BekasiBerita UtamaCikarang

Cuaca Tak Menentu, Petani Padi Merugi

804 Hektar Sawah Terendam Banjir

PERSAWAHAN BANJIR: Seorang petani sedang memanen padi di tengah genangan air (banjir) di Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Minggu (12/1). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dua musim yang ada di Indonesia, yakni hujan dan kemarau, khususnya di Kabupaten Bekasi, selalu dirasakan tidak bersahabat dengan para petani. Saat musim kemarau, sawah kering, sedangkan musim hujan kebanjiran!.

”Kami memang tidak menyalahkan alam, namun saat curah hujan tinggi, para petani takut kebanjiran. Begitu juga sebaliknya, saat musim kemarau, sawah kering kerontang,” ujar Sekretaris Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bekasi, Ahmad Matin kepada Radar Bekasi, kemarin.

Kata dia, sebagai sebuah kelompok atau kumpulan para petani, hingga saat ini pihaknya belum merasakan adanya sumbangsih dari pemerintah untuk mendukung swasembada pangan di Kabupaten Bekasi. Padahal, Kabupaten Bekasi sebagai daerah penyumbang pangan nasional.

Dijelaskan Ahmad, untuk permasalahan pertanian di Kabupaten Bekasi, perlu ada komitmen dan kebijakan pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

Menurut dia, hingga saat ini bentuk perhatian dari pemerintah kepada petani hanya sebatas penyuluhan, pembinaan dan pemberian bantuan bibit unggul saja. Namun untuk masalah pengairan atau irigasi yang menjadi sumber pertumbuhan pertanian masih sangat jauh dari harapan.

”Memang bukan tidak ada perhatian dari pemerintah. Akan tetapi bentuk perhatiannya menurut kami hanya sebatas pemberian bibit unggul dan pembinaan. Sementara untuk aliran air buat persawahan tidak diperhatikan,” tukas Ahmad.

Selain itu, Peraturan Daerah (Perda) untuk penyelamatan lahan pertanian yang harus dijadikan sebagai lahan pertanian abadi juga belum rampung.

”Bagi kami, bertani itu merupakan sebuah kesenangan tersendiri. Walaupun hasil yang didapat tidak terlalu banyak. Meski demikian, kami yang berprofesi sebagai petani sangat menikmati dan mensyukuri,” ucapnya.

Lanjut Ahmad, dua musim yang ada, dari awal tahun lalu hingga pertengahan, banyak petani yang merugi karena kekeringan. Tapi sekarang sudah mulai pada panen, khusunya di wilayah utara, yakni Tarumajaya, Tambun Utara, Cabangbungin, danh Sukawangi. Walaupun ada beberapa petani hasil panenannya terganggu karena sawah terendam banjir.

”Dengan kondisi yang dialami para petani ini, saya berharap, ada pergerakan nyata dari pemerintah untuk memperhatikan seluruh aspek bagi para petani,” imbuhnya.

Bahkan, petani yang sering mengalami kerugian ketika sedang kebanjiran dan kekeringan, Ahmad menilai, hal itu disevavkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah.

”Kami sangat berharap, bukan minta ganti rugi, agar dilakukan sosialisasi tentang asuransi sawah kepada masyarakat. Jadi, kalau tiba-tiba gagal panen, petani tidak rugi-rugi banget, setidaknya ada modal untuk kembali bercocok tanam ketika cuaca sudah mendukung,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Nayu Kalsum saat dikonfirmasi Radar Bekasi terkait keluhan para petani tersebut, hingga berita ini ditulis, belum ada jawaban.

Sebelumnya diberitakan, seluas 804 hektar sawah di Kabupaten Bekasi terkena dampak dari bencana banjirpada awal tahun 2020 lalu. Curah hujan yang tinggi serta saluran air yang tidak memadai, menjadi penyebab ribuan hektar lahan persawahan terendam air. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Nani Suwarni.

”Sampai dengan 6 Januari 2020, lahan pertanian di lima kecamatan yang terkena bencana banjir diantaranya, Kecataman Tarumajaya, Karangbahagia, Sukatani, Sukakarya dan Bojongmangu,” terang Nani.

Dikatakannya, lahan persawahan di Kecamatan Sukakarya merupakan wilayah paling banyak terkena dampak dari bencana banjir. Sebab, dari lima kecamatan yang terkena banjir, wilayah Sukakarya mempunyai lahan persawahan yang paling luas.

”Dari 3.770 hektar luas lahan persawahan di Kecamatan Sukakarya, lahan persawahan yang terkena banjir seluas 546 hektar dengan ketinggian air mencapai 50-80 sentimeter. Kalau dikalkulasikan, dari lima kecamatan itu hanya 6,2 persen lahan persawahan yang terkena banjir,” tegasnya.

Lanjut Nani, jumlah keseluruhan lahan persawahan yang ada di Kabupaten Bekasi seluas 48.406 hektar, dari jumlah itu hanya 804 hektar lahan persawahan di Kabupaten Bekasi yang terkena banjir.

”Kalau ditotal dari luas persawahan yang ada di Kabupaten Bekasi, yang terkena dampak bencana banjir hanya mencapai 1,6 persen. Jumlah itu yang sudah ada tanamannya,” pungkas Nani. (and)

Related Articles

Back to top button