BekasiHiburan
Trending

Menyatu dengan Alam Bersama Wayang Serangga Damaikan Uret dan Gangsir sebelum Masa Tanam

KISAH MEMBUMI: Dalang Wayang Serangga Sih Agung Prasetyo mementaskan lakon Gangsir versus Uret di ladang masyarakat Dusun Sudimoro, Desa Baleagung, Magelang, Jateng, Rabu (22/1). (TAUFIQURRAHMAN/Jawa Pos)

RADARBEKASI.ID, BEKASI –  Di tangan dalang Sih Agung Prasetyo, wayang menjelma menjadi tokoh-tokoh fabel yang menghadirkan cerita sederhana. Singkat tapi sarat pesan yang membumi. Turut mengajarkan cara menjaga keseimbangan alam.

TAUFIQURRAHMAN, Magelang, Jawa Pos

NUN jauh di kedalaman tanah, di tlatah Palemahan. Adalah Gangsir (jangkrik besar) bersama kawan-kawannya beriap-riap di kedalaman tanah yang sudah gembur sehabis dicangkul petani. Sebentar lagi mereka berpesta pora karena musim tanam telah tiba.

Saat asyik bergerilya di relung-relung Palemahan, rombongan Gangsir dihadang sekelompok serangga lain, yakni Uret alias ulat tanah berkaki empat. Seperti para gangsir, para uret pun sedang bersukacita di relung-relung Palemahan karena musim tanam segera tiba.

Dalang dan pemilik pertunjukan Wayang Serangga, Sih Agung Prasetyo, 33, menggambarkan dialog pertemuan dua kelompok besar serangga tersebut.

”Kowe siapa?” bentak si ketua kelompok kawanan Gangsir.

”Aku Uret, kowe sapa?” jawab pemimpin ulat-ulat tanah dengan suara cempreng.

”Aku Gangsir. Ratu ing tlatah Palemahan!” jawab si jangkrik besar.

Gangsir dengan pongahnya menegaskan bahwa dirinya dan kawulanya adalah penguasa sejati tlatah Palemahan. Dengan begitu, sudah tidak perlu dijelaskan lagi bahwa Uret dan kawan-kawannya harus segera meninggalkan tempat itu karena musim tanam segera datang. Bangkai-bangkai organik yang tenggelam ke dalam tanah serta akar-akar tumbuhan yang sebentar lagi muncul adalah milik para gangsir.

Uret, tak senang dengan keangkuhan Gangsir, menyatakan diri bahwa mereka dan kawulanya yang paling berhak atas limpahan makanan di Palemahan. Semakin tegang, dua kelompok serangga itu pun terlibat pertempuran sengit. Keduanya saling sikut dan bergelut.

Saat pertempuran memanas, turunlah dari pucuk dedaunan, Ki Walang, sang belalang sembah. Sosok tua yang diliputi aura kewibawaan, dengan suaranya yang karismatis dia berteriak agar kedua pihak berhenti bertikai. ”O makhluk melata Uret dan Gangsir. Sesungguhnya kita semua ciptaan Tuhan yang diberi tugas masing-masing…” tuturnya.

Kisah tersebut tentu tidak benar-benar terjadi di dalam tanah. Tapi, di pinggiran ladang dekat sebuah dusun terpencil Sudimoro, Desa Baleagung, Grabag, Magelang, Jawa Tengah, pada Rabu (22/1). Sih Agung Prasetyo ndlosor di atas tanah gembur ladang dikelilingi anak-anak dusun dan para petani.

Sebagaimana layaknya pertunjukan wayang, Agung membuka dengan tembang pangkur, mengajak semuanya untuk mampir dan menyaksikan pertunjukan dan pesan yang akan disampaikannya.

Agung siang itu mementaskan lakon konflik antara Gangsir dan Uret.

Berbeda dengan gunungan wayang purwa yang memuat gunung, istana, hewan penjaga mitologis seperti naga, garuda, ataupun yaksha, gunungan wayang serangga milik Agung hanya terdiri atas puncak, belantara, dan sebuah kolam kecil di bawahnya. Di dalam kolam, hidup ikan-ikan dan hewan air. Di sekitarnya hewan-hewan berkerumun.

