Bekasi
Trending

Muharrom, Muslim Penjaga Kelenteng Boen Bio di Jalan Kapasan Ingin Mengabdi Seumur Hidup

MUDAHKAN JEMAAT: Muharrom mengecat tiang lonceng di Kelenteng Boen Bio. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tahun Baru Imlek merupakan momen istimewa bagi Muharrom, penjaga Kelenteng Boen Bio. Peristiwa tersebut jadi kesempatan pria beragama Islam itu untuk bersilaturahmi bersama teman-teman. Dia memasang lampion, mengecat kelenteng, dan menata altar agar umat Konghucu nyaman saat sembahyang.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

Ucapan salam mengalir dari jemaat Kelenteng Boen Bio setelah sembahyang. Satu per satu mengucapkan terima kasih kepada Muharrom. Beberapa jemaat berinisiatif mendekati pria berusia 40 tahun itu untuk mendoakan.

’’Mereka (jemaat, Red) sudah seperti saudara bagi saya. Kami saling tolong-menolong,’’ ujar Muharrom saat ditemui Jawa Pos di sela-sela peringatan Imlek pada Sabtu (25/1). Tepat pada perayaan hari besar tersebut, pria asal Tulungagung itu terlihat amat sibuk. Sejak pagi dia mondar-mandir menyiapkan peralatan sembahyang dan menyambut para tamu.

’’Yang itu namanya Pak Liem. Orangnya baik dan tinggal di Surabaya Barat,’’ ucap Muharrom sambil menunjuk ke arah salah seorang jemaat yang berdiri di pintu kelenteng. Dia mengatakan mengenal baik sosok tersebut. Mereka lantas bersalaman dan berpelukan. Senyum keduanya melebar setelah Muharrom mengucapkan selamat tahun baru.

Bagi Muharrom, Imlek merupakan hari yang berkesan. Banyak suka cita yang didapat. Terutama saat berkumpul dan bercanda bersama teman-temannya. Dia menyatakan bahagia melihat kegembiraan masyarakat keturunan Tionghoa.

Dia tidak peduli meski pekerjaannya juga bertambah banyak saat Imlek. Sebagai satu-satunya penjaga di Kelenteng Boen Bio, Muharrom harus memastikan prosesi sembahyang berjalan lancar dan aman. Dia juga harus berupaya keras menata kelenteng agar jemaat nyaman saat berkunjung.

Gara-gara menyiapkan acara tersebut, pria yang tinggal di Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, itu kurang tidur dalam sebulan terakhir. Banyak yang harus dipersiapkan untuk menyambut Imlek. Mulai mengecat dan menghias kelenteng, menata altar, sampai memasang ratusan lampion.

’’Yang paling sulit melakukan pengecatan. Banyak huruf Mandarin berukuran kecil yang perlu ketelatenan dalam mewarnainya,’’ ungkap Muharrom saat ditanya kesulitannya menata kelenteng. Menurut dia, pewarnaan ulang tidak bisa ngawur. Selain memiliki ciri khas yang sudah dipatenkan, Kelenteng Boen Bio merupakan cagar budaya golongan A yang tidak bisa diutak-atik.

Selain mengecat tulisan Mandarin, Muharrom disibukkan menyiapkan peralatan sembahyang. Mulai lilin, lampu, sampai buah-buahan. ’’Ada tiga buah yang harus ada di tempat persembahyangan. Yakni, apel, pir, dan jeruk,’’ tambah Muharrom.

Pria yang masih membujang tersebut menjelaskan bahwa penataan lilin untuk menerangi aktivitas sembahyang juga tidak boleh asal-asalan. Apalagi sampai terbalik. Lilin besar dan kecil sudah ada tempatnya masing-masing.

Jasa Muharrom terhadap kelancaran peribadatan di Kelenteng Boen Bio mendapat banyak pujian dari jemaat. Bukan hanya karena kepiawaiannya menata altar. Melainkan karena keyakinannya berbeda dengan para jemaat, yakni beragama Islam.

Banyak pengunjung kelenteng yang kaget setelah mengetahui latar belakangnya. Sebagian kagum dengan pengetahuannya tentang agama Konghucu. Meski tidak menganutnya, Muharrom paham betul dengan agama yang sudah diakui di Indonesia tersebut.

