Bekasi
Trending

Waswas Longsor Susulan

CEMAS LONGSOR SUSULAN: Warga mengamati rumahnya yang longsor akibat terbawa derasnya aliran Kali Bekasi pada Selasa (25/2) sore di RT 03/RW 02, Kelurahan Telukpucung, Bekasi Utara, Rabu (26/2). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah warga bantaran kali di wilayah RW 02, Kelurahan Telukpucung, Kecamatan Bekasi Utara, merawa was-was. Pasalnya, volume air Kali Bekasi yang kian tinggi, membuat tanah dinding kali longsor tergerus air. Hingga saat ini, lima rumah terkikis longsor, tanah di bagian bawah bangunan sudah hilang tergerus air.

Warga sekitar, Kamil Sofyan mengaku kondisi tanah di bantaran Kali Bekasi mulai parah sejak volume air naik pada awal tahun lalu. Tanah mulai tergerus sejak tahun 2007 lalu, diperparah pada tujuh tahun kemudian, yakni tahun 2014. Setidaknya ada 27 rumah rusak berat, tujuh diantara hilang terbawa arus.

Tahun ini, lima rumah tercatat terkikis longsor, warga sekitar khawatir jika longsor makin meluas. Total tanah di rumahnya yang dahulu tercatat 350 meter, saat ini ia tidak bisa memastikan berapa luas tanah huniannya saat ini.

”Itu ruang tamu (bagian rumah yang tanahnya hilang longsor), kalau masih bisa masuk saya ajak masuk,” terangnya saat dijumpai di lokasi, Rabu (26/2).

Kondisi bagian belakang rumahnya saat ini merupakan bibir sungai, sebelumnya masih ada beberapa rumah warga yang sudah hilang. Tahun 2017, menjelang bibir kali, terdapat bangunan kontrakan empat pintu, saat ini sudah hilang.

Sementara, tahun 2014 lalu, satu rumah di sampingnya sudah hilang badannya, tinggal tembok muka rumah saja yang tersisa. Nampak beberapa warga berusaha menahan tanah supaya tidak longsor menggunakan bambu. Meskipun, tidak terjamin kuat, setidaknya masyarakat sekitar berusaha menahan longsor jika air kembali naik.

”Pindah kan perlu duit, khawatir lah, makanya saya (sedang) buat pondasi (di samping rumah) untuk menjaga. Karena melihat (curah) hujan begitu besar,” lanjutnya.

Keterangan tertulis yang diterima oleh Radar Bekasi, hingga Rabu kemarin, total tercatat 90 titik banjir terdampak banjir. Bahkan, wilayah Dosen IKIP masih terendam hingga satu meter dibandingkan hari sebelumnya setinggi dua meter.

Sementara itu, tercatat lima lokasi longsor. Kelimanya ada di Tebing Kali Sunter, Perum Wahana Pondok Gede, RW 10 Jatiraden, perum Permata Kranggan, Kecamatan Pondokgede, dan RW 02, Kelurahan Telukpucung, Kecamatan Bekasi Utara.

”Jumlah lokasi longsor sebanyak 5 titik. Sebanyak 4 kejadian diantaranya dialami di wilayah kecamatan Jatisampurna menjadi yang terbanyak di Kota Bekasi,” terang Kabag Humas Pemkot Bekasi, Sajekti Rubiah melalui keterangan tertulis.

Korban jiwa pada bencana banjir kali ini tercatat empat orang, dua diantaranya di Wilayah Bekasi Barat, Yakni Faisal Amrih (25) dan Airil Amrih (15) lantaran terbawa arus saat banjir. Dua lainnya diketahui Faizin (51) tewas karena tersengat arus listrik, dan Muhammad Jamil (9) karena bermain di selokan.

Faisal dan Airil diketahui tenggelam terbawa arus banjir di Kali Cakung, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Bekasi Barat. Menurut keterangan ketua RW 02, Zulkarnain Irawan, keduanya sedang bermain di salah satu jembatan di belakang area perumahan Harapan Baru II bersama teman-temannya yang lain.

Pertama, korban atas nama Faisal Amrih terbawa arus terlebih dulu, kemudian Airil berusaha untuk menolong. Namun tidak berhasil, Airil ikut terbawa arus, kemudian di tolong dua rekan lainnya dan berhasil di evakuasi, sementara Faisal masih dalam pencarian.

”Kemarin sore (kejadian) mereka berenang itu, lagi tinggi-tingginya, kenceng-kencengnya air. Banyak, puluhan anak itu main, saya sudah marahin nggak denger,” terangnya.

Puluhan anak-anak yang bermain di area tersebut diketahui berasal dari perkampungan di wilayah sekitar. Sejak kejadian itu, anak-anak yang bermain di dekat aliran kali relatif sepi.

Di waktu yang lain, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi menyampaikan bahwa menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah mengatakan revitalisasi dilakukan dalam tiga tahun anggaran, dikerjakan mulai September mendatang.

Dana segar yang akan digelontorkan sebesar Rp4,5 triliun, di sejumlah wilayah yang telah didatangi, diantaranya vila Jatirasa dan PGP, diakui area Daerah Aliran Sungai (DAS) cukup mengkhawatirkan.

Pihaknya telah bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) untuk memetakan hal ini.

”Pak menteri (PUPR) sudah bilang ke saya waktu itu juga, ga bisa kaya orang makan cabe  langsung pedes. Dinormalisasi yang kalinya dangkal, keruk lumpurnya kita bawa ke hilir di Kabupaten Karena kita tidak ada tempat,” terangnya.

Tidak ada solusi jangka pendek yang bisa dilakukan untuk mencegah peningkatan debit air secara drastis di Kali Bekasi, lantaran faktor alam. Bahkan, 40 juta bibit pohon yang ditanam oleh presiden Jokowi di hulu, Bogor adalah solusi jangka panjang, dan diperkirakan baru bisa menangkap air 40 tahun kedepan. (Sur)

Related Articles

Back to top button