BekasiMetropolis

Warga Protes, Gorong-Gorong Disumbat Beton

DISOAL WARGA: Warga mengamati gorong-gorong yang sebelumnya tertutup oleh tiang pancang pengerjaan proyek KCIC di Kawasan Jatibening, Kota Bekasi, Rabu (8/1). Hal itu diduga menjadi penyebab banjir di Pondok Cikunir. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga perumahan Pondok Cikunir Indah RT 014, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi kecewa lantaran gorong-gorong tidak jauh dari perumahan mereka disumbat beton pekerjaan proyek.

Warga menduga proyek yang berjalan tidak jauh dari jalan tol simpang Cikunir tersebut merupakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang dahulu bernama Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Warga menjelaskan bahwa tiga lubang gorong-gorong yang berada tidak jauh dari jalan tol km 9 tersebut ditutup hampir separuhnya. Akibatnya air tidak mengalir dengan leluasa.

Tepat memasuki tahun 2020 lalu, perumahan yang diakui selama tiga puluh tahun tidak pernah banjir, kali ini diterjang banjir hingga sepinggang orang dewasa.

Warga mengaku resah, meskipun beton sudah diangkat, namun mereka meminta kepada pemerintah kota maupun pihak proyek supaya gorong-gorong tidak ditutup kembali.

”Persoalannya karena ada penyumbatan akibat proyek KCI. KCI ini, tanpa ada koordinasi dengan warga disini, entah dari pihak pemerintah kota mungkin juga tidak ada izin-izin seperti itu dia tutup langsung, penutupan ini yang tidak diketahui,” jelas ketua RT setempat, Abdul Azis.

Dia menjelaskan bahwa sejak bulan Agustus tahun lalu, ia sudah mulai curiga air kali yang mengalir tepat disebelah komplek perumahan mereka berubah menjadi hijau, pertanda air tidak mengalir.

Warga mengaku sudah berkoordinasi beberapa kali dengan pihak proyek. Namun hingga bencana banjir kemarin beton belum juga diangkat. Setelah lingkungan warga sekitar didera banjir, beton diangkat. Warga resah jika gorong-gorong kembali ditutup tanpa sepengatahuan. Dikhawatirkan air yang datang dari berbagai wilayah kembali tersendat dan menggenangi wilayah mereka.

”Jadi kalau dipikir-pikir masalahnya ini warga juga resah. Lobang gorong-gorong tiga, yang fungsi satu setengah. Bagaimana supaya pemerintah kota itu peduli dengan lingkungan, terutama yang kaitannya dengan proyek yang berdekatan dengan kita,” lanjut Azis.

Azis bersama warga sekitar mengaku sangat mendukung proyek strategis nasional yang berjalan tidak jauh dari wilayah permukiman mereka. Namun, ia juga meminta untuk pelaksana proyek memikirkan lingkungan sekitar.

Kami berusaha untuk menuju lokasi gorong-gorong, setibanya disana, beton yang sebelumnya menghalangi lubang seperti yang ditunjukkan melalui kamera telepon warga sudah diangkat. Disebelahnya terlihat gundukan tanah yang sebelumnya menjadi tempat berkumpulnya air. Sebelum masuk ke dalam gorong-gorong, terjadi pertemuan tiga aliran sungai dilokasi tersebut. Ketika debit air dari ketiga kali tersebut naik, tumpah ke wilayah perumahan.

”Jadi bukan karena hujan deras bukan, karena memang disumbat. Jadi didepan gorong-gorong itu mungkin bekas galian atau apa, itu terhalang gundukan,” jelas salah satu tokoh masyarakat sekitar, Sahetapy (79).

Pelaksana proyek kereta cepat saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti keluhan warga tersebut, dan meninjau lokasi.

”Coba aku teruskan ke project management ya,” singkat Direktur TOD dan Legal KCIC, Dwi Windarto usai menerima informasi tersebut. (sur)

Related Articles

Back to top button