Cikarang

Imbas Virus Corona, Jahe Merah Langka

PILIH JAHE: Seorang warga memilih jahe merah yang hendak dibeli di Pasar Induk Cibitung, Kabupaten Bekasi. Hal itu pasca-merebaknya info jika mengonsumsi jahe merah dapat mencegah dari serangan virus Corona belakangan ini. PRA/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejak viral di media sosial (medsos) jika jahe merah dan temulawak bisa menangkal virus Corona, harga rempah-rempah di Pasar Induk Cibitung, melonjak tinggi. Para pedagang ada yang meraup

 

 

keuntungan mencapai puluhan juta rupiah setiap harinya.

Berdasarkan data yang ada di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar Induk Cibitung, harga jahe biasa yang sebelumnya Rp 6 hingga Rp 7 ribu per kilogram menjadi Rp 35 ribu per kilogram, kemudian temulawak, sebelumnya Rp 6 hingga Rp 7 ribu per kilogram menjadi Rp 40 ribu per kilogram-nya. Dan harga jahe merah sebelumnya Rp 30 ribu per kilogram menjadi Rp 55 ribu per kilogram-nya.

Sementara menurut keterangan pedagang rempah-rempah di Pasar Induk Cibitung, Paudin, dalam beberapa hari belakangan ini, memang penjualan rempah-rempah mengalami peningkatan. Kata dia, yang sebelumnya penjualan perhari hanya 20 kilogram, sekarang melonjak mencapai dua ton per hari. Pasalnya, hampir semua pasar tradisional memborong semua jenis rempah-rempah.

”Kalau hari biasa paling laku 20 kilogram per hari, tapi dalam dua hari ini penjualan saya mengalami peningkatan sampai dua ton sehari. Masyarakat yang biasanya beli lima kilogram sekarang menjadi 20 sampai 30 kilogram,” tutur Paudin saat ditemui di tempat dagangan-nya, Jumat (6/3).

Bahkan dia mengaku, stok rempah-rempah yang sebelumnya tidak laku, semua habis diterjual. ”Saya sempat punya stok tiga kintal rempah-rempah yang tidak laku, dan itupun habis terjual. Dari modal Rp 5 ribu per kilogram saya jual Rp 15 ribu,” ucapnya.

Dia mengaku, untuk pasokan rempah-rempah seperti temulawak dan jahe biasa masih cukup. Hanya saja, untuk pasokan jahe merah sampai saat ini belum ada yang masuk.

”Kalau pasokan temulawak masih lancar, tapi untuk jahe merah, saat ini lagi kosong, dimana saya sempat menjual sampai Rp 60 ribu satu kilogram-nya,” beber Paudin.

Di tempat yang sama, salah satu pembeli rempah-rempah, Lukman menyampaikan, sebelum datang ke Pasar Induk Cibitung, dirinya sudah datang terlebih dahulu ke Pasar Cikarang dan Pasar Setu. Akan tetapi, di dua pasar tersebut tidak ada rempah-rempah, seperti temulawak, jahe biasa maupun jahe merah.

”Ketika saya ke Pasar Setu dan Pasar Cikarang, tidak ada temulawak, jahe biasa maupun jahe merah. Maka dari itu, saya ke Pasara Induk Cibitung ini. Dan untuk harganya memang naik cukup drastis,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Pasar Cibitung, Eman Suherman mengakui, dalam beberapa minggu ini ada penjualan rempah-rempah jenis jahe dan temulawak cukup signifikan pasca viral-nya di medsos jika jahe merah dan temulawak bisa menangkal virus Corona. Akibatnya masyarakat berduyun-duyun untuk mencari rempah-rempah.

Kata Eman, hal itu membuat harga rempah-rempah mengalami kenaikan cukup signifikan. Fenomena itu mulai sejak tanggal 26 Februari 2020 sampai saat ini. Dimana harga rempah-rempah setiap harinya mengalami kenaikan. Dia menyakini, harga ini akan terus meningkat jika masyarakat terus panik.

”Kalau masyarakat semakin panik, otomatis harga akan melonjak terus. Karena pasti barang-barang tersebut akan dicari,” tukas Eman.

Dijelaskan Eman, rempah-rempah itu dipasok dari wilayah Sumatera seperti Medan dan Lampung. Walaupun ada sebagian kecil dari Jawa Barat. ”Kalau pasokan sebelumnya sempat kosong, sekarang sudah ada lagi. Hanya saja, untuk jahe merah dari kemarin masih kosong. Para bandar yang ada disini berusaha menguhubungi para petani yang ada di daerah agar memasok, sehingga tidak sampai kosong,” pungkasnya. (pra)

Related Articles

Back to top button