BekasiPendidikan
Trending

Baru Dibuka, Diminati Pendaftar di Jeddah

Lili Tergerak Membuat Sekolah Online Down Syndrome untuk Bantu Sesama

TERPANGGIL KARENA ANAK: Lili Musyafaah (dua dari kiri) bersama empat anggota tim Cyber School Down Syndrome QIS. (Hanaa Septiana/Jawa Pos)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Awalnya Muhammad Syauqi, anak Lili Musyafaah yang menyandang down syndrome, disembunyikan. Lili berusaha menutup-nutupinya. Namun, bocah 10 tahun itu justru melahirkan banyak inspirasi. Salah satunya menggagas cyber school untuk anak-anak penyandang down syndrome agar bisa belajar.

HANAA SEPTIANA, Jawa Pos

HARI masih pagi. Sekitar pukul 09.00. Namun, di sebuah ruangan di perumahan Pesona Alam Gunung Anyar, empat orang sibuk dengan laptop masing-masing. Itulah aktivitas yang terlihat di kantor Yayasan Quali International Surabaya (QIS). ’’Kami sedang meningkatkan kualitas website cyber school kami,’’ tutur Pimpinan Yayasan QIS Lili Musyafa’ah.

Ya, pada 2 Februari lalu QIS meluncurkan sekolah online atau cyber school. Itu merupakan pengembangan dari sekolah khusus penyandang down syndrome yang didirikan pada 2019 Ide tersebut sebenarnya muncul dua tahun lalu. Tepatnya saat Lili sering diundang menjadi pemateri bagi orang tua yang mempunyai anak penyandang down syndrome.

Mereka mengundang Lili karena dirasa mampu mendidik anak bungsunya, Muhammad Syauqi, yang kebetulan juga penyandang down syndrome. Melalui kurikulum bagi penderita down syndrome yang disusun sendiri bersama timnya. Lama-kelamaan, Lili merasa aktivitas menjadi pemateri di berbagai kota kurang efektif. Terlebih, waktunya terbatas.

Padahal, waktu yang dibutuhkan untuk mendidik anak down syndrome sangat panjang. Minimal 12 tahun. Bahkan bisa lebih dari itu jika orang tua menginginkan penyandang down syndrome bisa mandiri. ’’Kami jadi susah memantau perkembangannya. Padahal, kami ingin melihat mereka berhasil,’’ kata alumnus Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Dia pun mulai menyusun perencanaan. Kurikulum yang disusun sejak 2011 pun disempurnakan lagi. Pada awal 2018, dia mulai mendirikan sekolah khusus penyandang down syndrome di rumah yang kini ditempati. Yakni, Down Syndrome School Bina Anak.

Lili belum cukup puas dengan sekolah tersebut. Alasannya, sekolah hanya bisa menerima 10 murid setiap tahun. Sebab, tenaga pengajar dan tempatnya terbatas. Dia ingin jangkauan sekolahnya lebih luas. Termasuk bagi anak-anak down syndrome di luar kota. ’’Sesuai pengalaman saya sendiri. Selama bertahun-tahun malu dengan keadaan anak saya, tidak saya keluarkan dan saya tutupi. Saya yakin masih banyak orang tua yang seperti saya dulu,’’ ucap perempuan kelahiran Semarang itu.

Dengan berbagai alasan tersebut, Lili mulai meluruskan tekadnya. Dia ingin segera mengeksekusi ide barunya. Yakni, membuat cyber school yang di dalamnya berisi berbagai materi. Baik cara mengajar maupun mendidik untuk orang tua dan pengajar. Juga, materi bagi penyandang down syndrome.

Lili mengatakan bahwa langkah itu belum pernah ada di Indonesia. Dia hanya melihatnya di Australia. Itu pun tidak berbentuk cyber school. Hanya materi khusus. Nah, sejak setahun lalu dia merealisasikan keinginannya. Dia dibantu 15 orang. Berbagai bahan untuk website dikumpulkan. Baik berupa teks maupun video. Sebagian besar video juga diambil saat aktivitas sekolah down syndrome-nya berlangsung.

