BekasiBerita Utama

Perokok Remaja Meningkat

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Angka perokok dibawah umur diprediksi akan terus meningkat, dibuktikan dengan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 lalu, sejak Riskesdas tahun 2007, 2013, hingga 2018 angka tersebut terus melesat. Dari total prediksi jumlah penduduk tahun 2018, 13,4 persen penduduk dibawah usia 19 tahun tercatat sebagai perokok.

Angka ini terus bertambah dengan beberapa faktor lain yang mendukung secara tidak langsung, diantaranya model penjualan produk tembakau yang bisa didapatkan mulai dari satu batang, masyarakat biasa menyebutnya ’ketengan’, cukup terjangkau untuk anak-anak. Faktor lainnya, ketidakpekaan orang tua dan masyarakat sekitar dengan merokok dihadapan anak-anak, tindakan itu secara tidak langsung terekam dalam memori mereka untuk diaplikasikan.

Berdasarkan data tersebut, Radar Bekasi melihat Kondisi di Kota Bekasi. Mereka yang tergolong masih berada dibawah umur tersebut sebagian besar menjadi perokok aktif lantaran coba-coba dan melihat kenyataan ditengah keluarga dan lingkungan.

Salah satu siswa kelas 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Bekasi, sebut saja A mengaku setiap harinya tidak bisa dipastikan menghabiskan berapa batang rokok. Bahkan untuk mendapatkan produk hasil tembakau tersebut, ia mengumpulkan uang bersama teman-temannya yang lain. Hingga saat ini orang tuanya tidak tahu ia merokok.

“Itu mah ntar gimana ya, takut ketauan doang. Iya mas soalnya kan masih malu juga dilihat orang tua, kalo udah kelas dua nih kan PKL, dapat duit, baru. Ini beli mah join, patungan sama teman, biasanya sih filter setengah,” jawabnya tersipu malu, Senin (13/1).

Tidak hanya temannya dirumah, teman sekolahnya pun diakui tidak sedikit yang menjadi perokok aktif. Dalam satu kali membeli, saat memiliki uang lebih ia belanjakan setengah bungkus rokok untuk dinikmati, saat uang yang dimiliki pas-pasan, terpaksa ia membeli lebih sedikit, tiga batang saja.

Siswa Kota Bekasi lainnya, sebut saja B, bahkan mengakui sudah mulai coba-coba sejak duduk di kelas empat Sekolah Dasar (SD). Pertama kali orang tuanya memergokinya sedang merokok pada saat duduk di bangku SMP. Terlanjur sulit dicegah, orang tuanya pun habis akal.

”Bebas, dirumah juga. Udah sering keliatan aja, dibilangin doang sih, soalnya keluarga ngeroko semuanya, Abang, bapak maksudnya,” jelas siswa SMK yang mengaku tinggal di kawasan Bekasi Timur tersebut.

Senada, ia juga mengakui tidak sedikit teman-temannya yang merokok, baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Seperti perokok aktif pada umumnya, ia seringkali tidak tahan saat berada dilingkungan sekolah. Akhirnya, ia mengaku kerap pergi ke salah satu toilet di sekolahnya untuk sekadar merokok.

Tidak semua temannya diperbolehkan merokok oleh orang tuanya masing-masing, berbeda dengan B. Namun, mereka tetap merokok dengan cara sembunyi-sembunyi.

Meskipun sudah diperbolehkan oleh orang tuanya, ia mengaku masih sungkan dan malu untuk merokok dirumah, terlebih di hadapan orang tuanya.

”Ya pasti nggak enak lah, soalnya masih belum bisa nyari duit sendiri bang, kecuali kalau udah nyari duit sendiri,” sautnya santai.

Fenomena tidak asing bagi publik ini tidak terlepas dari peran keluarga dan masyarakat umum. Sebagai perekam yang baik, anak-anak akan merekam apapun yang mereka jumpai di sekeliling mereka, termasuk rokok.

Melihat orang lain yang lebih dewasa merokok, hal ini seolah menumbuhkan ketentuan tak tertulis bahwa mereka bisa merokok dengan syarat usia sudah mencukupi, terlepas dari persoalan kesehatan yang kerap menjadi perbincangan dikalangan perokok. Hal ini menjadi berbahaya ketika sang anak sudah mendapatkan kenyamanan dari aktivitas merokok yang dilakukan.

”Anak itu kan perekam yang baik, yang sering kita dengar mereka mencari jati diri, jadi seperti ada ketentuan tidak tertulis bahwa merokok itu tidak apa-apa saat melihat orang lain itu merokok. Saya melihat yang perlu dibenahi adalah diri kita sendiri, mau segimanapun regulasinya (tidak signifikan), tapi menjaga dan menahan diri untuk tidak merokok di depan mereka,” kata Komisioner bidang Kesehatan dan Napza Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi, Hadyan Rahmad saat ditemui Radar Bekasi.

Diketahui, sebagian besar daerah kabupaten atau kota di Indonesia telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR), termasuk Kota Bekasi. Hadyan menilai, untuk membedakan anak usia sekolah dengan anak berusia diatas sembilan tahun cukup sulit di ruang publik, terutama ketika sudah melepas identitas kesiswaan seperti seragam.

Berkenaan dengan masalah rokok, menurutnya tidak hanya berbicara kesehatan, juga berbicara psikososial. Dimana apa yang dilakukan oleh masyarakat disekitar anak-anak, termasuk orang tuanya akan mempengaruhi tingkah laku si anak.

Tidak banyak orang tua yang memiliki rasa ingin tahu perihal kondisi anak-anaknya, pembahasan seputar rokok pun menjadi hal yang tabu antara orang tua dan anaknya. Lingkungan tempat anak bergaul memperkeruh dan meneguhkan tingkah laku anak, apa yang telah mereka rekam akan ditumpahkan ketika bertemu dengan teman lainnya.

”Ketika mereka berkumpul kan mereka merekam masing-masing (anak), jadi ketika mereka berkumpul, mereka akan me-review rekaman mereka masing-masing, yang satu lihat bapaknya, yang satu lihat kakaknya, yang satu lihat orang di cafe. Kita serbasalah, kita menenteng rokok, disaat yang bersamaan kita bilang mereka jangan merokok, itu kan anomali. Saya bukan bicara merokok sehat, sampaikan ini tidak sehat, betul, tapi jangan dibuat sedemikian rupa. Makanya saya kalau ingin membahas ini mari kita samakan persepsi, apa itu, kontrol diri,” jelas Hadyan.

Wacana yang sempat dilempar kehadapan publik oleh pemerintah untuk menaikkan harga rokok, sedikitnya akan berpengaruh terhadap angka perokok aktif dibawah umur, tentu berkenaan dengan uang. Dari sisi kesehatan, perokok yang memulai aktif dari usia dibawah umur dengan usia dewasa dikatakan oleh Hardyana berbeda, satu perihal usia, kedua perihal perkembangan organ tubuh manusia, dan pertumbuhan hormon manusia.

Ia meminta untuk masing-masing masyarakat dan orang tua menumbuhkan kesadaran pada diri masing-masing. Kesadaran untuk tidak merokok didepan publik, terutama anak-anak. Selanjutnya, perbincangan seputar rokok antara orang tua dengan anaknya juga diharapkan sudah tidak menjadi hal yang tabu untuk mengedukasi anak. Menjadikan anak sebagai teman diskusi dan sharing menjadi hal yang penting dalam interaksi dalam keluarga. (Sur)

Close