Bekasi
Trending

Kesulitan Translate Bahasa saat Minta Restu Calon Mertua

Kisah Cinta Banser Bekasi dengan Bule Jepang

TUNJUKAN FOTO: M Junaedi (27) menunjukan foto bersama calon istrinya di Tokyo saat ditemui di kediamanya di RT 04/RW06, Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi, Minggu (9/2). Junaedi akan segera menikahi perempuan asal negeri Matahari Terbit bernama Yoko Aisyah pada tanggal 28 Maret 2020. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Muhammad Junaedi (26), anggota Barisan Serbaguna (Banser) Kota Bekasi ini tidak pernah menyangka bisa jatuh cinta dengan Warga Negara Asing (WNA) asal Jepang Yoko Aisyah (33). Dalam waktu dekat keduanya akan melangsungkan pernikahan.

Laporan : Surya Bagus
BEKASI TIMUR

Tak kenal maka tak sayang, sudah kenal jadi saling sayang, begitu kiranya perumpamaan yang pas untuk pasangan sejoli ini, Muhammad Junaedi (26) warga Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi dengan Yoko Aisyah (33), WNA asal Kota Kawasaki, Provinsi Kagawa, Jepang. Keduanya menjalin cinta sejak saling mengenal, hingga Yoko memutuskan untuk memeluk agama Islam sejak Jumat (7/2) lalu, dan memutuskan untuk masuk ke jenjang pernikahan pada Maret mendatang.

Pertemuan calon pengantin ini berawal di salah satu apartemen di Kota Bekasi, saat itu Junaedi bekerja sebagai security apartemen, sedangkan Yoko Onoue, namanya sebelum diberi tambahan Aisyah oleh ketua Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU), Kyai Aqil Siroj, tinggal di apartemen tersebut.

Perkenalan keduanya diperantarai oleh token listrik, di apartemen tersebut penghuni tidak diperkenankan membeli token diluar. Sementara, Yoko baru pulang bekerja sebagai guru bahasa Jepang di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Kota Bekasi pukul 18:00 WIB sampai pukul 19:00 WIB, tempat membeli token tutup sekira pukul 17:00 WIB.

Akhirnya Yoko selalu titip untuk membeli token kepada Junaedi, mulai saat itu mereka berkomunikasi via pesan singkat. Setiap sepekan sekali Yoko mengisi ulang token listrik huniannya, dibeli menggunakan uang Junaedi, lalu diganti pada saat Yoko pulang mengajar. Yoko bekerja pada instansi Jepang Foundation, ia dikontrak selama tujuh bulan untuk mengajar di Indonesia.

”Di situ lah saya mengenal nama Yoko Aisyah itu, di apartemen itu kan nggak bisa beli token listrik di luar, jadi bisanya di situ. Si Yoko Aisyah nya ini kalau pulang jam 6, jam 7 malam, beli tokennya ini lewat saya. Disitu dia minta nomor hp saya, jadi saya tombok-tombokin, nanti diganti pas dia pulang. Mulai dari situ,” katanya saat dijumpai di rumah kontrakan di Jalan Mandor Benin RT 004/016, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Minggu (9/2).

Setelahnya, perasaan cinta tumbuh di hati Junaedi kepada wanita bermata sipit itu. Junaedi memperlihatkan foto kekasihnya kepada Radar Bekasi, terlihat Yoko memiliki perawakan khas orang Jepang, berkulit putih, bermata sipit, dan berambut panjang. Saat ini calon istrinya sedang berada di Palembang, Sumatera Selatan. Setelah kontraknya habis di Japan foundation, ia bekerja dibidang sosial, sayang Junaedi tidak mau menyebutkan instansinya, ini pesan dari Yoko.

Sejak intens berkomunikasi, Junaedi memberanikan diri untuk memberikan satu dua gombalan ampuhnya kepada Yoko, dengan harapan Yoko menerima sinyal yang ia berikan. Gayung bersambut, ternyata Yoko merespon, hubungan keduanya semakin dekat, perasaan cinta diutarakan oleh Anggota Banser tersebut. Namun, Yoko tidak lantas menerimanya, ia berpesan untuk memberikan jawaban pada saat dirinya kembali ke Jepang.

