BekasiBerita UtamaMetropolis

Proyek Kereta Cepat Sumbang Banjir

Diduga Abaikan Amdal

DIKELUHKAN WARGA: Warga mengamati gorong-gorong yang ditutup sebagian oleh proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung di Kawasan Cikunir, Kota Bekasi, belum lama ini. Kondisi itu diduga jadi penyebab banjir di lokasi sekitar. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dari sederet faktor penyebab terjadinya banjir cukup parah dan berulang di Kota Bekasi, Proyek Strategis Nasional (PSN) diduga juga menjadi penyebab.

Diantara deretan PSN tersebut pekerjaan proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau yang saat ini disebut Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) menjadi sorotan, lantaran disebut tidak memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Hal ini diungkap oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum disela kunjungannya ke lokasi banjir Perumahan Bumi Nasio Indah, Jatiasih, Kota Bekasi, Kamis (27/2).

Beberapa faktor penyebab banjir terjadi di wilayah Kota Bekasi bahkan hingga empat kali disebut lantaran besarnya curah hujan, kiriman air dari hulu, tingginya permukaan tanggul kali yang ada dibandingkan dengan permukaan tanah di wilayah perumahan warga, dan PSN.

”Kedua juga adanya pembangunan berskala nasional. adanya KCIC, LRT, Becakayu dan lainya semuanya memiliki dampak, dan yang kami merasa prihatin, ternyata KCIC ini tidak ada Amdal-nya. Makanya Amdal belum ada, bangunan atau proyek sudah dimulai, ya berdampak seperti ini,” katanya.

Berdasarkan beberapa penyebab yang diungkap tersebut, penanganan banjir di wilayah Kota Bekasi tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak, melainkan bersamaan antara pemerintah pusat, provinsi, kota dan kabupaten, termasuk investor.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan Rp750 juta untuk korban banjir di wilayah Kota Bekasi. Pemkot Bekasi diminta untuk memanfaatkan dana ratusan juta tersebut semaksimal mungkin.

”Tinggal pemerintah Kota Bekasi membuat sebuah program, nanti kita bantu pemikiran dan yang lainnya mudah-mudahan setelah datang kesini ada progres dan minimal meminimalisir banjir yang ada di wilayah Kota Bekasi,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto menyebut bahwa sederet kebutuhan warga korban banjir saat ini diantaranya pengangkutan lumpur, sampah, barang-barang yang rusak, hingga kebutuhan kesehatan masyarakat. Bantuan untuk korban meninggal akan diatur melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota Bekasi, seperti penanganan beberapa waktu lalu.

Hingga hari Kamis kemarin, disebutkan masih ada beberapa wilayah yang tergenang air.

Terkait dengan PSN yang disebut menyebabkan banjir, diakui PSN yang dibangun melintas Kota Bekasi memiliki kontribusi terhadap bencana banjir. Pergerakan pembangunan ini belum bisa mengantisipasi pembangunan infrastruktur lainnya.

”Ini adalah bagian dari dinamisasi, ya bagaimana kecepatan pembangunan belum bisa mengantisipasi terkait dengan percepatan infrastruktur baik itu pembangunan yang ada,” terangnya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi, PT KCIC belum memberikan jawaban terkait dengan Amdal dan dampak pembangunan trase yang melintas di wilayah Kota Bekasi.

Sebelumnya, Warga perumahan Pondok Cikunir Indah RT 014, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi kecewa lantaran gorong-gorong tidak jauh dari perumahan mereka disumbat beton pekerjaan proyek.

Warga menduga proyek yang berjalan tidak jauh dari jalan tol simpang Cikunir tersebut merupakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang dahulu bernama Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Warga menjelaskan bahwa tiga lubang gorong-gorong yang berada tidak jauh dari jalan tol km 9 tersebut ditutup hampir separuhnya. Akibatnya air tidak mengalir dengan leluasa.

Tepat memasuki tahun 2020 lalu, perumahan yang diakui selama tiga puluh tahun tidak pernah banjir, kali ini diterjang banjir hingga sepinggang orang dewasa.

Warga mengaku resah, meskipun beton sudah diangkat, namun mereka meminta kepada pemerintah kota maupun pihak proyek supaya gorong-gorong tidak ditutup kembali.

”Persoalannya karena ada penyumbatan akibat proyek KCI. KCI ini, tanpa ada koordinasi dengan warga disini, entah dari pihak pemerintah kota mungkin juga tidak ada izin-izin seperti itu dia tutup langsung, penutupan ini yang tidak diketahui,” jelas ketua RT setempat, Abdul Azis.

Dia menjelaskan bahwa sejak bulan Agustus tahun lalu, ia sudah mulai curiga air kali yang mengalir tepat disebelah komplek perumahan mereka berubah menjadi hijau, pertanda air tidak mengalir. (sur)

Related Articles

Back to top button