Bekasi

Ingin Anak-Anak Muda Pakai Udeng & Tahu Makna

Mengenal Tommy Priyo Pratomo, Pembuat Udeng Ksatrian Surya Anagata

HASIL RISET SEJARAH: Tommy (kiri) bersama Adi Candra mencontohkan cara mengenakan udeng Ksatrian Surya Anagata. (Mariyama Dina/Jawa Pos)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tommy Priyo Pratomo yang merupakan arek Suroboyo ingin membuat udeng baru yang khas Surabaya dan cocok untuk generasi milenial. Bukan untuk menyingkirkan yang sudah ada, tapi untuk memperkaya jenisnya. Setiap ikatannya pun disisipi sebuah makna.

MARIYAMA DINA, Surabaya

Tommy menyematkan nama yang keren untuk udeng kreasinya. Udeng Ksatrian Surya Anagata. Ksatrian berarti kesatria atau pemimpin, surya berarti matahari, dan anagata berarti masa depan. Udeng yang diluncurkan Tommy pada Agustus 2019 itu membawa sebuah misi untuk melestarikan budaya. Khususnya di Surabaya.

Dia menjelaskan, ada makna dalam setiap ikatan demi ikatan dalam membentuk udeng itu. Tommy menyisipkan filosofi-filosofi khusus. ”Soalnya, udengnya nggak yang langsung jadi, tapi diikat sendiri dari kain yang awalnya lembaran panjang,” jelasnya saat ditemui di Kampung Ondomohen pada Rabu (4/3).

Penutup kepala tradisional itu mungkin banyak dijumpai di daerah-daerah di Indonesia yang kental dengan budayanya. Misalnya Jawa, Pasundan, dan Bali. Namun, setiap daerah tentu punya ciri khas masing-masing.

Sekilas, udeng buatan Tommy memang tampak seperti udeng pada umumnya. Mirip udeng Bali yang tanpa penutup di bagian atas. Namun, kalau diperhatikan lebih jeli lagi, udeng tersebut punya perbedaan yang signifikan. ”Kalau udeng-udeng pada umumnya itu dari lembaran kain yang lebar, udeng saya ini lembarannya panjang. Terus, kainnya dilipat jadi empat,” jelasnya.

Selain itu, ikatan-ikatan pada udengnya tidak sembarangan. Tommy menyebutkan, setiap ikatan yang dibuatnya itu punya filosofi tersendiri. Ikatan pertama, misalnya. Bentuk segi tiga yang dibuat dari persilangan kain tersebut melambangkan doa. ”Simbol pengharapan naiknya derajat,” ujarnya sambil mempraktikkan cara mengikatnya satu per satu.

Bagian pertama itu ternyata menjadi permulaan yang paling penting dan paling beda. Sebab, dia menyilangkan kain tersebut sebelum akhirnya diikat menjadi udeng. ”Beda dengan udeng yang ada. Biasanya langsung diikat ke depan, nggak pakai ditekuk gini. Pokoknya, yang paling jadi ciri khas ya ini. Bentuk segi tiganya,” imbuhnya.

Bentuk segi tiga itu kemudian ditaruh di bagian belakang kepala. Kain panjang tersebut kemudian ditarik dari sisi kanan-kiri kepala menuju bagian depan. Di bagian depan, kain itu kembali disilangkan dengan sisi kanan berada di atas. Sisi kanan di atas itu ternyata menyimbolkan bahwa memberi lebih mulia daripada menerima.

Kemudian, masuklah pada bagian membuka sayap kain tersebut. Setelah bagian kain yang berada di dahi itu diikat, kain di sisi kanan atas dibuka terlebih dahulu. ”Saat dibuka ini, dua sisi itu jadi simbol sayap garuda. Juga menjadi lambang ayam jantan Sawunggaling yang artinya menjadi pemimpin yang karismatik,” tambah Tommy.

