Bekasi
Trending

Mau Salat Repot, Hendak Kencing juga Susah

Lebih dari Dua Bulan Mereka Bersekolah Ditemani Air Keruh dan Kutu Air

DIKEPUNG BANJIR: Kondisi SMPN 2 Tanggulangi, Sidoarjo, Kemarin (4/3). (DIMAS MAULANA/JAWA POS)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penyakit kulit mulai menghampiri para murid yang sekolahnya terendam sejak akhir Desember lalu. Harus mengubah jam pelajaran, mengadakan les tambahan, sampai berurusan dengan ular.

ARISKI PRASETYO, Sidoarjo–KHUDORI ALIANDU, Mojokerto, Jawa Pos.

—MAULANA Catur Prasetyo melangkah dengan sangat hati-hati. Sesekali dia memelototi lantai sekolah yang penuh air. Memastikan alas kakinya tidak menginjak lumut. Tanaman air yang biasanya menjadi makanan ikan itu bisa menjadi petaka.

Kemarin siang itu (4/3), siswa kelas VIII G SMPN 2 Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut hendak menuju kantin sekolah (4/3). Jaraknya tidak jauh sebenarnya, tepat di belakang ruang kelas.

Tapi, genangan air memaksanya berjalan lebih lambat. Itu pun ternyata tak cukup menghindarkannya dari celaka. Sesampai di jalan antara kantin dan kelas, langkah Maulana oleng. Byurrr… Bocah 14 tahun itu terjungkal. Celananya kuyup. ”Nggawe sandal malah lunyu (pakai sandal malah licin, Red),” ucapnya.

Bak adegan-adegan slapstick dalam film-film Dono-Kasino-Indro, keapesan serupa yang dialami Maulana itu berulang-ulang terjadi di SMPN 2 Tanggulangin. Tak cuma para murid. Salah seorang guru juga pernah terjatuh dari motor ketika hendak pulang melintas di jalan keluar sekolah. Dia tidak melihat jalan berlubang yang tertutupi air. ”Jatuh. Laptop rusak terendam air,” ucap guru bahasa Indonesia SMPN 2 Tanggulangin Samsul Anam.

Sudah sejak akhir Desember tahun lalu SMPN 2 Tanggulangin terendam. Diawali guyuran deras hujan, afvoer Kedungbanteng pun tak mampu menampung air. Sedimentasi serta tumpukan sampah menjadi penyebabnya.

Alhasil, air tak berjalan pada tempatnya. Meluber ke jalan. Menggenangi permukiman warga. Hingga merendam sekolah itu.Air seperti bertemu jodoh di sekolah tersebut. Ogah pergi. Beda dengan genangan yang merendam jalan dan permukiman warga. Ada pasang surut.

Di SMPN 2 Tanggulangin, air anteng. Saat hujan tak mengguyur, ketinggiannya memang berkurang jadi sekitar 5 cm. Tapi, saat hujan, bisa mencapai 30 cm.

Total 16 ruangan yang terendam air. Tujuh kelas IX. Tiga kelas VIII. Ditambah ruang BK (bimbingan dan konseling), UKS (unit kesehatan sekolah), komite sekolah, sanggar Pramuka, koperasi, hingga kantin.

Dampaknya, siswa terusir dari kelas. Kelas IX harus belajar di musala, ruang komputer, serta ruang keterampilan. Untuk kelas VII dan VIII, pihak sekolah memutuskan mengubah jam pelajaran. Siswa masuk sekolah siang hari.

Samsul tak mengira genangan bakal merendam sekolah tempat dirinya bekerja itu hingga lebih dari dua bulan. Memang, SMPN 2 Tanggulangin langganan kebanjiran. Tapi, di tahun-tahun sebelumnya biasanya paling tinggi 5 cm. Dan, tidak sampai masuk kelas.

”Tiga hari sudah hilang. Ini yang paling parah,” terangnya. Seminggu setelah sekolah tergenang, Samsul sebenarnya masih tetap yakin genangan bakal cepat surut. Apalagi, sekolah juga berupaya membendung air dari luar. Caranya, memasang sandbag. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. Air tak kunjung surut. Justru, akhir Januari, air bertambah tinggi.

Persisnya setelah hujan deras pada 23 Januari. Dampak banjir kian luas. Dari semula hanya 7 kelas bertambah jadi 16 ruangan tergenang.

