BekasiBerita UtamaKesehatan
Trending

Orang Tua Waswas

Mahasiswa Asal Bekasi Terjebak di Wuhan

TERJEBAK DI WUHAN: Sujah (kanan), Unaizah (dua kiri) menunjukan video call-nya dengan anaknya Husnia yang terjebak di Wuhan Cina saat berada dikediamannya di Cikarang Utara Kabupaten Bekasi, Rabu (29/1). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI –  Sujah (63), warga Kampung Cikarang Jati, Desa Kali Jaya Cikarang Barat ini tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Pasalnya, anak bungsunya Husnia (23) saat ini tertahan di Kota Wuhan, China.

Si bungsu dari enam saudara ini merupakan Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Mahasiswa Jurusan Sastra Bahasa Mandarin tersebut mendapatkan beasiswa pendidikan selama enam bulan di Central China Normal University, Tiongkok.

”Awalnya saya tidak tau, tapi pas dari televisi ramai virus Corona, saya jadi khawatir dengan keselamatan anak saya di sana,” katanya kepada Radar Bekasi, kemarin.

Dia mengaku, setiap hari selalu menelpon anaknya melalui aplikasi Video Call untuk memastikan keselamatan anaknya. Dia juga meminta kepada pemerintah untuk mempercepat kepulangan anaknya ke Indonesia. ”Yang kami harapkan betul dorongan dari pemerintah untuk membantu kepulangan Husnia. Sebagai orang tua tentu sangat khawatir. Jadi kami harap segera dapat kejelasan,” katanya.

Sementara itu, kepada Radar Bekasi Husnia mengaku dalam keadaan sehat. Meskipun demikian, mahasiswi berjilbab ini mengaku khawatir dengan penyebaran virus tersebut. ”Kondisi psikologis memang tidak baik, namun secara fisik kami disini (Wuhan.red) baik-baik saja. Karena kan memang kami juga tidak tahu virus itu seperti apa. Jadi ada kekhawatiran,” katanya, saat dihubungi melalui sambungan video call, kepada Radar Bekasi.

Dia mengaku, saat ini bersama 90 mahasiswa lainnya masih tertahan salah satu asrama. Sebab kata dia, pemerintah setempat mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak dulu keluar rumah karena adanya virus Corona.

”Seharusnya saya sudah pulang ke tanah air tanggal 2 Februari 2020. Namun karena ada virus yang belum kami ketahui ini, operasional bandara belum berjalan maksimal. Beasiswanya sudah selesai. Tapi kan ada kebijakkan Pemerintah Tiongkok yang mengisolir semua pintu masuk dan keluar, termasuk bandara. Jadi kami memang tertahan di sini,” terangnya.

Secara keseluruhan, kata Husnia, Wuhan dalam kondisi baik-baik saja. Dia pun memastikan video yang memerlihatkan sejumlah orang bergeletakan di jalan itu tidak benar. Warga masih diperbolehkan keluar rumah meski situasi kota lebih sepi dari biasanya.

”Pemerintah di sini tidak melarang orang keluar tapi hanya mengimbau jika tidak ada keperluan yang penting lebih baik di dalam rumah saja. Secara umum tidak ada masalah. Saya juga sering bilang ke keluarga di rumah, saya enggak apa-apa, baik-baik saja,” ucap dia.

Namun demikian, penyebaran virus Corona membuat banyak toko tutup. Husnia mencatat, setidaknya hanya ada dua toko kebutuhan pokok yang masih buka. Kondisi itu membuat harga kebutuhan pokok melonjak hingga tiga kali lipat.

”Perbandingannya itu seperti sayur hijau, kubis atau kol harganya sekarang bisa sampai Rp 200.000. Bukan sekilo, tapi ya seikat. Biasanya Rp 50.000. Ini yang paling dirasakan. Karena kan bahan kebutuhan pun barangnya susah,” ucap dia.

