Bekasi
Trending

Awal Cari Murid Dikira Cari Sumbangan

Tunanetra Pendiri SLB ABCD

AJARKAN PPKN: Tatang (kanan) bersama Ridwan, murdi yang juga tunanetra seperti dirinya, di ruang kelas SLB ABCD Caringin, Bandung. (ZALZILATUL HIKMIA/Jawa Pos)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Enam belas tahun terakhir hidup Tatang, 50, dibaktikan untuk mengurus anak difabel di SLB ABCD Caringin, Bandung. Bukan hanya tenaga, rumah miliknya juga telah dia berikan. Harapannya satu, anak-anak istimewa itu bisa mandiri.

ZALZILATUL HIKMIA, Bandung, Jawa Pos

SAMBIL menenteng laptop, Tatang masuk ke kelas Selasa siang (4/2) itu. Ruangan itu minimalis. Tak ada papan tulis. Hanya dua bangku dengan satu meja yang diatur berhadap-hadapan. Tatang mulai membuka laptop yang berukuran 14 inci itu. Jarinya meraba tombol power. Laptop tak langsung menyala. Banyak instruksi yang muncul melalui pengeras suara. Maklum, laptop jadul yang sudah tak lagi optimal.

Dengan hati-hati, dia kembali meraba tombol. Mencari-cari di atas keyboard, menghafal letaknya. Tatang seorang tunanetra. Dia butuh waktu untuk bisa menemukan tombol-tombol tersebut. Di tengah kesibukannya menyiapkan materi itu, ada Ridwan, 19, yang duduk di depannya lengkap dengan perangkat belajar.

Ada reglet (alat menulis huruf braille) dan stylus, lengkap dengan kertas. ”Hari ini kita belajar PPKN ya, Wan. Soal diplomasi. Ayo, siapa nama menteri luar negeri?” ujar Tatang, memulai pelajaran.

Ridwan terdiam. Alisnya mengerut, menyatu di tengah. Tampak berpikir keras, menggali ingatan. ”Ibu Retno,” jawab Ridwan kemudian. ”Retno siapa?” tanya Tatang. Lagi-lagi Ridwan terdiam. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi sambil sesekali mengusap kepala. ”Retno… Mar… Marsudi,” ucap Ridwan akhirnya.

Kegiatan belajar dan mengajar mereka memang sedikit berbeda dengan sekolah reguler. Semua bergantung pada laptop dan reglet. Tatang memutar materi melalui rekaman suara di laptopnya. Kemudian, dia menjelaskan satu per satu dengan bahasa yang mudah dimengerti. Setelah itu, dia menuntun siswa kelas XII SMA itu untuk menyalin materi ke buku dengan bantuan reglet. ”Kalau Selasa, saya mengajar kelas untuk anak tunanetra,” jelas Tatang.

Di antara 43 siswanya, 4 anak tunanetra, 5 lainnya tunawicara, 5 anak tunadaksa, dan sisanya tunagrahita. Semua dia perlakukan khusus sesuai dengan keistimewaan masing-masing. Kecuali saat pelajaran olahraga dan agama. ”Alhamdulillah, makin banyak muridnya. Dulu mah cuma lima,” sambung pria asli Bandung, Jawa Barat, tersebut.

Ingatannya melayang ke momen 16 tahun lalu. Tepatnya Mei 2003, awal dia mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD Caringin. Ide itu muncul setelah dia mengetahui bahwa banyak anak berkebutuhan khusus di daerah sekitar rumahnya. Mereka tak terurus. Bahkan, ada yang mengais tempat sampah kala itu.

Karena tak sampai hati, Tatang bersama Adhe, almarhum sang kakak, menggunakan satu petak rumah milik mereka untuk dialihfungsikan. Dijadikan sekolah sederhana untuk anak-anak itu. Keduanya tak ingin anak-anak tersebut mengalami apa yang mereka rasakan, yakni sulit mengakses pusat pendidikan bagi orang berkebutuhan khusus. ”Saya harus menempuh perjalanan jauh untuk belajar di SLB Pajajaran dulu. Belum lagi saat kuliah di Unpad,” tutur alumnus Jurusan Antropologi Universitas Padjadjaran tersebut.

Adhe juga menderita kebutaan. Dalam keluarga mereka, ada tiga anak yang mengalami kondisi itu. Padahal, orang tua mereka sehat. Tak ada riwayat kebutaan dari generasi sebelumnya.

