BekasiBerita UtamaCikarang

Sawah Terendam Banjir, Petani Rugi Rp 9,5 Miliar

MEMANEN PADI: Seorang petani sedang memanen padi di tengah genangan air (banjir) di Sukawangi, Kabupaten Bekasi, baru-baru ini. ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dampak banjir yang melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, selain merendam rumah, fasilitas umum dan infrastruktur jalan, juga mengakibatkan ratusan hektar sawah tergenang air.

Kerugian yang dialami petani padi pun diperkirakan mencapai Rp 9.562.500.000, -. Angka tersebut dihitung dari 425 hektar sawah yang terendam banjir.

”Memang untuk petani padi yang sawahnya kebanjiran secara keseluruhan di Kabupaten Bekasi seluas 425 hektar, dan terbanyak ada di Kecamatan Sukakarya,” ujar Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Nayu Kulsum kepada Radar Bekasi, kemarin.

Nayu menjelaskan, kerugian yang dialami petani padi hingga miliaran tersebut, dihitung jika satu hektar sawah menghasilkan sebanyak 5 ton beras dengan harga satu kilo rata-rata Rp 4.500, -.

”Untuk kerugian yang dialami para petani lumayan besar apabila dihitung secara keseluruhan,” beber Nayu.

Kata dia, sebagai antisipasi agar petani tidak mengalami kerugian lebih banyak lagi, pihaknya sudah menganggarkan bantuan dengan memberikan bibit unggul padi serta pupuk berkualitas kepada para petani yang sawahnya terkena dampak banjir.

Namun demikian, sambung Nayu, saat ini sawah yang terendam juga kebanyakan masih dalam persemaian. Sehingga kemungkinan besar masih bisa dipanen, meskipun dari aspek kualitas kurang baik.

”Akibat banjir yang terjadi awal tahun 2020 lalu, tidak seluruh petani mengalami kerugian, karena ada sebagian sawah yang baru bercocok tanam. Namun bisa saja berdampak terhadap kualitas maupun pendapatan,” terang Nayu.

Menurut Nayu, untuk menangggulangi masalah banjir, perlu melibatkan seluruh stakeholder disaat musim hujan, dan kekeringan saat musim kemarau.

”Perlu kerja sama seluruh pihak, sebab kalau dari Dinas Pertanian hanya dapat memberikan bantuan bibit unggul dan pupuk, serta bagaimana padi bisa berkualitas melalui pembinaan,” jelasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bekasi, Ahmad Matin kepada Radar Bekasi menyampaikan, sebagai sebuah kelompok atau kumpulan para petani, hingga saat ini pihaknya belum merasakan adanya sumbangsih dari pemerintah untuk mendukung swasembada pangan di Kabupaten Bekasi. Padahal, Kabupaten Bekasi sebagai daerah penyumbang pangan nasional.

Dijelaskan Ahmad, untuk permasalahan pertanian di Kabupaten Bekasi, perlu ada komitmen dan kebijakan pemerintah pusat atau pemerintah daerah.

Menurut dia, hingga saat ini bentuk perhatian dari pemerintah kepada petani hanya sebatas penyuluhan, pembinaan dan pemberian bantuan bibit unggul saja. Namun untuk masalah pengairan atau irigasi yang menjadi sumber pertumbuhan pertanian masih sangat jauh dari harapan.

”Memang bukan tidak ada perhatian dari pemerintah. Akan tetapi bentuk perhatiannya menurut kami hanya sebatas pemberian bibit unggul dan pembinaan. Sementara untuk aliran air buat persawahan tidak diperhatikan,” tukas Ahmad.

Selain itu, Peraturan Daerah (Perda) untuk penyelamatan lahan pertanian yang harus dijadikan sebagai lahan pertanian abadi juga belum rampung.

”Bagi kami, bertani itu merupakan sebuah kesenangan tersendiri. Walaupun hasil yang didapat tidak terlalu banyak. Meski demikian, kami yang berprofesi sebagai petani sangat menikmati dan mensyukuri,” ucapnya.

Lanjut Ahmad, dua musim yang ada, dari awal tahun lalu hingga pertengahan, banyak petani yang merugi karena kekeringan. Tapi sekarang sudah mulai pada panen, khusunya di wilayah utara, yakni Tarumajaya, Tambun Utara, Cabangbungin, dan Sukawangi. Walaupun ada beberapa petani hasil panenannya terganggu karena sawah terendam banjir.

”Dengan kondisi yang dialami para petani ini, saya berharap, ada pergerakan nyata dari pemerintah untuk memperhatikan seluruh aspek bagi para petani,” imbuhnya.

Bahkan, petani yang sering mengalami kerugian ketika sedang kebanjiran dan kekeringan, Ahmad menilai, hal itu disebabkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah.

”Kami sangat berharap, bukan minta ganti rugi, agar dilakukan sosialisasi tentang asuransi sawah kepada masyarakat. Jadi, kalau tiba-tiba gagal panen, petani tidak rugi-rugi banget, setidaknya ada modal untuk kembali bercocok tanam ketika cuaca sudah mendukung,” sarannya. (and)

Related Articles

Back to top button