tarumajaya hingga Situ Binong di Cikarang Pusat.

”Itu semuanya masuk ke Pokdarwis yang merasakan kondisinya lagi prihatin sekarang,” pungkasnya.

Sarman, yang juga pengelola Taman Bunga Matahari Bekasi ini mengaku, lokasi wisatanya pun turut mengalami penurunan pengunjung. Akibat penurunan jumlah kunjungan ini, para Pokdarwis mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 1 miliar.

”Kalau dihitung dari dua minggu liburan sejak akhir tahun, dari biasanya ada 2.000 pengunjung, tapi ini turunnya sangat drastis, yakni cuma sekitar 100 orang. Kalau dihitung semua Pokdarwis, pendapatan yang hilang bisa mencapai Rp 1,1 miliar. Itu dihitung dari keseluruhan, seperti tiket masuk, wahana, makanan minuman sampai dengan parkir,” tukasnya. (and) 

Related Articles

Back to top button