Bekasi
Trending

Masih Bicara Bangsa di Saat Terakhir

Melepas Cendekiawan Muslim, Pejuang Ikhlas KH Salahuddin Wahid

PENGHORMATAN TERAKHIR: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Nyai Farida, istri almarhum Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, dan Gus Iqbal Billy Wahid saat jenazah Gus Sholah tiba di VIP Gate Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo kemarin (3/2). Tampak Kapolda Irjen Luki Hermawan, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Wisnoe Prasetja Boedi, dan Danpuspenerbal Laksma TNI Edwin turut mengangkat peti jenazah. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

RADARBEKASI.ID, BEKASI –  NU dan Muhammadiyah bisa berperan sebagai jangkar bagi Indonesia hanya bila keduanya tidak terlibat dalam politik kekuasaan atau politik kepartaian. Dua ormas tersebut harus tetap menjadi bagian dari masyarakat sipil. Masyarakat sipillah yang bisa melindungi rakyat terhadap kemungkinan praktik negatif dari kekuasaan. (Gus Sholah, dalam artikel Beda Tafsir Khitah NU di Jawa Pos, 18 Maret 2019)

ADI WIJAYA, Jombang – BAYU PUTRA-TAUFIQURAHMAN, Jakarta, Jawa Pos

Gerimis membasahi Jakarta kemarin pagi (3/2) mengiringi keberangkatan jenazah KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo melayat ke rumah duka di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. Jokowi yang tiba pukul 07.34 disambut putra pertama Gus Sholah, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau biasa disapa Ipang Wahid.

Presiden mengikuti salat Jenazah yang dipimpin imam besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar. Dilanjutkan pembacaan Yasin dan tahlil di depan jenazah. Selang beberapa menit, mantan Wapres Jusuf Kalla tiba dan bergabung bersama Jokowi.

Jokowi menyampaikan rasa kehilangan atas berpulangnya adik kandung Presiden Ke-4 KH Abdurrahman Wahid yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu. ”Beliau (Gus Sholah) adalah cendekiawan muslim yang menjadi panutan kita bersama dan tentu saja kita semuanya rakyat Indonesia sangat kehilangan atas berpulangnya beliau,” terangnya.

Pertemuan terakhir mereka yang terpublikasi terjadi pada 18 Desember lalu. Saat itu presiden berkunjung ke Ponpes Tebuireng, Jombang, sekaligus berziarah ke makam kakek Gus Sholah, KH Hasyim Asy’ari, dan ayahnya KH Wahid Hasyim, serta KH Abdurrahman Wahid. Presiden menyebutkan bahwa dirinya dan Gus Sholah bertemu di istana kepresidenan setelahnya. ”Intinya, beliau banyak menyampaikan mengenai keislaman, keindonesiaan,” lanjutnya.

Sebelum Jokowi, Wapres KH Ma’ruf Amin lebih dahulu datang melayat. Wapres tiba pukul 05.20. Dalam kunjungan selama 30 menit, Wapres yang mengenakan sarung dan serban langsung memimpin salat Jenazah.”Beliau melanjutkan perjuangan Gus Dur dalam merajut demokrasi dan kerukunan antar sesama,” kata KH Ma’ruf Amin.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang berkunjung pada dini hari mengungkapkan bahwa dirinya terakhir bertemu Gus Sholah di Pesantren Tebuireng pada 1 November 2019.

Cak Nun menggambarkan Gus Sholah dan Gus Dur seperti padi dan jagung. Padi tidak bisa digantikan jagung, demikian pun sebaliknya. ”Gus Sholah orang besar Gus Dur, fungsinya beda, peran beda. Gus Sholah sering melakukan pembaruan di pesantrennya sambil juga memikirkan kondisi bangsanya,” tutur Cak Nun.

Pukul 08.45, jenazah diberangkatkan ke bandara untuk diterbangkan ke Surabaya. Jenazah tiba di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, sekitar pukul 13.00. Para santri, ustad, dan pengurus ponpes terus-menerus menyerukan kalimat tahlil. Ribuan pelayat di pelataran khusyuk memanjatkan doa. Para kerabat dan keluarga dari berbagai daerah datang. Salah satunya, rombongan keluarga Nyai Farida Salahuddin, istri Gus Sholah, yang tiba pukul 12.00 dari Purworejo, Jawa Tengah. ”Beliau menjadi guru bagi semua keluarga,” ujar Yusuf Fikri, perwakilan keluarga.

Pria 63 tahun itu diberi tahu Aisyah, adik kandung Nyai Farida, bahwa kondisi Gus Sholah kritis pada Minggu petang (2/2). Malamnya, setelah salat Isya, Yusuf mengajak beberapa kerabat Purworejo menggelar doa bersama. Keluarga berharap kondisi Gus Sholah membaik.