Kondisi ini yang justru membuat Husnia beserta mahasiswa Indonesia lainnya kesulitan. Beberapa bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia cukup membantu meringankan. Mereka, kata Husnia, membantu kebutuhan pokok serta memberikan pendampingan mental.

Selain itu, KBRI pun memberikan bantuan dana untuk para mahasiswa. Namun, karena kebutuhan pokok yang melonjak itu, bantuan dana dirasa belum mencukupi. ”Maka kami di sini harus berhemat. Ada bantuan dari KBRI, dibagi ke setiap orang. Kalau dihitung paling cukup untuk satu minggu,” ucap Husnia.

Karena harus tinggal lebih lama ditambah harga kebutuhan yang melonjak, uang saku mereka pun mulai menipis. Selain kebutuhan pokok, dirinya bersama para mahasiswa lain kesulitan mendapat obat-obatan serta masker. ”Kami telah meminta ke KBRI, infonya perlengkapan obat-obatan akan dikirimkan juga. Termasuk masker yang amat kami butuhkan,” ujar dia.

Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja mengaku akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memulangkan warganya. ”Kami datang sebagai dukungan moril. Pemkab Bekasi pun akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat mengenai kondisi warga kita di Wuhan. Kami berupaya agar kalau bisa secepatnya bisa pulang,” katanya.

Sementara itu, ketua Ranting Perhimpunan Pelajar Indonesia Tingkok Cabang Wuhan (PPITW) Central China Normal University (CCNU) Muhammad Aris Ichwanto menyebut bahwa kondisi terkini 28 mahasiswa yang dikabarkan masih berada di Wuhan dalam kondisi sehat. Melalui sambungan telfon, ia membenarkan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) atau nama Husnia tersebut masuk dalam datanya. ”Oh dia masuknya UNESA, kalau kita tahu Husnia itu memang anak Bekasi, setahu kami itu anak UNESA,” terangnya, Rabu (29/1).

Sejauh ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tiongkok, lebih detail mengenai mahasiswa asal Bekasi lainnya, ia mengakui belum mengetahui. Pasalnya, ia hanya menginventarisir mahasiswa secara umum berasal dari Indonesia.

”Kalau teman-teman disana saya baru saja komunikasi, karena ada informasi baru kan, teman-teman masih sehat, aman, habis itu mereka logistiknya juga aman, terus kalau untuk tadi pagi juga kan ramai evakuasi itu kan, mereka seneng banget,” lanjut Aris.

Terpisah, Kantor Imigrasi Non-TPI II Bekasi mencatat keberadaan Warga Negara Asing (WNA) asal China sebanyak seribu lebih WNA tinggal di Bekasi untuk Bekerja. ”Pemegang ITAS (Izin Tinggal Terbatas) 1.669 orang, pemegang ITAP (Izin Tinggal Tetap) 16 orang,” kata kepala seksi teknologi informasi dan sarana informasi keimigrasian, Danis Paskah.

Ribuan orang tersebut secara berkala pulang dan pergi, seperti contoh kasus pada saat tahun baru Imlek beberapa waktu lalu, biasa WNA asal China ini pulang ke negaranya. Sejak ramai pemberitaan mengenai virus Corona ini, kantor Imigrasi Non-TPI II Bekasi belum memastikan ribuan orang tersebut diantaranya masih berada di wilayah Bekasi atau di luar wilayah Bekasi.

Untuk permohonan paspor, tidak diketahui secara terperinci kemana akan pergi WNI asal Bekasi yang mengajukan permohonan paspor. Pasalnya dalam pembuatan paspor tersebut, negara tujuan tidak masuk dalam pendataan, melainkan hanya dalam sesi wawancara untuk memastikan tujuan kepergian.

”Kalau itu tidak spesifik, jadi dia umum tidak disebutkan mau kemananya. Karena orang ke China itu kan liburan ya, jadi kita jarang menanyakan spesifik, itu bagian dari wawancara aja,” ungkap Kepala Kantor Imigrasi Non-TPI II Bekasi, Petrus Teguh Aprianto. (and/sur)

Related Articles

Back to top button