Agung dan wayang hewan bergerak dalam wadah komunitas kesenian rakyat yang bernama Kelompok Lima Gunung. Diambil dari daerah tempat tinggal mereka yang dikelilingi lima gunung (Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan Andong). Agung belajar dalang mulai 2005. Selain Wayang Serangga, Agung dan Komunitas Lima Gunung masih memiliki tema lain. Yakni, Wayang Samudera. Tokohnya bisa ditebak, yakni para penghuni lautan. Misalnya, ikan, kepiting, dan cumi-cumi.

Pementasannya pun selalu dilakukan sesuai dengan karakteristik keduanya. Wayang Serangga biasanya dipentaskan di sawah, ladang, dan perkebunan. Wayang Samudera biasanya dipentaskan di pinggir laut.

Namun, hal tersebut tidak pakem. Wayang Serangga dan Samudera kerap diundang dan dipentaskan di mana pun dengan tema yang bermacam-macam pula. Mulai motivasi pelajar sampai pendidikan seks.

Bahkan, karena tidak kondusif di pantai, Agung pernah berpentas di kolam renang sebuah hotel di Bali dengan badannya terendam air sampai dada. ”Tapi, cuma bertahan 20 menit. Saya kedinginan,” kenang Agung.

Tema Uret versus Gangsir diangkat beberapa minggu terakhir karena memang populasi uret sedang tinggi di ladang-ladang penduduk. Sekali cangkul, satu hingga tiga ekor uret nongol dari dalam tanah. Uret dan para kawanannya mengurai dan memakan semua unsur yang masih keras dan menyatukannya dalam tanah. ”Awal-awal bulan ini uret dan gangsir sedang aktif-aktifnya mengurai. Jadi, kalau tanah ditanami sekarang, akar-akarnya habis dimakan. Tanaman akan layu,” tutur Agung.

Itu juga yang menjadi inisiatif Ki Walang setelah berhasil mendamaikan dan menasihati Uret dan Gangsir. Ki Walang beralih kepada para petani yang juga menjadi penonton. Lagi, dengan suaranya yang bijaksana, dia memberikan nasihat kepada para petani.

”Mulo Uret dan Gangsir sedang beraktivitas dan berpesta di tanah, menanamnya dipun tunda dulu. Sampai tugas mereka untuk menguraikan unsur-unsur tanah selesai. Baru ditanam,” tutur Ki Walang.

Kemudian, datanglah Kismo, si pestisida. Dia menawarkan solusi cepat dan praktis. Para petani bisa menanam lebih cepat jika menggunakan pestisida. Semua hama tanaman langsung tandas dengan semprotan bahan kimia tersebut. Namun, Ki Walang segera menukas. Mengatakan bahwa tidak baik membunuh para gangsir dan uret. Keduanya bisa menjadi hama perusak kalau waktu tanamnya salah.

Namun, jika dibiarkan dahulu, keduanya justru bisa menjadi penyubur. ”Kalau pakai pestisida dan insektisida berlebihan, penguraiannya akan terlalu cepat. Konsekuensinya, semakin lama, tanah jadi semakin tidak subur. Karena itu, jangan memakai pestisida berlebihan. Nggih?” pesan Agung lewat suara Ki Walang. Dijawab nggih serentak oleh para petani.

Dengan damainya Uret dan Gangsir serta tertundanya kedatangan pasukan pestisida, kehidupan di tlatah Palemahan pun kembali normal dengan siklus yang ditentukan alam. Palemahan kembali makmur dan subur, siap melimpahkan anugerahnya untuk kesejahteraan petani.

Gunungan pun diangkat dan tembang pangkur kembali dinyanyikan Agung. Sawah lan pategalan, dipun uri-uri. Urip raharjaning bebrayan. Kabeh rahayu wilujeng mamayu hayuning bhumi. Ooo..(*/c7/ayi)

Tags
Close