BekasiBerita UtamaCikarang

Pemborong SMPN 3 Mangkir dari Panggilan Kejari

LANTAI SEKOLAH: Beginilah kondisi lantai keramik SMPN 3 Karang Bahagia yang sudah hancur. Padahal bangunan tersebut baru digunakan tujuh bulan di Kabupaten Bekasi, Jumat (21/2). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bekasi, sudah memanggil pemilik PT Ratu Anggun Pribumi, Rizka Afriani untuk diperiksa terkait dugaan tindak pidana korupsi pembangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Karang Bahagia, karena pengerjaan-nya tidak sesuai dengan spek atau Bill of Quantity (B/Q) yang telah ditentukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi.

”Kami sudah mengirim surat panggilan kepada perusahaan yang memenangkan tender proyek pembangunan SMPN 3 Karang Bahagia senilai Rp 13,2 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018 untuk diperiksa. Akan tetapi belum ada yang datang,” ujar Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi, Raden Rara Mahayu Dian Suryandari, usai memimpin Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Seksi Intelejen Kejari, Jumat (21/2).

Bahkan kata Rara, dirinya sudah menurunkan tim investigasi ke lapangan untuk melihat secara langsung bangunan SMPN 3 Karang Bahagia tersebut, sekaligus melakukan investigasi.

”Dari hasil investigasi sementara dan Pengumulan Bahan Keterangan (Pulbaket) yang sudah kami lakukan, kondisi bangunan sekolah itu memang keadaannya cukup memprihatinkan,” terang Rara.

Namun ketika Radar Bekasi berusaha meminta komentar dari pihak pemborong, yakni pemilik PT Ratu Anggun Pribumi, Rizka Afriani, hanya menjawab ”nanti aja”.

Sebelumnya diberitakan, Subdit Jatanras Dit Reskrimum Polda Metro Jaya yang sempat menangkap dan akhirnya memulangkan pemborong SPMN 3 Karang Bahagia, Kejari Kabupaten Bekasi, baru mulai memanggil dan memintai keterangan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

”Kami sudah memanggil dan memintai keterangan dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), dan konsultan pembangunan sekolah tersebut,” ucap Rara, Rabu (19/2).

Kata dia, dalam penyelidikan ditemukan ada penyalahgunaan wewenang, meski saat ini kondisi sekolah dalam proses perbaikan. Tapi jika ada potensi kerugian keuangan negara, maka pihaknya tidak akan menghilangkan pidana-nya.

Lanjut Rara, dirinya memastikan, dalam pengungkapan dugaan korupsi pembangunan SPMN 3 Karang Bahagia itu, sudah ada petugas kejaksaan yang turun untuk melihat kondisi bangunan sekolah.

”Saat ini masih proses penyelidikan pihak-pihak terkait, dan juga sudah ada pihak kami yang turun ke lapangan (SMPN 3) untuk melihat kondisi sekolah secara langsung,” tukasnya

Terpisah, Kepala Bidang Bangunan Negara Dinas PUPR, Benny Sugiarto Prawiro mengakui, apabila dirinya sudah dimintai keterangan oleh Kejari. Ia mengucapkan terima kasih atas masukan dari masyarakat yang turut melakukan pengawasan pada pembangunan SMPN 3 yang dinilai mungkin tidak sesuai aspek.

”Saya sangat menghargai dan respon terhadap masukan dari masyarakat, dalam hal ini kepada para mahasiswa yang sangat peduli terhadap pembangunan saran pendidikan, salah satu infrastruktur utama, yaitu gedung SMPN 3,” tukas Benny.

Saat ditanya, berapa jam diperiksa dan berapa pertanyaan dari Kejari? Benny enggan untuk menjawab.

Namun kata dia, adanya masukan dari masyarakat, itu menjadi perhatian pihaknya ketika melakukan pembangunan gedung sekolah serta bangunan lain-nya.

”Terjadi-nya kerusakan pada bangunan SMPN 3 itu, banyak faktor yang harus dilihat. Bisa jadi karena memang kesalahan proses pembangunan, faktor alam, dan bisa juga karena penggunaan bahan material-nya tidak sesuai,” tukas Benny.

Lanjut dia, masalah SMPN 3 Karang Bahagia ini, dahulu pernah menjadi temuan Badan Pemeriksaa Keuangan (BPK), dan adanya pengembalian uang kelebihan dari volume proyek tersebut.

Namun demikian, pihaknya pun menghargai bila kasus kerusakan bangunan ini kembali menjadi perhatian publik.

 ”Kami hargai proses hukum yang sedang ditangani Kejari. Tetapi namanya bangunan rusak, tidak hanya di SMPN 3 saja. Dan untuk perbaikan-nya ada mekanisme yang harus dilakukan melalui proses penganggaran di APBD,” pungkas Benny.

Bahkan pernah diberitakan, puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Bekasi yang tergabung dalam Aliansi Kampus Bekasi (Aksi) geruduk kantor Kejari Kabupaten Bekasi, untuk melaporkan dugaan korupsi proyek pembangunan SMPN 3 Karang Bahagia senilai Rp 13,2 miliar.

Salah satu anggota Aksi, Fahri menuturkan, pihaknya memberi waktu kepada pihak Kejari untuk menindaklanjuti laporan-nya selama 7×24 jam.

”Bangunan SMPN 3 ini terdiri tiga lantai, dan kondisinya sangat parah. Jadi, kami harap pihak Kejari bisa kerja cepat,” imbuh Fahri.

Adapun dokumen yang diserahkan kepada Kajari, yakni jumlah anggaran yang mencapai Rp 13 miliar, dan beberapa item bangunan yang sudah rusak, termasuk plafon ruang kelas, keramik mulai mengelupas, lapangan sekolah, kondisi toilet yang tidak sesuai, serta kusen pintu sudah rapuh.

”Intinya, beberapa bukti yang menurut kami ada dugaan pihak yang mengambil keuntungan untuk pribadi tanpa memikirkan fasilitas pendidikan. Hal ini bisa menjadi pertimbangan Kajari untuk bekerja cepat dan cerdas,” pinta Fahri.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bekasi, Iman Nugraha, mengaku jika pihaknya sudah melakukan perbaikan bangunan yang sudah rusak.

”Kami apresiasi kritikan yang dilakukan teman-teman mahasiswa untuk perbaikan sekolah dan infrastruktur di Kabupaten Bekasi,” ucap Iman, kemarin.

Ia menjelaskan, pembangunan sekolah tersebut menggunakan APBD tahun 2018 senilai Rp13,2 miliar, yang terdiri dari 22 ruang kelas baru, perpustakaan dan Musala serta kamar mandi/toilet, ruang kepala sekolah dan sekretariat.

”Dari Pagu Anggaran kami kurang lebih Rp15 miliar, dan buat pemenang lelang kurang sebesar Rp13,2 miliar. Untuk pembangunan tersebut sudah diperiksa Badan Pengawas Keuangan (BPK) tahun 2019, ada temuan sebesar Rp 232.098.800,- dan uangnya sudah dikembalikan,” terang Iman.

Adapun perbaikan SMPN 3 yang memiliki luas tanah 3.289 meter ini, diantaranya, plafon depan, keramik dinding depan, lantai keramik beberapa kelas, plafon beberapa kelas, paralon pembuangan, serta pintu.

”Kami akan bersikap kooperatif, dan hal ini merupakan sebagai kritikan untuk membangun,” janji Iman. (and)

Related Articles

Back to top button