3 Maret 2019, Yoko kembali ke Jepang, 13 Maret keduanya resmi sebagai pasangan kekasih. Junaedi tidak bercanda, ia ditemani Yoko bertolak ke Jepang untuk meminta restu orang tua Yoko pertambahan tahun kemarin. Keduanya pun direstui, walaupun tidak mudah merebut hati calon mertuanya.

”Saya kemarin tahun 2019 bulan Agustus ke Jepang, minta restu orang tuanya. Disana saya tinggal di hotel, karena disana adat budayanya sama lah kaya kita (tidak boleh tinggal serumah). Di situ kita bertemu dengan orang tuanya di restoran, disitu banyak pertanyaan dari orang tuanya pakai bahasa Jepang, tapi saya nggak bisa bahasa Jepang, di tranlate sama si Yoko ini, jadi orang tuanya ngomong sama Yoko, saya ngomong sama Yoko, di translate,” lanjut Junaedi.

Dengan susah payah ia meyakinkan dan merebut hati orang tua Yoko. Selama menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang tua Yoko, Junaedi menajawab sejujurnya, walaupun dari setiap jawaban yang keluar dari mulutnya akan membuka keterbatasan dan kehidupannya. Tidak disangka, Orang tua Yoko tidak berat hati menerima Junaedi, meskipun dengan keadaan seadanya seperti yang disampaikan Junaedi, kedua calon mertuanya justru tertarik dengan kebaikan hati, kejujuran, dan niat tulus Junaedi.

Orang tua Yoko sudah menerima dengan baik, restu sudah dikantongi, tinggal Junaedi bergelut dengan perbedaan agama diantara keduanya. Entar ini sudah ditakdirkan atau bagaimana, seperti di film FTV, Yoko yang sudah sejak tahun 2007 tinggal di Indonesia dan banyak berinteraksi dengan lingkungan muslim, Yoko bersedia untuk memeluk agama Islam.

Awalnya, ayah Yoko sempat khawatir mengetahui Junaedi seorang muslim, karena anggapan miring tentang muslim yang selama ini didengar. Ia pun berusaha meyakinkan Islam Indonesia dan poin-poin penting ajarannya. Lega lah hati sang ayah.

”Dia agak khawatir karena di Indonesia itu agama Islamnya kan katanya ’radikal’, agak khawatir sedikit. Trus saya bilang bapak ibu jangan khawatir dengan gaji saya yang segini, insyaallah cukup dan saya akan usaha lebih keras lagi, dan di Indonesia dengan gaji segitu kan lumayan, juga ajaran Islam di Indonesia itu seperti apa. Bahkan saya ngagul (nekat memberikan jawaban), nyawa saya jadi taruhannya. Yoko langsung jelasin, terus pas lagi makan itu berhenti, awalnyakan ibunya kurang respon sama saya, setelah berhenti bapaknya nangis, ibunya nangis, Yoko nangis, saya juga ikut keluar air mata, ya intinya mereka merestui, dia bilang kamu baik dengan seusia kamu datang kesini sendiri untuk minta restu,” ungkapnya.

Saat bertolak ke Jepang, dengan kesederhanaannya, Junaedi membawakan oleh-oleh rengginang, kopiah, dan kerudung khas NU untuk orang tua Yoko, oleh-olehnya diterima dengan baik. Sisi lain, Junaedi meniatkan hatinya untuk bersyiar, syukur-syukur kedua orang tua Yoko ikut menyusul anaknya memeluk agama Islam, tidak pun tidak apa-apa katanya.

Ia mulai mengajarkan Yoko semua tentang Islam, doa, ibadah, hingga dua kalimat syahadat sudah diajarkan sejak awal mereka menjalin kasih sayang, tujuannya supaya tidak gugup pada saat dibimbing memeluk agama Islam. Kekasihnya belum mulai mengenakan kerudung saat ini, namun perlahan akan diajarkan dan dibiasakan.

Usahanya selama ini membuahkan hasil, token kini berubah menjadi cinta diantara keduanya. Mereka berdua sepakat untuk mengucap janji hidup bersama selamanya pada 28 Maret nanti, rencananya resepsi pernikahan akan berlangsung di rumah kontrakan sederhana milik Junaedi, orang tua Yoko sudah berkenan untuk hadir menyaksikan keduanya bahagia. (Sur)

 

Related Articles

Back to top button