BekasiBerita UtamaHukumKriminal

Bobol ATM Modus Langka

Gasak Uang tanpa Merugikan Nasabah

UNGKAP KASUS: Polisi menghadirkan 4 pelaku spesialis bobol ATM saat ungkap kasus di Mapolres Metro Bekasi Kota, Senin (27/1). Dari tangan tersangka polisi mengamankan sejumlah barang bukti sebanyak 15 kartu ATM, 2 unit mobil, 5 unit gawai dan alat bobol ATM lainya. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Empat dari lima pelaku pencurian uang di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) menggunakan modus langka, cara yang dilakukan kelimanya cukup unik, mereka beraksi tidak merugikan nasabah seperti biasanya.

 Aksi yang dilakukan kelimanya ini juga dinilai sulit terlacak oleh pihak perbankan, lantaran tidak bisa dilacak melalui riwayat transaksi dan tidak meninggalkan bekas kerusakan pada mesin ATM. Dalam sekali beraksi, komplotan spesialis ini bisa merogoh Rp5 juta dari mesin ATM di berbagai kota.

Sampai saat ini ke empatnya mengakui sudah melakukan aksinya di dua mesin ATM di Kota Bekasi. Selama lima bulan beraksi, diakui sudah beraksi puluhan kali di wilayah Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Bogor, Depok, Banten, hingga Jawa Tengah.

Dari lima pelaku yang tergabung dalam komplotannya, empat diantaranya diamankan oleh pihak kepolisian, mereka adalah Hapenas Saputra alias NAS (36), Hendri Sah Donal alias Junaedi (38), Hendra alias Cemen (34), dan Saipi Apriansyah alias Ipi (22), sementara satu diantaranya yakni Gen Resa hingga saat ini masih DPO. Mereka diamankan di rumah kontrakan di wilayah Cipendawa Bojong Menteng Rawalumbu.

”Kegiatan ini sudah berulang kali dilakukan, sudah sampai lima bulan melakukan. Aksinya mulai dari siang sampai dini hari, di lokasi-lokasi ATM yang memungkinkan melakukan aksinya, ditempat yang sepi, atau kurang pengawasan, atau pengamanan,” terang Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Wijanarko, Senin (27/1).

Pihaknya akan mendalami kasus ini kepada perbankan guna mengetahui kerugian yang diakibatkan oleh ke empat tersangka, tanpa transaksi dari nasabah perbankan yang bersangkutan. Butuh penelusuran dari pihak perbankan untuk mengetahui lebih detail, dengan cara menginventarisir kerugian yang tidak disertai transaksi dari nasabah.

Hasil dari operasi para tersangka dibagi rata, dalam melakukan aksinya, kelima pelaku membagi perannya masing-masing. Satu diantaranya berperan sebagai eksekutor, dua sebagai pengemudi kendaraan yang digunakan untuk melaksanakan aksinya, dua lainnya berperan sebagai pengawas.

”Memang pengambilan ATM kan ada batasnya ada yang  Rp5 juta dan Rp1,25 juta, tapi yang bisa diambil mungkin posisinya terbuka itu sampai Rp5 juta,” ungkapnya.

Dalam melancarkan aksinya, komplotan yang beraksi sebagai eksekutor masuk kedalam ATM dan melakukan transaksi. Saat uang hasil transaksi keluar, pelaku mengganjal mulut mesin ATM menggunakan plat besi, dalam keadaan mulut ATM keluar, pelaku melakukan transaksi kembali, saat uang keluar dan tertahan oleh pengganjal, pelaku kembali menarik uang dari dalam mesin ATM menggunakan kawat yang telah di modifikasi.

Diwaktu yang sama, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, AKBP Arman menjelaskan bahwa modus ini cukup langka, bahkan pihak perbankan tidak akan curiga dengan uang yang berada didalam ATM. Pasalnya, pelaku dalam beraksi tidak meninggalkan bekas kerusakan di mesin ATM, dan tidak ada yang mencurigakan baik dari nasabah yang dirugikan maupun transaksi yang tercatat didalam mesin ATM.

”Kalau biasanya kan nasabahnya yang dirugikan (mengganjal bagian ATM tempat memasukkan kartu), itu gampang, nasabahnya pasti laporan karena uangnya ilang. Kalau ini kan yang dirugikan pihak bank, dan bank itu tidak tau, di cocokkan transaksinya pas, tapi kok uangnya kurang, nggak ada yang rusak, seperti orang ambil uang biasa aja, dan mungkin bank nya tidak tahu kalau uangnya dicuri,” jelasnya.

Dari penangkapan para pelaku, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya 15 kartu ATM, 5 Handphone, 2 kendaraan roda empat, 2 mata gergaji besi, 3 kawat pengait, 3 obeng, dan 8 kawat galvanis.

Akibat perbuatannya, para pelaku dijerat pasal 363 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara. Sementara DPO masih dalam pencarian pihak kepolisian. (Sur)

Related Articles

Back to top button