BekasiBerita Utama

Kalimalang ’Telan’ Korban

Siswa SMAN 2 Tamsel Terseret Arus

BOCAH TENGGELAM: BPBD Kota Bekasi mencari bocah yang tenggelam di Kalimalang Unisma, Bekasi Timur, Jumat (21/2). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Berniat akan menolong rekannya yang tenggelam, namun justru dia yang menjadi korban derasnya arus kalimalang. Ya, nasib malang menimpa salah satu siswa kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMAN), 2 Tambun Selatan yang tenggelam usai menolong salah satu adik kelasnya. Peristiwa nahas tersebut terjadi saat anggota ekstra kulikuler dayung sekolahnya berlatih di Kalimalang, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Hingga Jumat malam, pencarian siswa bernama Fitra Rangga Nugraha (16) masih dilakukan oleh tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Babinsa, dan Pramuka Peduli. Keadaan arus Kalimalang yang diketahui deras di dasar kali membuat kali ini berbahaya untuk masyarakat sekitar, terutama bagi yang tidak piawai berenang. Kedalaman kali diperkirakan mencapai empat meter dari permukaan.

Rekan korban, Kania Salsabila (17) menjelaskan, saat tengah berlatih, salah satu adik kelasnya, Farhan (15) kehilangan keseimbangan saat mengendalikan perahu jenis kayak. Farhan jatuh dan kesulitan untuk kembali ke perahunya, atau menepi. ”Junior saya ini jalan kan, nah terus kondisi perahunya ini kaya goyang gitu, jadi makanya dia jatuh,” katanya seraya menangis di lokasi kejadian, Jumat (21/2).

Melihat adik kelasnya kesulitan untuk mencari tempat aman, korban lantas seketika menceburkan diri kedalam air guna menolong adik kelasnya. Nahas, Farhan berhasil selamat, sementara Fitra dinyatakan tenggelam.

Kania bersama sembilan temanya berlatih di Kalimalang sekira pukul 15.00. Sementara, Fitra dijelaskan menyusul tidak lama mereka tiba dilokasi untuk berlatih dayung.Fitra dipastikan tenggelam pada pukul 15.30, setelah berusaha menolong adik kelasnya. Korban tidak mengenakan alat pengaman atau pelampung saat terjun ke dalam air.

”Temannya selamat, korban dinyatakan tidak selamat, terbawa arus. Korban terkahir diketahui tidak menggunakan APD seperti pelampung. Informasi keterangan dari rekan-rekan yang ada korban ini tidak piawai dalam berenang,” terang Koordinator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Aditya Dwi Prabowo.

Pencarian dilakukan dengan mengerahkan perahu karet. Menjelang malam pencarian dilakukan melalui jalur darat untuk mencari keberadaan korban.

Pihaknya menyayangkan korban tidak mengenakan pelampung saat berada di sekitar lokasi kejadian. Disebut bahwa sesuai dengan standar operasional prosedur, 100 meter mendekati aura kali harus mengenakan alat pengaman diri. ”Sedang ekskul, ekskulnya itu tanpa ada pembimbing,” ungkapnya.

Sementara itu, orang tua korban yang datang ke lokasi tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ayah dan ibu korban hanya bisa menangis sambil menyaksikan tim gabungan mencari keberadaan anaknya.

Pembina ekstrakurikuler dayung SMAN 2 Tambun Selatan, Asep Antana mengakui bahwa dirinya belum berada di lokasi saat kejadian.”Tadi saya sedang diperjalanan, iya (siswa tiba dilokasi lebih dulu,” singkat Asep.

Ia menjelaskan secara singkat bahwa memang beberapa siswa yang beraktivitas di sekitar lokasi sore hari kemarin adalah siswanya, dalam kegiatan ekstrakurikuler. Mereka memang rutin berlatih di kawasan Bekasi Timur, setidaknya dua kali dalam satu bulan mereka berlatih dayung di lokasi.

Malam hari, pencarian hanya kembali dilakukan, namun hanya sampai pukul 21.00 dan menggunakan satu perahu, pencarian dihentikan dan dilanjutkan esok hari. (Sur)

Related Articles

Back to top button