Dari situ, bagian kain kanan-kiri yang sudah dibuka kemudian diselipkan pada bagian penutup kepala. Jadi, udeng tersebut benar-benar tanpa jahitan. Selain itu, untuk membentuknya hingga tampak kukuh di kepala, pemakai harus mengikatnya satu per satu. Bagian itu juga berbeda dari udeng yang sudah ada. Tommy menjelaskan, udeng tersebut terbuat dari satu kain yang menyatu. ”Kalau kebanyakan udeng yang udah ada itu, bagian atasnya yang dibuka itu dari kain yang beda. Jadi terpisah,” terangnya.

Dari situ, Tommy benar-benar ingin udengnya bisa menjadi pilihan di antara banyaknya udeng yang sudah ada. Terlebih, bisa menjadi salah satu udeng yang fleksibel untuk dipakai ke mana saja. ”Tapi, sebenarnya Surabaya sudah punya udengnya sendiri. Biasanya yang dipakai cak dan ning itu. Tapi, ini saya pengin bikin yang bisa lebih fleksibel dan nggak terlalu formal,” jelas pria kelahiran Surabaya, 3 Mei 1973, itu.

Tommy berharap generasi milenial juga bisa lebih mengenal udeng yang merupakan sebuah bagian budaya tersebut. ”Dan ini udengnya juga dibuat dengan bentuk baru yang tidak ada di pakem yang sudah ada. Tapi, bukan berarti mengesampingkan pakem,” sambungnya. Hanya, bentuknya dibuat lebih nonformal agar tidak hanya bisa dipadupadankan dengan baju-baju formal.

Motif-motif batik yang dipakai pun beragam. Tidak terpaku pada satu motif dari suatu daerah saja. Bahkan, pria 46 tahun itu juga membuatnya dari motif batik Suroboyo. Ide membuat udeng Ksatrian Surya Anagata ternyata bermula saat dia membaca buku literasi soal sejarah kampung di Dinoyo. ”Surabaya itu ternyata punya sejarah yang tidak terlepas dari kultur Majapahit. Jadi, udeng ini juga nggak ujug-ujug muncul, nggak punya keterkaitan sama Surabaya,” terangnya.

Dari situ, gerakan untuk membuat udeng yang juga digemari generasi milenial akhirnya tercetus. Pria yang merupakan arsitek itu meluncurkan udengnya saat penjurian Surabaya Smart City di Dinoyo. Tommy juga sudah menerima surat pencatatan ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atas udeng buatannya itu.

”Tapi, kalau disebut sebagai ikon Surabaya atau bukan, itu bukan hak saya. Yang pasti, saya bisa pertanggungjawabkan atas udeng yang saya buat ini,” imbuhnya. Pembuatan udeng itu pun dilengkapi dengan buku panduan beserta filosofi-filosofi yang terkandung di dalamnya. ”Saya juga sebentar lagi akan mengenalkan udeng-udeng ini ke adik-adik di sekolah dasar. Lewat sebuah workshop, harapannya, anak-anak itu nanti bisa lebih mengenal budaya,” terangnya.

Sementara itu, untuk generasi milenial, Tommy menargetkan mereka minimal tertarik untuk mengetahui udeng beserta filosofi yang terkandung di dalamnya. ”Kalau mereka tertarik, itu sudah jadi pintu pembuka udeng ini bisa dipakai (generasi, Red) milenial,” sambungnya. Selain itu, dia ternyata dibantu Adi Candra, motivator lingkungan DKRTH Surabaya, untuk lebih mengenalkan udengnya ke luar Surabaya.

”Pak Adi juga salah satu yang selalu pakai udeng ini ke mana-mana,” imbuhnya. Adi menambahkan, pembuatan udeng dengan gaya baru itu tidak bertujuan menyingkirkan yang sudah ada. ”Tapi bisa untuk memperkaya akan seni dan budaya. Terlebih, ini juga bisa jadi produk unggul yang ada di Surabaya,” terangnya.(*/c11/ady)

Related Articles

Back to top button