Bukan hanya tata cara peribadatan, Muharrom juga hafal sejarah dan nama-nama pejuang agama Konghucu. Beberapa nama sempat disebutkan. ’’Favorit saya tetap Gus Dur. Makanya, saya pajang fotonya yang mesem di tembok kelenteng,’’ ungkap Muharrom, lalu tertawa.

Dia menyatakan sudah 15 tahun bekerja di kelenteng tersebut. Banyak suka duka yang dialami. Saat awal-awal masuk tempat ibadah, dia sempat sulit menghafal nama orang-orang yang kerap mengunjungi kelenteng itu dan kini sudah menjadi temannya.

Sebab, sebagian rekannya memperkenalkan diri dengan nama Tionghoa. Misalnya, Liang, Liem, dan Quan. Perlu waktu bagi Muharrom untuk menghafalkannya. ’’Ilatku ilate wong Jowo. Kaku,’’ ungkapnya berbahasa Jawa.

Selain sulit menghafal nama, Muharrom mengaku pernah mendapatkan ujian lainnya. Kehadirannya pernah ditentang salah satu jemaat kelenteng. Ada yang protes kenapa pria beragama Islam dipercaya mengurusi altar agama orang Konghucu.

Kritik tersebut tidak main-main. Bahkan, jemaat itu sempat melaporkan kehadiran Muharrom ke Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) dan meminta pria yang hobi membaca tersebut diganti. Saat itu Matakin menyerahkan keputusan pada pengurus kelenteng.

’’Saya siap dicopot. Tapi, ternyata pengurus masih percaya pada saya,’’ kata Muharrom. Kepercayaan itu ingin dibalas. Dia ingin mengabdikan hidupnya untuk menjaga kelenteng. ’’Kalau bisa sampai akhir hayat,’’ paparnya.

Muharrom mengakui bahwa pekerjaan sebagai penjaga kelenteng awalnya diterima secara terpaksa. Sebelumnya, dia bekerja di tempat pengelasan besi-besi tua di wilayah Kenjeran. Karena tidak kuat, pria yang lahir pada 1980 itu memutuskan berhenti.

Setelah itu, muncul tawaran dari tetangganya untuk membersihkan kelenteng. Dia lantas jadi tukang bersih-bersih panggilan. Karena cocok, pengurus tempat ibadah menawarinya jadi pegawai tetap.

’’Perjanjiannya hanya bersih-bersih dan mengepel. Tidak untuk menata altar,’’ kata Muharrom. Seiring berjalannya waktu, dia merasa prihatin dengan para jemaat. Sebab, mereka harus menata dan menyiapkan peralatan sendiri sebelum beribadah. Muharrom lantas berinisiatif membantu menata altar. ’’Sekarang orang tinggal sembahyang. Tidak perlu membawa atau menata bunga, lilin, dan buah,’’ ungkap Muharrom.

Kini peran pria tamatan SMA itu cukup vital. Bukan saja sebagai penjaga Kelenteng. Muharrom juga merangkap sebagai pemandu wisata. Dia aktif melayani pertanyaan para pengunjung yang tertarik mempelajari Kelenteng Boen Bio. Kadang, Muharrom juga melayani mahasiswa atau dosen yang belajar perbandingan agama. ’’Kadang saya khawatir salah menjelaskan sejarah. Makanya, saya aktif membaca buku-buku tua di kelenteng,’’ ucapnya.

Muharrom menuturkan, yang bertugas memberikan pengarahan pada wisatawan sebenarnya pengurus. Hanya, sebagian besar pengurus sibuk. Para pengurus sulit stand by di kelenteng.

Memandu wisata tentu bukan tugas yang mudah. Ada puluhan benda peninggalan sejarah di Kelenteng Boen Bio. Sebagian besar merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda. Salah satunya lonceng tua yang sudah berumur ratusan tahun.

Menurut Muharrom, banyak wisatawan yang menanyakan lonceng tersebut. Mereka penasaran. ’’Selain lonceng, ada pertanyaan soal plakat emas yang kabarnya diberikan langsung oleh kaisar Tiongkok pada masa lalu,’’ papar Muharrom.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung justru membuat Muharrom tertantang. Dia mempelajari satu per satu sejarah benda-benda di kelenteng. ’’Saya berharap ke depannya ada museum khusus untuk menyimpan peninggalan zaman kolonial. Pasti banyak yang tertarik melihatnya,’’ tegas Muharrom.(*/c15/ady)

Tags
Close