Awalnya, dia kebingungan untuk penataan di website. Khususnya masalah coding. Namun, persoalan tersebut tuntas. Lili kedatangan tiga mahasiswa sistem informasi Universitas Airlangga yang magang di sekolahnya. Mereka dengan tanggap menyelesaikan masalah tersebut. Dalam waktu kurang dari seminggu, masalah website selesai.

Situs dengan alamat www.dsqis.com disempurnakan lagi. Mulai desain, materi, video, hingga pendaftaran. Situs tersebut kemudian diluncurkan pada 2 Februari lalu. Tidak disangka, peminatnya bisa mencapai lebih dari 20 orang per hari. Pengunjungnya tercatat 500 orang per hari. ’’Yang pasti daftar sudah ada tiga orang, terjauh dari Jeddah, Saudi Arabia. Dia WNI yang tinggal di sana,’’ tutur perempuan 50 tahun itu. Dua pendaftar lainnya berasal dari Gresik dan Balikpapan. Sekitar 20 orang masih dalam tahap menanyakan detail sekolah tersebut.

Down Syndrome QIS Cyber School berisi berbagai materi yang terdiri atas 24 semester atau 12 tahun. Dalam materi tersebut, terdapat lebih dari 1.000 materi mengenai pendidikan bagi penyandang down syndrome. Sesuai usia mentalnya. Sebab, meski usianya sama, belum tentu usia mentalnya akan sama. Hal itu terjadi karena seberapa lama dan efektif pendidikannya sudah diberlakukan.

Materi dimulai dari usia persiapan, yakni dua tahun pertama sebelum memasuki usia sekolah. Misalnya, belajar berbicara, melatih fokus, dan lain-lain. Tahun ketiga hingga kesembilan merupakan usia sekolah. Mereka mulai diajari kemandirian. Misalnya, melakukan berbagai aktivitas tertentu, baik indoor maupun outdoor.

Tiga tahun terakhir adalah materi vokasional. Para siswa akan dibagi ke beberapa keahlian tertentu. Di antaranya, keahlian housekeeping, tata boga, dan tata rias. Pada tahun terakhir, mereka akan mengikuti magang. ’’Tujuannya kan agar mereka punya keterampilan, lantas bisa mandiri,’’ ucap ibu empat anak itu.

Tiap materi berisi berbagai informasi teks dan video. Baik cara mengajar maupun aktivitas yang telah dilakukan. Untuk memudahkan pengajarnya, di tiap semester ada ujian untuk menentukan kelulusan. ’’Di situlah saya bisa mengukur sejauh mana anak tersebut bisa mandiri meski saya dan tim jauh dari mereka,’’ tambahnya.

Rencananya, website tersebut terus disosialisasikan dan dikembangkan. Jika sudah mencapai 500 pendaftar, tim DS QIS Cyber School berencana membuat aplikasi yang bisa diunggah di smartphone. Baik Android maupun IOS. ’’Alhamdulillah ini sudah ada yang bantu bikin aplikasi juga,’’ paparnya.

Saat kali pertama menyusun kurikulum, Lili juga tidak akan melupakan jasa ketiga anak perempuannya. Yakni, Farah Nur Jihan, Sarah Hajar Aini, dan Ghina Sayyidatur Ramadhani. Hingga kini, mereka masih membantu Lili masuk ke tim. Juga, anak sulungnya, Muhammad Syauqi, yang menginspirasinya untuk membuat DS QIS berkembang seperti saat ini. ’’Tentu karena Syauqi saya bisa memberikan pengabdian seperti ini,’’ paparnya.

Kini Syauqi sudah berumur 10 tahun. Dia masuk tahun kedua dalam kurikulum yang Lili susun. Lili menyatakan, sudah banyak perubahan yang bisa dilihat sejak diterapkannya kurikulum tersebut.(*/c15/git)

Related Articles

Back to top button