Bekasi

Desember Minyak Goreng Curah Disetop

PEREDARAN DISETOP: Pedagang mengisi jeriken minyak curah saat melayani pembeli di Kawasan Pasar Baru, Kota Bekasi, Beberapa waktu lalu. Pemerintah Kota Bekasi bakal menyetop peredaran minyak curah dipasaran per Desember 2020. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pedagang gorengan siap menaikkan harga barang dagangannya jika dipastikan minyak goreng curah tidak lagi beredar dipasaran. Beberapa waktu lalu, Wali Kota Bekasi mengeluarkan surat intruksi untuk melaksanakan kewajiban minyak goreng dalam kemasan di wilayah Kota Bekasi pada 28 Februari lalu.

Imbauan kepada pengusaha disampaikan berdasarkan instruksi Wali Kota Bekasi nomor 510/273/Setda.TU tentang pelaksanaan kewajiban minyak goreng dalam kemasan. Intruksi ini juga didasarkan pada peraturan menteri perindustrian RI nomor 46 tahun 2019 tentang pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) minyak goreng sawit secara wajib.

Salah satu pedagang Gorengan di kawasan Pasar Baru, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi mengaku selama ini menggunakan minyak goreng curah sebagai bahan baku untuk menggoreng berbagai macam gorengan uang dijual.

Dalam sehari, pedagang gorengan bisa menghabiskan 15 kg minyak curah. Selama ini semua jenis gorengan yang dijual, dihargai Rp 1.000, jika kebijakan ini resmi diberlakukan maka gorengan yang dijual juga akan ikut naik.

”Ya mau gimana lagi kalau udah nggak ada, ya pakai yang kemasan. Ya naik, paling 5.000 jadi empat, sekarang seribuan satu,” kata salah satu pedagang gorengan, Riski (30), Jumat (6/3).

Ia mengaku tidak akan mengubah kualitas rasa gorengannya, meskipun jika menggunakan minyak goreng kemasan biaya produksi yang dikeluarkan lebih tinggi.

Saat ini, dengan modal Rp800 ribu hingga Rp900 ribu, keuntungan yang diraup dalam satu hari mencapai Rp 1,5 juta. Minyak goreng curah didapat dari agen yang diakui sudah menjadi tempatnya biasa berbelanja, tidak dengan kemasan bermerk, melainkan hanya dikemas dengan jeriken berukuran lima liter.

Di lokasi yang sama, salah satu agen yang menyediakan minyak goreng curah mengaku konsumen didominasi oleh pedagang kecil, seperti pedagang gorengan.

Dalam satu hari ia bisa menghabiskan sekira 5 ton minyak goreng curah untuk dijual. Menurut agen yang menyediakan minyak goreng curah ini masih dibutuhkan oleh masyarakat terutama pedagang kecil guna menekan biaya produksi.

”Pasokan sampai saat ini masih banyak, biasa yang beli tukang gorengan, pedagang-pedagang,” kata pria yang mengaku bernama Aman (40).

Sebelumnya, dalam keterangan tertulis yang diterima oleh Radar Bekasi, Kabag Humas Pemkot Bekasi, Sajekti Rubiah mengimbau kepada para pengusaha untuk melaksanakan kewajiban minyak goreng dalam kemasan.

Dijelaskan, intruksi Wali Kota Bekasi ini masih memberikan kesempatan bagi pengusaha agar memproduksi minyak goreng dan wajib diberlakukan mulai 31 Desember 2020 mendatang.

”Pemerintah Kota Bekasi mengikuti arahan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Perdagangan RI tentang pemberlakuan SNI minyak goreng sawit secara wajib,” terangnya.

Pihaknya disebut akan mengawasi dan melakukan pembinaan dari para pelaku usaha dalam hal ini keamanan pangan serta kesesuaian harga di Kota Bekasi, melalui dinas perdagangan dan perindustrian Kota Bekasi. (Sur)

Related Articles

Back to top button