BekasiMetropolis

Diminta Fokus Penanggulangan Kemiskinan

Pekerjaan Rumah 23 Tahun Kota Bekasi

BERI SAMBUTAN : Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi memberikan sambutan saat acara sidang paripurna HUT Kota Bekasi ke-23 di Kantor DPRD Kota Bekasi, Selasa (10/3). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tingkat kemiskinan menjadi salah satu persoalan yang tidak boleh diabaikan oleh Pemerintah Kota Bekasi. Di usia yang ke-23 tahun ini, meskipun secara data statistik terus menunjukkan penurunan, namun, angka kemiskinan harus menjadi perhatian. Selain pembangunan infrastruktur yang terus berkembang seiring berjalannya usia.

SURYA BAGUS

Bekasi Timur

Mantan Wakil Wali Kota Bekasi yang saat ini duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Ahmad Syaikhu menilai persoalan kemiskinan harus menjadi perhatian semua pihak.

Pemerintah Kota tidak mungkin mengandalkan pertumbuhan infrastruktur yang semakin pesat, sementara mengabaikan masyarakat-masyarakat yang hingga saat ini masih berada di garis kemiskinan.

”Kita tidak mungkin hanya mengandalkan infrastruktur-infrastruktur yang bagus, namun nyatanya mengabaikan masyarakat-masyarakat yang mengalami termarjinalisasi,” ungkapnya saat ditemui usai apel Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bekasi, Selasa (10/3) pagi.

Pria yang juga pernah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat tersebut sempat menyinggung perihal kartu sehat dan sekolah gratis di wilayah Kota Bekasi. Dua kebijakan itu disebut merupakan solusi dari penanggulangan angka kemiskinan.

Tinggal, yang perlu ditingkatkan yakni daya beli masyarakat Kota Bekasi, beberapa alternatif solusi bisa dilakukan untuk menunjang daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat tersebut. Salah satunya, melalui sentuhan lembaga perbankan yang ada di tengah-tengah masyarakat, sehingga masyarakat tergerak dan mandiri secara ekonomi.

Disamping itu, beberapa hal yang perlu diperbaiki, diantaranya penanggulangan kemacetan yang kerap menjadi keluhan masyarakat Kota Bekasi. Dalam penataan infrastruktur, dinilai perlu andil mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga pemerintah Kota Bekasi.

”Semoga bisa lebih banyak lagi kreativitas dan kemajuan-kemajuan yang ada, sehingga menjadi kebanggaan bagi kita semuanya. Visi Kota Bekasi mudah-mudahan bisa tercapai kedepan, cerdas, kreatif, maju, sejahtera, dan Ihsan,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengakui masih banyak pekerjaan rumah di usia Kota Bekasi ke-23 tahun ini. Terkait dengan angka kemiskinan yang masih menyisakan ratusan ribu orang di wilayahnya. Namun pihaknya menyebut penurunan angka kemiskinan sebesar 3 persen tahun 2019 lalu dinilai pencapaian yang luar biasa.

”Kalau 3 persen itu saya pikir sesuatu yang sangat luar biasa, di suatu daerah yang heterogen yang jumlah rakyatnya 2,4 juta. Kalau dilihat 3 persennya itu sekitar 120 ribuan gak sampe, berarti itu sebuah perkembangan yang sangat luar biasa, nah ini yang harus jadi momentum kita untuk terus bekerja-bekerja,” jelasnya.

Berdasarkan data hasil Sensus Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada tahun lalu, jumlah penduduk miskin masih menyisakan 113 ribu orang. Rata-rata pengeluaran masyarakat Kota Bekasi satu bulan tercatat Rp617.718, lebih tinggi Rp34.995 dari tahun sebelumnya.

Apel HUT Kota Bekasi dilaksanakan kemarin di lapangan alun-alun Kota Bekasi, Jalan Veteran, Kelururahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Apel dihadiri oleh aparatur pemerintah Kota, Unsur Forkompinda, hingga organisasi masyarakat di wilayah Kota Bekasi.

Apel dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto yang nampak mengenakan pakaian adat daerah. Tamu undangan dan peserta apel juga nampak mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. (*)

Related Articles

Back to top button