Bekasi
Trending

Warga Sukawangi Krisis Air Bersih

Warga menunjukkan layanan air yang mati di kediamannya di Desa Sukawangi, Minggu (1/3). IST/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ratusan warga Kampung Kalen-Keramat, Desa Sukawangi, kesulitan mendapatkan air bersih. Hal itu disebabkan karena layanan PAM yang ada di kampung tersebut terhenti sejak dua Minggu yang lalu.

Warga setempat, Rohani menuturkan, selama dua pekan setelah air PAM mati setiap hari dirinya harus mengambil air di sumur galian tanah. Menurutnya, setiap pagi dan sore dirinya harus berbalik-balik mengambil air ke sumur tanah yang jaraknya puluhan meter dari rumahnya dengan menggunakan ember.

”Bagusnya masih ada air di sumur tanah, jadi masih bisa dapat air. Tapi ngambil airnya capek setiap pagi dan sore harus berbalik-balik ngambil air. Soalnya buat nyuci piring, pakaian, dan mandi. Ini sudah dua minggu,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Minggu (1/3).

Dia mengatakan, sampai sekarang belum ada kepastian layanan air akan kembali beroperasi. Rohani menyayangkan hal ini. Padahal, dia rutin membayar tagihan ke pengurus air.

”Tagihan setiap bulannya tidak menentu, karena tergantung pemakaian air, setiap bulan ada yang nagihin (menagih,red) ke rumah, kalau saya paling mahal tagihan Rp50 ribu. Saya berharap bisa segera diperbaiki,” tuturnya.

Senada, Putri Dwi Apriliani (21) mengatakan, beberapa hari ini harus menggunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari setelah layanan air tidak berfungsi. Setiap hujan kata dia, harus mengambil air hujan menggunakan bak.

”Buat sekarang benar-benar kesulitan air. Bahkan karena tidak ada air terpaksa menggunakan air hujan,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Toko Pemuda Kampung Kalen-Keramat, Mirta Sutiarja mendesak pemerintah desa untuk mengatasi hal ini. ”Jangan dibiarkan begini terus, mau sampai kapan warga kesulitan mendapatkan air. Intinya harus ada pertanggungjawaban secepatnya, karena setiap bulan warga rutin membayar tagihan air,” ujarnya.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Desa Sukawangi, Sekam Asmawi menjelaskan, sejauh ini dirinya sudah memanggil dua orang pengurus air PAM tersebut untuk meminta penjelasan mengenai kondisi air yang mati. Menurutnya, hal itu disebabkan karena terjadinya kerusakan.

”Jadi gini, kemarin pengurus PAM tersebut saya panggil. Dari awal dia (pengurus) saya percaya untuk menangani PAM tersebut sampai ke penagihan. Tapi sampai satu tahun ini tidak pernah ada laporan tagihannya dapat berapa setiap bulan. Kemudian sekarang saat rusak baru bilang saya,” ujarnya.

Dalam pertemuan dengan pengurus PAM tersebut, dirinya mempertanyakan tanggung jawab mereka sebagai pengurus. Dia memaparkan, misalkan dihitung kecilnya tagihan satu bulan dapat Rp 1 juta. Berarti satu tahun Rp 12 juta.

Sedangkan warga yang memasang layanan ini ada 110 rumah. Sehingga hal yang wajar, apabila dirinya mempertanyakan itu.

”Duitnya dikemanain?. Sekarang mesin rusak masa iya enggak ada buat servis atau ganti. Kemarin dia (pengurus) bilang banyak yang enggak pada setor (bayar). Kalau memang ada warga yang enggak mau bayar saya mau lihat rinciannya mana. Sampai sekarang enggak dikasih rinciannya,” tuturnya.

Dia belum dapat memastikan kapan layanan air untuk warganya akan kembali normal. ”Saya minta pertanggungjawaban dia (pengurus). Saya enggak tahu kapan diperbaikinya. Nanti saya panggil lagi pengurusnya. Saya enggak tahu kerusakannya dimana. Katanya cuma rusak doang. Kagak ada laporan rusaknya di mana,” ucapnya.(pra)

Related Articles

Back to top button