BekasiBerita Utama
Trending

Warga Dihantui Longsor Susulan

Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

LONGSOR: Alat berat membersihkan bahan material yang tertimbun longsor di Perumahan Permata Kranggan, Jatisampurna, Kota Bekasi, Minggu (1/3). Tebing setinggi 13 meter lebih itu longsor saat hujan deras pada Selasa (25/2) pagi. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga perumahan Permata Kranggan Cibubur (PKC), merasa was-was jika hujan mengguyur wilayah Kelurahan Jatisampurna, Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi. Pasalnya, jika diguyur hujan intensitas tinggi maka tebing di perumahan dikhawatirkan longsor kembali.

Sejak longsor yang terjadi pada 25 Februari lalu, hingga belum ada bantuan dari pemerintah Kota Bekasi. Secara swadaya, warga menyewa alat berat dan truk untuk membenahi bekas longsoran tebing setinggi 13 meter tersebut. Warga pun harus merogoh kocek puluhan juta rupiah.

Akibat kejadian ini, satu mobil milik warga yang diparkir dibawah tebing tertimbun tanah. Belum cukup, dua rumah warga dibawahnya juga terdampak, tembok dan pagar rumah hancur, satu orang berhasil selamat dari peristiwa tersebut.

”Sekitar jam 6:25 saya mau ambil mobil antar istri. Belum sempat naik mobil itu tanah bergerak sendiri, terus keangkat dia tanahnya lalu longsor,” kata salah satu warga yang berhasil selamat dari kejadian tersebut, Setyo (37).

Seketika Setyo melihat tanah tebing bergerak, ia bergegas menjauh sekira 3 meter dari tempat sebelumnya berdiri. Seketika tebing bagian bawah terangkat dan tanah terdorong ke arah rumah warga memporak-porandakan dua rumah dan satu mobil miliknya, ia hanya bisa terdiam, tak menyangka akan terjadi hal ini.

Ia dan beberapa warga serta pengurus RW 19 terpaksa tidak masuk kerja selama enam hari sejak longsor terjadi untuk berjaga. Total sekira 50 meter tebing di sekitarnya disebut berpotensi longsor melihat kontur tebing yang sudah tidak menjamin keamanan, ditambah beban bangunan diatas tebing. Padahal tanah diatasnya merupakan fasos-fasum.

Tepat ditepi tebing yang sudah longsor, terdapat bangunan sekretariat posyandu, dan telah dibongkar atas permintaan warga yang tinggal dibawah tebing. ”Kerugian saya kurang lebih sekitar Rp35 jutaan,” tandasnya.

Warga sekitar berinisiatif untuk membentur satgas penanggulangan bencana di wilayah perumahan. Banyaknya bangunan yang berdiri diatas tebing dinilai menjadi penyebab potensi kerawanan longsor menjadi besar.

”Kita mohon dari Pemda untuk melakukan tindakan secepatnya, karena kalau terjadi longsor lagi, kan biayanya besar lagi, nanti kan bebannya di kita lagi,” terang ketua Satgas tanggap darurat bencana, Bremi Palguna.

Total biaya swadaya warga yang sudah dikeluarkan untuk menyewa alat berat dan truk mencapai Rp50 juta, batas sewa alat berat berakhir malam kemarin. Saat ini, warga mengaku persediaan biaya untuk melanjutkan pekerjaan menyingkirkan dan merapihkan tanah yang longsor sudah terbatas.

Ketinggian tebing sebelumnya disebut 13 meter, panjang tebing yang longsor sekira 15 meter. Warga secara bergantian berjaga di posko bencana yang berada tidak jauh dari lokasi longsor.

Pihaknya telah mengadukan peristiwa ini kepada pemerintah setempat mulai dari tingkat Kelurahan sampai Kecamatan, bahkan beko berukuran kecil yang datang dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) diakui datang setelah pihaknya mengadukan kejadian ini kepada salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi.

Di waktu yang berbeda, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto menyampaikan bahwa dirinya akan datang dan melihat lokasi sekitar hari ini. ”Insyaallah hari Senin ya,” singkatnya tanggap setelah dihubungi oleh Radar Bekasi.

Beko yang dikerahkan oleh DBMSDA disebut oleh warga sekitar terlalu kecil, sehingga tidak bisa mengatasi dampak longsor. Belum ada sentuhan berarti dari pemerintah Kota Bekasi.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Kota Bekasi, Zainal Abidinsyah mengklaim penanganan telah dilakukan di lokasi sejak satu hari setelah kejadian menggunakan Beko. Saat ditanya pihaknya akan mengerahkan Beko berukuran besar atau tidak, Zainal belum memberikan jawaban lebih lanjut.

”Panjang kurang lebih 15 meter, tinggi kurang lebih 8 meter. Kejadian hari Selasa, mulai ditangani hari Rabu sampai dengan sekarang,” katanya setelah beberapa kali coba dihubungi.

Komisi II DPRD Kota Bekasi meminta dinas terkait untuk tanggap terhadap sederet bencana yang terjadi, diantaranya pada sisi penanganan dan antisipasi.

Dinas terkait dalam hal ini dinilai lamban, keterbatasan keuangan diminta tidak menjadi alasan untuk tidak tanggap dalam melakukan penanganan di wilayah terdampak bencana. Terlebih, jika harus menunggu jatuh korban jiwa baru ditangani secara cepat.

”Jangan jadi alasan tak ada dana, atau sampai korban harus ada baru mau bantu. BMSDA Mandul,” terang ketua Komisi II DPRD kota Bekasi, Arief Rahman Hakim.

Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi berulang kali dengan dinas terkait seputar antisipasi dan penanganan bencana yang terjadi di Kota Bekasi.

Pemerintah Kecamatan sudah turun sejak satu hari setelah kejadian, saat ini akan dibuatkan nota dinas kepada Wali Kota Bekasi guna mendapatkan penanganan secara tetap, beberapa bangunan disekitar juga telah dibongkar supaya tidak membahayakan.

”Sudah kita bongkar dua bangunan, malah sekretariat RW kita bongkar, ada sekretariat RW, paguyuban, sama warung,” terang Camat Jatisampurna, Wahyudin.

Terdapat dua titik longsor di wilayahnya, satu titik lainnya tidak terlalu parah, hanya sepanjang tiga sampai empat meter saja, namun mengkhawatirkan lantaran ada bangunan yang berdiri tepat diatas tebing.

Bantuan sementara dari Kecamatan sudah diberikan secara manual, berupa tenaga untuk membersihkan pohon yang ikut tergerus longsor. Selain itu dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga sudah turun ke lapangan untuk membantu mengangkut sampah pohon yang rubuh. (Sur)

Related Articles

Back to top button