BekasiBerita Utama
Trending

Ramai-Ramai Konsumsi Jamu

HARGA MEROKET : Pedagang merapihkan jahe dan umbi umbian lainya di Pasar Baru, Bekasi Timur, Rabu (4/3). Dengan hebohnya virus corona harga jahe merah meroket naik dari harga Rp 45 ribu menjadi Rp.60 ribu perkilogramnya. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Fakta lain tersaji ditengah informasi mengejutkan tentang dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang beberapa waktu lalu dinyatakan positif Covid-19. Masyarakat Bekasi ramai-ramai mengkonsumsi jamu tradisional. Itu dibuktikan dengan membludaknya pembeli rempah-rempah di Pasar Baru, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Pilihan masyarakat akan obat modern seolah-olah berubah kepada konsumsi jamu tradisional. Berawal dari informasi penemuan guru besar Universitas Airlangga atas obat atau penangkal Covid-19.

Hasil risetnya, sari rempah-rempah atau Curcuma asli Indonesia dipercaya dapat menangkal virus Corona. Rempah-rempah tersebut disebut seperti Jahe, Kunyit, dan Temulawak.

Persediaan Jahe, Kunyit, dan Temulawak di pasaran pun semakin langka, sama halnya seperti masker. Jika pun ada, harganya melambung tinggi. Di Pasar Baru, Bekasi Timur, pedagang mengaku kebanjiran pembeli dalam dua hari kemarin. Harga rempah-rempah juga membumbung tinggi, bahkan lebih dari 50 persen dari harga sebelumnya.

Temulawak yang biasanya dijual Rp15 ribu per kg, saat ini dijual hingga Rp50 ribu per kg-nya, jahe merah dan jahe emprit yang biasa dijual Rp45 ribu saat ini dipatok dengan harga Rp60 ribu per kg. Bukan memanfaatkan keadaan, diakui oleh sejumlah pedagang, persediaan di pasar induk sudah terbatas dan mahal. ”Masih normal kemarin pagi (Selasa), nah pas sore baru langsung meningkat harganya,” terang salah satu pedagang, Poni (57).

Untuk berbelanja di pasar induk pun, ia mengaku mulai Selasa Sore lalu, pembelian sudah mulai dibatasi. Jika biasanya ia membeli lima karung rempah-rempah setiap kali berbelanja, kemarin hanya dijatah dua karung saja.

Pedagang lainnya, Samiyem (48) mengaku dibanjiri pembeli pada hari Selasa lalu, hari Rabu kemarin tetap datang pembeli, namun tidak sebanyak sehari sebelumnya. Rempah-rempah seperti Jahe dan Temulawak yang dijual kemarin, diakui sisa belanja satu hari sebelumnya, lantaran stok di pasar induk sudah habis.

”Kosong nggak ada barang di pasar Cibitung, yang lain masih biasa. Kalau kemarin (pembeli) ada yang beli lima kilo, ada yang empat kilo, kalau tadi (Rabu) cuma sekilo,” ungkapnya.

Setiap kali datang pembeli, ia harus menyortir barang dagangannya dengan baik, lantaran tidak ingin memberikan rempah-rempah dengan kualitas buruk kepada pembeli. Pedagang berharap kondisi ini tidak berjalan lama, karena pelanggan rempah-rempah ini merupakan pedagang kecil seperti pedagang bumbu jadi dan pedagang jamu gendong. ”Iya kalau tukang jamu pada ngeluh, kok naiknya tinggi banget,” tukasnya.

Salah seorang warga Arenjaya Bekasi Timur, Weny (31) mengaku, sejak dua bulan lalu keluarganya setiap pagi rutin mengkonsumsi rebusan Jahe, Kunyit, Temulawak dan Serai. ”Ya pengganti teh, biasanya pakai kayu manis atau gula aren,” katanya.

Dengan rutin konsumsi tersebut, dia mengaku kondisi tubuhnya merasa lebih bugar. ”Jadi gak mudah cape atau masuk angin,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Tanti Rohilawati menyambut baik banyaknya warga yang mengkonsumsi jamu tradisional, meskipun tidak secara spesifik disebutkan secara medis. Namun, khasiat dari rempah-rempah atau jamu tradisional ini diakui cukup baik.

”Bagus (masyarakat mau mengkonsumsi rempah-rempah), karena itu memang artinya langkah secara tradisional ya, karena kan sekarang kita tau sendiri namanya masker itu langka, sulit, dinas kesehatan juga mau mengadakan belum ada yang sanggup untuk memenuhi,” terang Tanti.

Jamu tradisional bisa menjadi alternatif untuk menjaga kekebalan tubuh, sisi lain juga tidak mengandung bahan kimia. ”Sangat baik untuk kekebalan tubuh,” tegasnya.

Sementara itu, mengenai kelangkaan sejumlah rempah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi mengaku akan memberikan surat pemberitahuan kepada para pedagang untuk tidak menimbun dan menaikkan harga terlalu tinggi.

”Hari ini mau keluarkan surat untuk para pedagang agar tidak menaikan harga dan tidak menimbun barang,” singkatnya.

Harga komoditas diatas tersebut sangat tinggi, bahkan pedagang di pasar menyebut ini bukan kenaikan harga, melainkan perubahan harga karena peminat terlalu tinggi. (Sur)

 

Related Articles

Back to top button