Bekasi
Trending

Dipilih Perias Jenazah, Kosmetik Kedaluwarsa Jadi Bermanfaat

Joli Jolan, Tempat untuk Barang Tak Digunakan

AMBIL YANG DIBUTUHKAN: Septiana Setyaningrum (empat dari kiri) bersama anggota komunitas Joli Jolan di depan rumahnya yang jadi tempat menukar barang tak terpakai di Jalan Siwalan, Kerten, Kecamatan, Laweyan, Solo. (DAMIANUS BRAM/JAWA POS RADAR SOLO)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sering membeli barang karena dorongan impulsif? Setelah terbeli, barang tak terpakai. Atau baru sekali dua kali digunakan sudah bosan. Menjadikannya teronggok di lemari. Komunitas Joli Jolan memberi arti baru untuk barang semacam itu.

ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Jawa Pos

BAGIAN depan rumah Septiana Setyaningrum di Jalan Siwalan Nomor 1, Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Solo, itu sudah beralih fungsi. Masih untuk menerima tamu. Hanya, mayoritas tamunya tak dikenal.

Sejak akhir tahun lalu Septi (sapaan Septiana Setyaningrum) bersama rekan-rekannya membentuk Joli Jolan.

Itu adalah sebuah komunitas yang menyediakan tempat bagi siapa saja untuk memberikan barang-barang tak dipakai. Barang akan ditata dengan rapi dan siapa saja boleh mengambilnya. ”Rumahnya jadi kayak toko serba-ada,” kata Septi.

Sabtu (15/2) itu jam menunjukkan pukul 07.00. Septi dan sejumlah relawan sibuk menata displai barang yang terkumpul. Ada baju, celana, outer, aksesori, sepatu, perlengkapan rumah tangga, dan lainnya. Sebagian besar memang item fashion.

Bukan hanya barang bekas layak pakai yang ada di situ. Kalau jeli, Anda bisa menemukan item brand terkenal yang biasa dijual di mal. Sebagian labelnya masih menempel tanda barang tersebut masih baru dan belum pernah dipakai.

”Biasa to, namanya perempuan, kalau lihat ada barang diskon, pasti langsung comot. Mereka tidak memedulikan ukuran. Eh, pas sampai rumah, ternyata tidak cukup. Mau dibuang sayang,” ungkap Septi menjelaskan latar belakangnya mendirikan Joli Jolan yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai tukar-menukar.

Sekitar satu jam persiapan, pintu gerbang warna hijau rumah yang dibangun di atas tanah seluas 500 meter persegi itu dibuka. Satu per satu orang masuk. Mereka mulai asyik memilih barang yang dipajang.

Saat terpikat dengan salah satu baju, mereka akan menuju cermin seukuran orang dewasa yang diletakkan di salah satu sudut. Menempelkan baju tersebut di badan, mematut diri. Cocok tidak? Kadang, untuk melengkapi penampilan, mereka juga mencari aksesori yang sesuai dengan baju yang dipilih. Setelah barang yang dimau terkumpul, mereka menuju meja yang sudah disediakan.

Meja itu ibarat kasir. Namun, pengunjung tak perlu mengeluarkan uang untuk bisa membawa barang-barang yang dimau. Keunikannya, mereka tidak membayar benda yang diambil dengan uang, tapi menggantinya dengan barang layak pakai yang lain. ”Seperti barter. Padahal tidak. Karena antara barang yang diambil sering kali memiliki harga berbeda,” jelas Septi.

Di Joli Jolan sistemnya tukar barang. Barang yang sudah tidak dipakai bisa ditukarkan. Syaratnya, barang harus benar-benar layak pakai. ”Kalau baju, ya dicuci bersih dulu, baru dibawa ke sini. Karena nanti barang itu akan diambil pemilik yang baru,” paparnya.

Meski begitu, saat disortir, masih saja ditemukan barang tidak layak pakai. Kebanyakan adalah kosmetik. ”Kalau kosmetik yang sudah kedaluwarsa biasanya yang ngambil perias jenazah. Jadi, kami selalu usahakan barang yang disetorkan ke sini bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Septi menambahkan, ada juga yang datang hanya untuk mengambil tanpa memberikan barang. Dia memperbolehkan hal tersebut. ”Biasanya memang mereka belum memiliki barang untuk disumbangkan. Tapi, biasanya setelah itu mereka datang untuk memberikan barang yang dirasa layak,” terang dia.

Tantangannya adalah menghadapi pengunjung yang punya banyak keinginan. Tahu gratis, mereka jadi mengambil banyak barang. Untuk itu, Septi membuat aturan. ”Satu orang maksimal mengambil tiga barang. Khusus jaket, sepatu, blus, gamis, tas, mainan, celana jins, hanya boleh satu per orang. Tapi, banyak juga yang tahu diri. Jadi mengambil barang yang memang mereka perlukan,” imbuh Septi.

Meski baru sebulan berjalan, lanjut Septi, setiap pekan bisa ratusan orang yang datang untuk memberi atau mengambil barang. ”Ya, awalnya kami sebar brosur. Setelah itu getok tular infonya. Malah sekarang kami ada donatur tetap yang setiap minggu memberikan barang layak pakai,” jelasnya.

Septi menambahkan, ”toko” di rumahnya sementara ini hanya dibuka setiap Sabtu dan Minggu. Sebab, para pengelola, termasuk Septi, memiliki pekerjaan tetap yang tidak bisa ditinggalkan. ”Tapi, kadang ada pengelola pas hari biasa buka datang untuk nyortir barang,” ucapnya.

Meski ”tokonya” hanya buka dua hari dalam sepekan, penyumbang bisa memberikan barangnya kapan saja. Di warung depan rumah Septi ada kotak yang disiapkan. Sumbangan bisa dimasukkan ke dalam kotak. ”Nanti kami ambil untuk disortir,” katanya.

Di tembok gerbang rumah Septi ada pula kotak bekas mi instan. Di atasnya tertulis ”Dana Parkir Sukarela untuk Susu”. Pengunjung yang datang membawa kendaraan bisa memberikan uang seikhlasnya sebagai biaya parkir ke kotak itu. ”Uangnya dibelikan susu kemasan. Susunya untuk anak-anak yang datang ke tempat ini. Cuma-cuma,” ujarnya.

Langkah Septi dkk menginspirasi daerah lain untuk membuat gerakan serupa. Sudah ada dua komunitas di Kabupaten Sukoharjo dan Sragen yang berniat mewujudkan hal seperti itu. ”Ini yang dari Sragen masih tanya-tanya konsepnya seperti apa. Sedangkan yang Sukoharjo minggu depan kami nyetok barang ke mereka untuk permulaan,” ungkapnya. (*/c9/ayi)

Related Articles

Back to top button