Tatang tidak buta dari lahir. Kemampuan melihatnya masih 50 persen. Penglihatannya terenggut setelah matanya dioperasi ketika dia masih SMP. Bukannya sembuh, Tatang justru buta total. Dia sampai cuti sekolah selama setahun untuk bangkit dari keterpurukan. ”Makanya, kami tahu susahnya jadi orang berkebutuhan khusus. Kami ingin mereka juga mendapatkan hak-haknya,” tegasnya.

Sayang, niat baik tak selalu disambut baik. Adanya tempat tak berarti masalah selesai. Justru perjuangan lainnya dimulai. Tak ada orang tua yang mau mendaftarkan anaknya. Tatang dan Adhe harus mendatangi rumah para tetangga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Mereka merayu para orang tua tersebut agar mau menyekolahkan buah hati. ”Gratis. Kami yang ngajar,” katanya.

Alih-alih mendapat tanggapan positif, Tatang justru kerap diusir. Bahkan, tak jarang dia diberi uang supaya pergi. ”Mungkin dikira minta sumbangan, ya. Bawa kertas, buta, tiba-tiba datang,” kenangnya, lalu tertawa.

Namun, pria kelahiran 20 Juli 1969 itu tak putus asa. Esoknya dia kembali. Merayu para orang tua itu lagi. Dengan bermodal cerita suksesnya bersekolah hingga perguruan tinggi, suami Siti Aminah tersebut mulai berhasil meyakinkan mereka. Ada lima orang tua yang setuju untuk menyekolahkan anak di SLB Tatang. ”Saya juga bilang, mereka (anak-anak berkebutuhan khusus, Red) butuh ilmu dan keterampilan untuk bertahan hidup. Kalau bapak-ibu meninggal duluan, siapa yang akan menjaga mereka kalau tidak mereka sendiri?” paparnya.

Lima anak itu sama dengan Tatang, kehilangan kemampuan melihat. Menurut dia, mereka berpotensi karena memiliki kemampuan belajar yang tinggi. Anak-anak tersebut hanya memiliki keterbatasan untuk menulis dan membaca dengan cara biasa.

Satu per satu Tatang ajari menulis huruf braille. Perlahan tapi pasti, kelimanya menunjukkan perkembangan. Mereka lolos ujian kejar paket. Tatang juga mengajari mereka keterampilan lain seperti memijat dan bermain musik. ”Alhamdulillah, sekarang kelimanya sudah pada jadi orang. Ada yang jadi juragan jasa pijat malah,” ungkapnya.

Berhasil mencetak anak didik yang sukses membuat SLB ABCD jadi pilihan anak-anak berkebutuhan khusus di daerah itu. Bukan hanya tunanetra, tapi juga tunadaksa hingga tunagrahita. Apalagi, sekolah tersebut tak mematok bayaran khusus. ”Seikhlasnya saja,” kata Tatang.

Bapak Ginggi Maulana, 18, dan Reza Najwa Bilqis, 11, itu sadar betul bahwa dirinya butuh bantuan orang lain untuk mengembangkan sekolahnya. Apalagi setelah kakaknya wafat. Belum lagi, dibutuhkan ruangan yang lebih besar. ”Ya rumah saya satu lagi yang dipakai. Saya ngungsi ke tempat kakak,” tuturnya.

Dibutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan tambahan tenaga pengajar buat sekolah itu. ”Karena mengajar di SLB itu harus benar-benar dari hati. Mereka khusus. Beda dengan anak biasa,” ungkap fans berat Persib tersebut.

Bagaimana tidak, tak jarang di dalam kelas ada anak yang tiba-tiba buang air besar atau enggan belajar dan mengamuk. Dibutuhkan kesabaran ekstra. ”Tapi, alhamdulillah, sekarang sudah ada 13 guru. Lima PNS, lainnya honorer, termasuk saya, he he,” katanya.

Saat ini dia berupaya menambah fungsi sekolah. Dia ingin membangun asrama bagi anak-anak tunanetra. Menurut dia, asrama akan sangat berguna bagi mereka yang rumahnya terlalu jauh dari sekolah. Sejumlah pihak telah menyalurkan donasi untuk niat mulia tersebut.(*/c11/ayi)

Related Articles

Back to top button