Beragam cara dilakukan untuk mengurangi ketinggian air itu. Setelah gagal dengan sandbag, Pemkab Sidoarjo turun tangan. Empat mobil pemadam kebakaran (damkar) dikerahkan. Selama dua hari, air susut 10 cm.

Kelas yang terendam sempat surut. Pihak sekolah bergegas membersihkan ruangan. Tak sampai 24 jam, hujan datang lagi. Banjir lagi.

Saking lamanya banjir merendam sekolah itu, dampak mulai bermunculan. Tidak sedikit siswa yang terpapar penyakit kulit. Kutu air.

Salah satunya Hanan Rizki. Siswa kelas VII G itu kemarin menunjukkan kakinya yang gatal. Ada luka putih di sela-sela jemari kakinya. ”Kecek terus akhire gatel-gatel (kaki sering basah akhirnya gatal-gatal, Red),” ucapnya.

Sejak datang ke sekolah, siswa disambut genangan. Saat ke kamar kecil, mereka harus melintasi air keruh. Ketika hendak salat, pelajar juga mesti berjalan membelah air kotor.

Saat hendak buang air kecil pun susah. Karena air dari kamar mandi keluar lagi. Baru seminggu terakhir, pemkab menyediakan kamar mandi portabel.

Meski tidak selama di SMPN 2 Tanggulangin, genangan banjir selama sekitar sepekan pada Februari lalu juga membuat murid dan guru di SDN Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kelimpungan.

Selain karena harus memindahkan ruang kelas ke tempat pendidikan Alquran (TPQ) yang berada di depan masjid desa, banjir tersebut terjadi saat para siswa kelas VI memulai rangkaian persiapan menghadapi ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yang dihelat Mei nanti.

”Kalau nanti nilainya di bawah sendiri (saat USBN), bisa di-bully semua orang saya,” tutur Kepala SDN Tempuran Amin kepada Jawa Pos Radar Mojokerto kemarin (4/3).

Sejak 2012 Tempuran memang langganan kebanjiran. Namun, yang berimbas pada KBM (kegiatan belajar mengajar) di SDN Tempuran baru terjadi di dua tahun terkahir.

Sekolah pun harus menjadwalkan les khusus untuk kelas IV–VI. Itu adalah upaya mengejar pelajaran yang tertinggal selama lingkungan sekolah dilanda banjir.Les itu berlangsung di luar jam sekolah. ”Setiap guru saya minta memilih hari. Pokoknya minimal satu kali dalam satu minggu.”imbuhnya.

Menaikkan dan menurunkan inventaris sekolah berulang-ulang juga membuatnya lelah. Termasuk, untuk menghindari kerusakan, pihaknya harus menaikkan sofa yang berada di ruang guru pada malam harinya.

Bahkan, peristiwa itu sempat membuatnya shock karena menginjak ular di dalam air. ”Untungnya tidak sampai digigit,” katanya.

Masih di Tanggulangin, hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari SMPN 2, kondisi serupa terlihat di SDN Banjarasri. Sampai dengan kemarin, halaman sekolah tersebut terendam air. Juga sudah muntup-muntup (hampir) masuk ke ruang kelas.

Namun, siswa tetap belajar. Termasuk saat air sempat masuk ruang kelas menyusul hujan deras 23 Januari lalu. ”Duduk di meja. Karena lantai terendam air,” ucap Sutiyah, salah seorang guru SDN Banjarasri.

Bersekolah dalam kondisi dilanda banjir tentu saja menyurutkan antusiasme para murid. Mereka jemu. ”Namun, kami terus menyemangati,” papar Samsul Anam, guru di SMPN 2 Tanggulangin. Di sekolah tersebut, siswa yang sakit juga tak bisa beristirahat di ruang UKS lantaran terendam air. Pihak sekolah terpaksa memindahkan UKS ke ruang guru.

Kepala SMPN 2 Tanggulangin Al Hadi mengatakan, sejatinya kondisi sekolah yang dipimpinnya mendapat banyak perhatian. Terutama dari para wali murid. Mereka ingin menyumbangkan bantuan. ”Namun, ini kan sekolah negeri. Tidak berhak menerima sumbangan,” tandasnya.(*/abi/c10/ttg)

Related Articles

Back to top button