BekasiBerita Utama
Trending

Bekasi Bakal Lebih Macet

Pembatasan Odol Mulai Hari ini

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masyarakat Bekasi akan dihadapkan dengan kemacetan lebih parah. Hal ini menyusul diberlakukannya pembatasan kendaraan truk Over Dimension Over Load (Odol) melintas di ruas jalan tol, mulai dari Tanjung Priok, Jakarta hingga Bandung oleh kementerian perhubungan.

Jika truk ”obesitas” ini nekat untuk menghindari jalan tol dan melintas di jalan-jalan nasional di daerah, diprediksi akan menambah kepadatan lalu lintas. Pembatasan ini disebut efektif berlangsung hari ini, Senin (9/3).

Bila masih ditemukan truk bandel melintas di ruas jalan tol, maka akan dilakukan tindakan tegas. Diantaranya, memberikan sanksi atau penilangan terhadap sopir, meminta truk untuk putar balik ke arah semula, atau meminta truk keluar di pintu tol terdekat.

Di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi, ada beberapa pintu tol akses menuju ke jalan tol Jakarta Cikampek (Japek). Petugas dan alat timbang akan ditempatkan di 13 titik, diantaranya yang berada di Wilayah Bekasi yakni Cibitung dan Cikarang barat.

Dinas Perhubungan Kota Bekasi memprediksi, besar kemungkinan truk Obesitas tersebut akan beralih melintas di jalan-jalan nasional di wilayah Kota Bekasi. Jalan ini yang memungkinkan truk dengan tonase besar melintas, berdasarkan daya dukung dan kekuatan jalan.

Jika benar, maka volume kendaraan di ruas jalan nasional akan bertambah, dimensi kendaraan yang terlampau besar disebut akan mempengaruhi kecepatan kendaraan. ”Pastinya menimbulkan kemacetan pada ruas jalan nasional di wilayah Kota Bekasi,” ungkap Kabid Pengendalian Operasi (Dalops) Dishub Kota Bekasi, Ikhwanudin Rahmat kepada Radar Bekasi, Minggu (8/3).

Beberapa alternatif langkah akan diambil oleh Dishub Kota Bekasi, langkah-langkah yang diambil akan dirumuskan sesuai dengan perkembangan lalu lintas di Wilayah Kota Bekasi mulai hari ini. Beberapa langkah menjadi pertimbangan, diantaranya menahan truk Odol yang kedapatan melintas di ruas jalan nasional, kembali memperbolehkan beroperasi malam hari setelah lalu lintas cenderung sepi.

”Nah mungkin salah satunya itu pembatasan waktu operasi, tapi kita monitor dan evakuasi perkembangan berjalan. Ya kalau dilihat yang paling efektif jelas menyesuaikan volume angkut,” tambahnya.

Di waktu yang lain, Humas Jasamarga Cabang Japek, Hendra Damanik membenarkan informasi pembatasan truk Odol tersebut. Disebutkan pihaknya telah rutin menyelenggarakan operasi penertiban Odol di ruas tol Japek.

Tidak kurang dari dua kali dalam sepekan Jasamarga Cabang Japek melakukan operasi. Gerbang tol di wilayah Tanjung Priok dan Bandung disebut menjadi kunci untuk truk Odol tidak lolos masuk ke ruas jalan tol.

”Ya kalau dari itu (kebijakan) nya sih harusnya Japek juga bebas Odol. Kalau kita kan memang rutin melakukan operasi Odol ya, karena kita punya alat, untuk mengukur berat sama dimensinya kan,” ungkapnya.

Sementara itu, pengamat transportasi Djoko Setijiwarno menyebut bahwa Odol bukan hanya menjadi beban pemerintah pusat di jalan Nasional. Namun, juga dirasakan oleh pemerintah daerah, dalam pemeliharaan jalan kota, kabupaten, maupun provinsi.

Ia menjelaskan, data statistik perhubungan pada tahun 2018 lalu, distribusi angkutan jalan menurut moda, terbanyak menggunakan angkutan jalan atau truk, yakni 91,25 persen.

”Jika melintas di jalan tol, kendaraan ODOL dapat menghambat arus kendaraan serta dapat menimbulkan kecelakaan, akibat jumlah muatan yang berlebih, sehingga kecepatan tidak dapat optimal. Rata-rata tidak lebih ari 40 kilometer per jam,” terangnya kepada Radar Bekasi beberapa waktu lalu.

Barang kebutuhan yang diangkut sehingga membuat over load mayoritas adalah bahan sembako, yakni 23 persen. Kedua air minum 17 persen, bahan bangunan 10 persen, dan besi, baja, almunium 9 persen.

Contoh kasus, ia menyebut salah satu kasus di wilayah Lebak, Banten, dimana Bupati setempat sempat meluapkan kekesalannya kepada truk bermuatan tanah, lantaran mengotori dan merusak jalan.

”Kerusakan jalan yang begitu cepat pasti akan menguras APBN dan APBD yang sebenarnya dapat digunakan untuk program lainnya,” lanjutnya.

Sekadar diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan akan melarang truk kelebihan muatan atau truk Over Dimension Over Load (ODOL) melintas di tol Tanjung Priok-Bandung mulai Senin, 9 Maret 2020.

Penindakan tegas atas pelanggaran tersebut akan diberlakukan selama 24 jam nonstop dan akan memberikan sanksi penilangan dan denda bagi yang melanggarnya.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Indonesia Zero ODOL pada Januari 2023 mendatang. Selain itu, pembatasan tersebut juga demi keselamatan berkendara sehingga bisa mengurangi dampak yang timbul diakibatkan kendaraan kelebihan muatan.(sur)

Related Articles

Back to top button