Bekasi
Trending

Suspect Corona di RSPI Sulianti Saroso Bertambah

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jumlah pasien yang berada di ruang isolasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara terus bertambah. Kini, terdapat sembilan pasien dengan rincian tujuh dalam pengawasan dan dua dinyatakan positif virus Corona.

”Jadi saat ini sudah ada total 9 yang dirawat di ruang isolasi ketat. Yang dua sudah positif,” kata Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril di kantornya, Sunter, Jakarta Utara, Rabu (4/3).

Syahril enggan merinci tujuh pasien yang masih dalam pengawasan itu berasal dari rujukan rumah sakit mana. Namun, dia menegaskan, seluruh pasien yang berada di ruang isolasi masih dalam pengawasan ketat. ”Jadi saat ini sudah ada total 9 yang dirawat di ruang isolasi ketat,” ucap Syahril.

Syahril menduga, terdapat lima pasien yang pernah berkontak langsung dengan dua pasien positif. Sementara, dua pasien lainnya masih di harus ditelusuri riwayat tertularnya virus Corona tersebut. ”Dari sekian pasien ini ada lima yang kontak dengan pasien dengan sebelumnya dan dua lagi tracking karena ada riwayat dari daerah yang diduga endemis,” ujar Syahril.

Kendati demikian, hingga kini hasil laboratorium terhadap pasien dalam pengawasan belum keluar. Namun, dalam riwayat beberapa pasien sempat mengunjungi tempat-tempat yang diduga endemis. ”Kami akan menunggu hasilnya sampai besok untuk laboratorium yang nanti akan diumumkan nanti dengan para media semua,” urai Syahril menandaskan.

Dia juga menyatakan, hingga kini terdapat 451 orang yang telah berkonsultasi di pos pemantauan virus Corona. Terlebih, RSPI merupakan salah satu rumah sakit rujukan bagi pasien terinfeksi virus Corona. ”Terakhir dari data ada sebanyak 451 orang dan semuanya gratis ya, tidak ada yang bayar,” kata Syahril di kantornya, Sunter, Jakarta Utara, Rabu (4/3).

Syahril menjelaskan, pos pemantauan virus Corona dibuka sejak 3 Januari 2020. Terlebih, organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) telah mengumumkan, virus yang bersumber dari Wuhan, Tiongkok itu sebagai darurat global.

”Jadi begitu WHO mengumumkan global kita langsung buka. Karena RS ini merupakan rujukan nasional tidak hanya melayani isolasi,” ungkap Syahril.

Sementara itu, Kepala Instalasi dan Promosi RSPI Sulianti Saroso, Tiursani Idawati Sinurat menuturkan, kunjungan masyarakat ke pos pemantauan mulai meningkat semenjak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan adanya dua warga negara Indonesia (WNI) yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona.

”Meningkatnya kunjungan ketika mulai bapak Presiden Jokowi menyampaikan bahwa ada pasien yang sudah positif Corona. Diikuti dengan kunjungan pak Menkes (Terawan Agus Putranto),” jelas Tiur.

Untuk diketahui, pos pemantauan virus Corona ini terbuka bagi masyarakat yang hendak mencari informasi, melaporkan gejala, dan berkonsultasi terkait virus Corona. Sejauh ini, terdapat sembilan pasien yang berada di ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso. Rinciannya, dua pasien positif terjangkit virus Corona dan tujuh pasien lainnya masih dalam pengawasan.

 Sementara itu, kondisi dua pasien positif virus Korona yang tengah dirawat di RSPI Sulianti Saroso Jakarta Utara dilaporkan mulai membaik. Meski demikian, kondisi mental keduanya masih harus distabilkan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto menjelaskan bahwa pasien 1, 31 tahun dan pasien 2, 64 tahun sudah tidak demam atau sesak napas. “Sudah tak panas, batuk kadang-kadang. Sesak nggak. Pilek nggak. Kondisinya secara fisik baik-baik,” tegasnya dalam konferensi pers.

Masalah yang dialami justru kesehatan secara psikis. Keduanya masih diliputi kecemasan lantaran informasi seputar identitas mereka terlanjur tersebar. “Secara psikologis khawatir, cemas. Ibunya atau pasien 2 itu nggak nyaman. Semua identitas diketahui, rumah diketahui,” tutur Yurianto.

Bocornya identitas itu, kata Yurianto, sebetulnya melanggar etika antara pasien dan tenaga medis. Sebab, data-data pasien harus dirahasiakan dan tak boleh diumumkan tanpa seizin pasien.

“Ini tersebar di mana-mana. Langgar aturan Undang-Undang. Kami koordinasi dengan Bareskrim akan ditindak itu,” tukasnya.(jpc)

Related Articles

Back to top button