BekasiPendidikan
Trending

Bertaruh Nasib, Ingin Tuntaskan Pendidikan hingga Sarjana

Kisah Udin (14) Si Pembuka Terpal Truk Sampah


BUKA TERPAL: Sanudin (14) siswa SMP Kelas IX Al Muhajirin yang meluangkan waktunya untuk mencari uang sehabis pulang sekolah dengan membuka terpal truk sampah. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sanudin (14) seharusnya belajar dengan tenang. Namun keterbatasan ekonomi harus membuatnya pintar-pintar membagi waktu dengan jadwal sekolah. Maklum, ia harus ikut membantu kakek dan neneknya memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Dibalik kegigihannya, ia juga memiliki tekad bisa menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Sarjana.

SURYA BAGUS

Bantargebang

Udin–sapaan akrab–pembuka terpal truk sampah di kawasan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang ini seharusnya membaca ulang pelajaran yang baru saja ia terima disekolah. Atau menyelesaikan pekerjaan rumah sekolahnya. Tidur siang seperti anak-anak lainnya.

Namun keadaan tidak mengizinkan Udin melakukan rutinitas sebagaimana anak seusianya. Sepulang sekolah, ia harus segera mengganti pakaian seragamnya, lalu pergi keatas gunungan sampah. Membantu kakek dan neneknya mengais sampah plastik dan botol air kemasan bekas di sana.

Beruntung, hari itu Udin libur. Tidak ada jadwal membuka terpal penutup truk sampah. Sehingga ia bisa mengikuti kegiatan belajar di salah satu sekolah swasta di sekitar TPST Bantargebang. Menjelang akhir jam belajar, Radar Bekasi berkesempatan mengintip mimik wajah Udin yang nampak serius menerima asupan materi pelajaran bersama puluhan temannya.

Tidak lama Radar Bekasi mengintip Udin dengan seksama, waktu berakhir jam pelajaran tiba. Puluhan siswa berhamburan meninggalkan sekolah. Udin bergegas pulang. Tidak banyak bicara, Udin mengizinkan Radar Bekasi untuk ikut bersamanya pulang.

Setelah menempuh perjalanan sekira 15 menit dari sekolah menggunakan kendaraan roda dua, kami tiba di bangunan semi permanen, berdiri dengan bahan bangunan seadanya. Hanya menggunakan kayu dan triplek, berukuran 3×3 meter. Di sini Udin bersama kakek dan neneknya tinggal. Keadaan sekitar membuat setiap yang melihatnya iba. Didepan gubuknya, digunakan untuk lapak mengumpulkan dan mengolah plastik dan botol air mineral bekas yang dipungut dari gunung sampah tidak jauh dari rumahnya.

”Orang tua sudah meninggal, dari umur lima tahun kebawa arus sungai, di Bumiayu,” katanya menceritakan keberadaan kedua orang tuanya.

Sejak kepergian orang tuanya, ia tinggal bersama kakek dan neneknya di Kota Bekasi. Sekira tahun 2010 silam. Udin mengajak Radar Bekasi untuk datang ke lokasi dimana setiap tiga hari dalam sepekan ia bekerja membantu keuangan kakek dan neneknya, membuka terpal truk sampah. Lokasinya 500 meter dari rumah, lebih dekat dibandingkan jarak antara rumah menuju ke sekolahnya sekira 1 km, ditempuh berjalan kaki.

Memperhatikan jarak antara sekolah dan tempat tinggalnya, tidak mungkin ditempuh dalam waktu singkat dengan berjalan kaki. Tidak heran jika Udin kerap membolos jika ia mendapat jadwal untuk membuka terpal, usai jam belajar sekira pukul 13.00. Sementara batas akhir datang ke lokasi membuka terpal truk pukul 12.00. Waktu tersebut pada saat istirahat salat disekolahnya. Tentu tidak hanya Udin yang berfikir sulit bahkan tidak mungkin, Radar Bekasi pun berfikir demikian.

”Kalau mau masuk itu harus tengah hari (jam 12), harus pas aplusan salat. Nggak boleh (lebih), makanya kalau sekolah nggak keburu,” jelasnya seraya melihat barisan truk untuk memperlihatkan bagaimana ia membuka terpal.

Langkah demi langkah kaki Udin naik keatas truk dengan ketinggian sekira 3 meter tanpa pengaman apapun, perasaan khawatir orang disekitarnya seirama, naik dan memuncak. Siapa sangka langkahnya amat cekatan dan piawai, seolah sudah hafal apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.

Setelah terpal berhasil dibuka, ia kembali turun, perbincangan kami berlanjut. Udin mengaku berat hati ketika harus memilih antara bekerja membantu perekonomian kakek dan neneknya atau pergi sekolah. Keputusan berat diambil, kerap ia membolos dan beralasan untuk tidak hadir disekolah, meskipun neneknya kerap memarahinya.

Semangatnya tinggi, banyak anak seusianya bahkan dibawah Udin yang sudah mulai bekerja membuka terpal, tentu mereka masih usia sekolah. Namun, Udin membuka tabir, mereka sudah tidak sekolah. Ia pun kerap diberikan saran untuk tidak sekolah dan memilih untuk fokus menopang perekonomian keluarganya, semua ocehan dibiarkan berlalu, tak ada yang dianggap serius oleh Udin. Tekadnya untuk menamatkan jenjang pendidikan menengah pertama sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat.

”Nggak sekolah buat kerja pernah, nggak kerja buat sekolah juga pernah. Pernah kepikiran mau kuliah, cuma gimana, kondisinya kaya gini,” ungkap siswa yang terlihat pendiam.

Dalam satu hari, ia bisa mengumpulkan uang hingga Rp90 ribu. Uang itu dikumpulkan Rp7 ribu hingga Rp8 ribu dari setiap truknya. Sesampainya dirumah, uang hasil jerih payah mengorbankan keselamatannya ia berikan kepada sang nenek, untuk keperluan sehari-hari, Udin cukup Rp10 ribu untuk bekal sekolah.

Pekerjaan beresiko ini sudah ia jalani sejak kelas 1 sekolah dasar. Berbagai cara untuk menjaga keselamatan ia perhatikan satu persatu, hingga siap untuk terjun.

Pekerjaan itu ternyata tidak begitu saja bersahabat dengan Udin. Kecelakaan kerja sempat ia alami dua kali. Pertama, wajahnya harus menerima benturan, memar dan menyakitkan. Kedua, pahanya harus terluka karena benturan dengan penyangga aki truk, kejadian ini sempat membuat Udin terpaksa beristirahat sejenak, lukanya cukup parah.

Lagi, keadaan tidak mengizinkan Udin untuk berdiam diri, keberaniannya mengalahkan ketakutan untuk tetap kembali membuka terpal truk, semua demi membantu kakek dan neneknya.

”Dimarahin sama nenek, kalau kerja katanya ati-ati. Ya (kerja) lagi, tetep maksa,” tukasnya tertunduk.

Udin berandai-andai mendapatkan fasilitas sekolah gratis untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang universitas. Udin sangat ingin untuk terus menimba ilmu, meskipun dengan segala keterbatasannya. Hati kecilnya, menyimpan keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Teknik Sepeda Motor (TSM) untuk memperbaiki nasibnya dan kedua orang yang sangat ia sayangi saat ini. (*)

Tags
Close