BekasiBerita Utama

Dipaksa Iuran untuk Renovasi Sekolah

SEPI: Guru beraktifitas di halaman SDN IX dan XV Harapan Jaya, Bekasi Utara, Selasa (14/1). Beredarnya pesan singkat yang tersebar di grup WA orang tua siswa dikeluhkan oleh wali murid karena adanya pungutan Rp 100 ribu untuk perbaikan sekolah. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah orang tua siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Harapan Jaya 9 dan 15, mengaku keberatan dengan pungutan sekolah sebesar Rp100 ribu setiap siswa. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana sekolah. Orang tua siswa keberatan lantaran merasa jumlah uang yang dinilai tidak wajar.

Salah seorang wali murid mengaku, donasi wajib tersebut ia terima melalui pesan singkat singkat WhatsApp Group (WAG) wali murid.  Kesepakatan tersebut setelah komite sekolah mengundang perwakilan orang tua siswa tiga orang setiap kelas. Kedua sekolah ini terletak dalam satu komplek sekolah.

Ia mengaku keberatan jika harus mengeluarkan sejumlah uang tersebut, sedangkan anggaran sarana dan prasarana tersebut menurut keterangan orang tua siswa lainnya sudah pernah diajukan kepada dinas pendidikan (Disdik), hanya saja belum terealisasi.

”Ya saya nggak tau tuh anggaran apa, kalau misalkan anggaran itu cair, uang kolektifnya gimana itu dia yang saya pikirin. Saya pribadi tidak setuju, cuma yang lain nggak berani protes aja,” kata orang tua siswa yang meminta namanya untuk dirahasiakan tersebut.

Ia mengaku pendapatannya sehari-hari tidak besar untuk memenuhi donasi wajib tersebut. Radar Bekasi coba mendatangi sekolah yang terletak di wilayah kelurahan Harapan Jaya tersebut, kondisi fisik gedung sekolah sekilas nampak masih kokoh, bahkan cat sekolah masih terlihat mentereng.

Hanya saja, untuk kondisi lapangan yang terletak persis didepan sekolah, belum dicor. Sayang, kami tidak berhasil menjumpai kepala sekolah baik di SDN harapanjaya 9 maupun 15, saat bertemu dengan guru di sekolah, keduanya diketahui sedang rapat.

Diwaktu yang berbeda, ketua komite sekolah SDN Harapanjaya 15, Nasoka mengaku menjembatani semua perwakilan kelas untuk melaksanakan rapat. Rapat yang telah menghasilkan kesepakatan untuk donasi wajib tersebut sebagai kesadaran komite dan orang tua siswa untuk memperbaiki sarana lapangan sekolah.

Sejak lima tahun lalu, ia mengaku telah menari sumber dana bantuan mulai dari instansi swasta disekitar hingga dinas pendidikan. Namun, hingga saat ini hasilnya nihil.

”Isinya sih sebenarnya kalau itung-itung punya itung kan memang lumayan besar, karena 900m2 itu lapangan itu. Itu niatnya memang kami mau cor total dengan ketebalan 10 cm. Nah dalam tahapan upaya kemaren itu alhmdulilah para orang tua mewakili per kelasnya 3 orang menyepakati, maka dibikinlah kesepakatan itu yang saya jembatani dari kelas per kelas, nah mereka membentuklah sttuktur panitia pelaksana. Dan itu semuanya full orang tua murid, dari ketua, sekretaris, bendahara, baik bendahara umum, sekolah, kelas. Jadi 102 orang yang hadir kemaren itu semuanya dari bendahara. Semuanya ikut mengawasi,” jelas Nasoka kepada Radar Bekasi.

Dia mengaku membutuhkan Rp100 juta untuk membenahi lapangan sekolah tersebut. Ia menampik kegunaan donasi tersebut untuk bangunan dan Meubelair sekolah, semua uang tersebut dialokasikan untuk lapangan.

Dengan perhitungan jumlah siswa 1.200 orang tersebut, ditambah dengan perkiraan 10 hingga 20 persen orang tua siswa dengan kondisi ekonomi kurang beruntung, maka diestimasikan Rp100 ribu per siswa.

”Ini kan ada sekitar 1.200 siswa, jadi kan nggak semuanya bisa ikut prosesi itu disiapkan 10 sampai 20 persen itu, jadi nanti subsidi silang gitu. Yang paham ya Monggo, yang mau ngasih Rp75 ribu, Rp130 ribu ya itu terserah mereka gitu. Sebenernya nggak ada patokan, itu kan patokan rata-rata, kalau misalkan Rp100 sekian juta. Jadi perhitungannya itu kalau Rp100 juta dibagi 100 ya kira-kira itu kan Rp100 ribu setiap siswa,” lanjutnya.

Ia mengaku donasi tersebut diperuntukkan bagi orang tua siswa yang tidak keberatan saja, namun dalam. Pesan yang diterima orang tua siswa, tercantum donasi wajib Rp100 ribu per orang. Langkah ini diambil setelah lima tahun permohonan kepada dinas maupun instansi swasta dilingkungan sekitar tidak menggubris.

”Kalau saya sih nggak berharap ya, saya sudah belajar jadi pengemis tapi mereka nggak ngerti. Lebih bagus saya musyawarahkan dengan orang tua siswa yang disekolahkan disitu. Karena kalau saya pribadi sudah nggak ada urusan lagi, cuma nggak ada yang mau nggantiin. Ketua komite ini kan sekarang diperbolehkan siapapun orangnya asal memiliki kepedulian dengan pendidikan Monggo dipersilahkan,” tandasnya. (Sur)

Close