BekasiBerita UtamaMetropolis

Belum Tersentuh Normalisasi

BUTUH NORMALISASI: Warga beraktivitas di aliran Kali Bekasi, Jalan M Hasibuan, Bekasi Selatan. Pendangkalan sungai terlihat ketika debit air menurun. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kali Bekasi seolah menjadi ancaman tersendiri bagi warga yang tinggal di sepanjang alirannya. Kali yang terbentang hingga wilayah Kabupaten Bekasi ini belum pernah dinormalisasi sejak 44 tahun silam.

Biaya besar proses normalisasi diduga menjadi alasan dibiarkannya Kali Bekasi mengalami pendangkalan hampir puluhan tahun.

Kali yang mengalir melewati Kota dan Kabupaten Bekasi ini, merupakan bagian hilir dari dua sungai yang mengalir dari dataran tinggi, yakni sungai Cileungsi dan Cikeas.

Tak ayal, ketika di wilayah hulu hujan lebat dan debit kedua sungai naik, maka Kali Bekasi bisa dipastikan tiga hingga empat jam berikutnya akan mengalami kenaikan debit air.

”Kali Bekasi itu yang saya inget tahun 75 (1975) atau 76 (1976) itu pernah dikuras. Setelah itu nggak pernah ada lagi,” kata Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi ketika ditemui dikantornya, Kamis (16/1).

Wali Kota yang akrab disapa Pepen ini menejelaskan, Kali Bekasi merupakan kewenangan dari Balai Besar Wilayah Sungai Cileungsi dan Cisadane (BBWSCC). Selama ini pemerintah Kota Bekasi telah memberikan masukan dan konsep yang harus dilakukan terhadap Kali Bekasi.

Diakui Pepen, selama ini pemerintah Kota Bekasi hanya menjaga kali ditengah keterbatasan. Pihaknya hanya bisa sebatas ikut memperbaiki tanggul Kali Bekasi.

”Karena kewenangannya juga BBWSCC apalagi pembiayaannya besar,” lanjut Rahmat.

Belakangan diketahui bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui BBWSCC telah mengalokasikan Rp4,6 Triliun untuk normalisasi sungai Ciliwung Cisadane, termasuk Kali Bekasi.

Hingga saat ini masih ada beberapa titik tanggul Kali Bekasi yang harus diperbaiki oleh pemerintah Kota Bekasi pascabanjir beberapa waktu lalu. (sur)

Close