Pukul 21.00, Yusuf mendapat kabar bahwa Gus Sholah meninggal. Pada saat itu juga, dia menghubungi seluruh keluarga. Ada 12 orang dari perwakilan 10 keluarga yang ingin bertakziah ke Tebuireng, Jombang. ”Saya sudah lama tidak berkomunikasi dengan beliau. Kami sangat kehilangan.”katanya.

Dua pekan lalu, KH Irfan Yusuf sempat berdialog dengan Gus Sholah. Putra KH Yusuf Hasyim itu mengatakan bahwa banyak hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut. ”Itu sebelum beliau menjalani operasi,” ungkapnya.

Ada dua hal penting yang menjadi pembahasan pertemuan itu. Yakni, terkait kondisi nasional serta organisasi Nahdlatul Ulama (NU). ”Beliau masih sempat memikirkan NU dan kondisi bangsa ini di hari-hari terakhirnya,” ungkap Gus Irfan.

Sejumlah tokoh terlihat di antara pelayat. Ada Mustasyar PB NU KH Mustofa Bisri, Ketua PW NU Jatim KH Marzuki Mustamar, dan Rais Syuriah PW NU Jatim KH Anwar Mansyur. Termasuk Ketua PP Muhammadiyah Prof Haidar Nasir. Rombongan keluarga Gus Dur juga datang. Beberapa pejabat negara dan tokoh nasional mendampingi jenazah sampai dimakamkan.

Di antara petakziah, ada pengacara Hotman Paris Hutapea. Dia mengaku menghentikan agendanya di Bali untuk mengikuti pemakaman sang kiai. Banyak kenangan yang diingat Hotman. Di antaranya, ketika dia diberi gelar Gus saat berkunjung ke Tebuireng tahun lalu. ”Gus Sholah memberikan gelar kepada saya, Gus. Sehingga nama saya menjadi Gus Hotman Paris Hutapea,” katanya.

Bagi Hotman, gelar Gus yang diberikan bukan gaya-gayaan. Hotman merasa memiliki tanggung jawab besar. Seorang Gus harus mau melayani sesama tanpa memandang status dan kedudukan sosial. ”Gus itu berarti melayani. Melayani rakyat. Itulah yang saya lakukan di Kopi Johny. Ribuan orang saya tolong dari ketidakadilan,” ucapnya.

Gus Sholah dimakamkan di dekat pusara KH Wahid Hasyim yang merupakan ayahnya. Lokasinya tepat di sebelah utara Kiai Wahid yang juga di sebelah barat pusara KH Abdurrahman Wahid dan Nyai Masruroh, istri KH Hasyim Asy’ari. Tempat itu memang disiapkan untuk Gus Sholah dan Nyai Farida.

Gubernur Khofifah mengungkapkan dukacitanya yang mendalam. Ada beberapa pesan yang selalu diingat. Salah satunya terkait pendidikan di Ponpes Tebuireng. ”Beliau juga bercerita tentang rumah baru yang ada di belakang itu. Kata beliau, Mbak Khofifah, rumah ini semakin dekat dengan rumah masa depan (makam, Red),” kata Khofifah, menirukan Gus Sholah.

Berusaha menahan tangis, air mata ketua Muslimat NU itu akhirnya jatuh menjelang akhir sambutannya. ”Panjenengan telah dipanggil Allah bersama hamba lain yang merupakan ahlul surga,” ucapnya.

Haidar Nasir bercerita pengalamannya saat konstelasi pemilihan presiden (pilpres) memanas tahun lalu. Gus Sholah, kata Haidar, mengajak untuk bersilaturahmi ke berbagai tokoh tanpa perlu koar-koar publikasi. Hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga persatuan bangsa. ”Beliau adalah sosok yang demokratis dan egaliter,” ungkapnya.

Sementara itu, KH Mustofa Bisri alias Gus Mus mengenang Gus Sholah sebagai pejuang muslim yang ikhlas. Apa yang dikatakan sejalan dengan yang dilakukan. ”Kita tidak perlu cemas karena beliau menyusul keluarganya yang lain yang juga pejuang,” paparnya.

Gus Mus menyebut NU telah kehilangan tokoh yang benar-benar ikhlas mencurahkan tenaga dan pikiran untuk umat. Sampai detik-detik terakhir, Gus Sholah memikirkan kondisi NU dan bangsa. ”Kita semua harus bisa menjadi santri yang mengikuti beliau, ikhlas menjadi pejuang di jalan Allah,” jelasnya.

Gus Sholah wafat pada usia 77 tahun. Menurut Ketua Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) Syahrudin H.M., anggota MPR pada masa reformasi 1998 itu mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.55 WIB di RS Harapan Kita, Jakarta. Sosok yang lahir di Jombang, 11 September 1942, tersebut masuk RS lagi setelah dirawat pada 14–15 Januari lalu di tempat yang sama untuk menjalani terapi ablasi jantung. Menurut Syahrudin, berdasar kabar terakhir yang diterimanya, Gus Sholah mengalami komplikasi. (mar/c7/ayi)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button