BekasiBerita Utama
Trending

Perekonomian Bekasi Melemah

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Merebaknya virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, berpengaruh pada perekonomian di Kabupaten Bekasi. Pasalnya, Kabupaten Bekasi yang memiliki kawasan Industri terbesar di asia tenggara terdapat ribuan Tenaga Kerja Asing (TKA). Para pekerja tersebut, berasal dari berbagai Negara yang terpapar virus Corona.

Industri perhotelan misalnya. Sejumlah hotel di Kabupaten Bekasi mengaku mengalami penurunan pengunjung. Penurunan yang terjadi mulai dua Minggu belakangan ini, rata-rata setiap hotel mengalami penurunan mencapai 30 persen dari angka sebelumnya.

”Sekarang sudah merasakan dampaknya, beberapa tamu sudah mulai berkurang dan secara keseluruhan kita sudah mengalami kerugian 30 persen. Karena di kita kebanyakan tamu ekspatriat dari Jepang, Korea, China dan Singapura,” kata General Manager Hotel Ayola, Danang Aplianto.

Kata dia, hal tersebut diperparah dengan adanya aturan dimana Warga Negara Asing (WNA) dilarang masuk ke Indonesia dan ada beberapa WNA yang di isolasi maupun dikarantina. Kondisi ini hampir terjadi di semua hotel di wilayah Cikarang.

”Jadi tidak seperti bulan-bulan yang sebelumnya. Untuk sekarang semua hotel sudah merasakan dampak yang sama. Disini sebelumnya di angka 60 hingga 70 persen, sekarang diangka 40 persen,” tuturnya.

Senada disampaikan Sales Manager Hotel Santika Cikarang, Bimas Hafis Pratama. Menurutnya, okupansi seluruh hotel di wilayah Cikarang hanya sampai 15-20 persen. Hanya saja dirinya tidak bisa sampaikan penurunan tingkat hunian di tempat kerjanya secara detail.

”Sangat berdampak bangat tingkat hunian hotel di wilayah Cikarang. Dari Minggu kemarin tingkat hunian turun drastis. Untuk okupansi sendiri untuk di wilayah hanya sampai 15-20 persen, Semua rata-rata turun diangka segitu. Sebelumnya okupansi sendiri sekitar 40 sampai 60 persen,” ucapnya.

 Sementara itu, Kasubag Tata Usaha UPTD Pasar Induk Cibitung, Suherman mengaku, merebaknya virus Corona yang masuk ke Indonesia berdampak kepada pasokan buahan impor ke Pasar Induk Cibitung. Khususnya buah-buahan dari Negara China. Dimana kata dia, untuk sekarang buah impor sudah tidak ada sama sekali di Pasar Induk Cibitung.

”Paling berdampak ke pasokan. Kalau buahan yang dari impor sudah enggak ada sama sekali. Khusunya buah dari China. Sekarang hanya buah lokal saja yang ada,” ujarnya saat dihubungi Radar Bekasi. 

Menurutnya, kekosongan buah impor bukan karena adanya penyetopan kiriman. Namun, para importir dengan sendirinya ketakutan. Kendati demikian, sampai saat ini buat impor seperti Apel dari Amerika maupun Australia masih ada. Tapi memang stoknya sedikit. Dia mengaku, belum tahu sampai kapan hal ini terjadi.

”Kalau kita belum tahu pasti sampai kapan. Tergantung importir buah itu sendiri mau masuk kapan. Karena dengan sendirinya importir itu ketakutan. Sekarang benar-benar kosong kalau buah dari China. Tapi kalau buah impor Apel dari Amerika maupun Australia masih ada. Tapi memang stoknya sedikit,” jelasnya.

Sementara persediaan barang kebutuhan dapur seperti cabe, bawang merah, maupun bawang putih masih aman. Hanya saja untuk bawang merah dan temulawak harganya mengalami kenaikan. Namun untuk cabe dan bawang putih harganya stabil.

”Kalau cabe stabil harganya disekisaran Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Tapi bawang merah ada kenaikan 10 sampai 20 persen. Bawang putih cenderung turun sebelumnya sempat Rp 35 ribu sekarang Rp 30 ribu. Temulawak sebelumnya hanya Rp 6 ribu perkilo, sekarang sekisaran diangka Rp 20 ribu hingga 25 ribu per kilo,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Nilai investasi di Kabupaten Bekasi pada tahun 2020 berpotensi turun. Selain virus Corona, belum adanya kejelasan terkait Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) juga menjadi salah satu penyebab.

Sekretaris Dinas Penaman Modal dan Perizinan Satu Pintu (DPMPST) Yayan Akhmad, mengaku realiasasi Investasi Kota/Kabupaten se-Jawa Barat (Jabar) pada tahun akhir tahun 2019 terdata berdasarkan Penanaman Modal Asing (PMA), kabupaten Bekasi merupakan daerah nilai investasi tertinggi di Jabar.

”Kabupaten Bekasi paling tinggi nilai investasinya, yaitu sebesar Rp 27.152.530.850.601,” kata Yanyan, Selasa (10/3).

Selain itu, Kabupaten Karawang peringkat kedua dengan nilai investasi sebesar Rp. 21 triliunan dan disusul kabupaten Cirebon dengan nilai investasi sebesar Rp. 8 triliunan.

Yanyan memprediksi ada potensi turun kemudian hari. Sebab menurut data yang diterimanya, PMA terbesar merupakan asal dari negara China yaitu, sebesar Rp. 22.925.201.437.392. ”Saat ini kan kita semua sama sama tahu, akibat virus Corona ekonomi China saat ini ketidakstabilan. Jadi tidak menutup kemungkinan investasi yang masuk ke Kabupaten Bekasi berpotensi turun,” jelasnya.

Lanjut Yanyan, untuk nilai investasi dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Kabupaten Bekasi juga merupakan daerah tertinggi nilai investasinya. Yaitu sebesar Rp. 20.206.857.700.000, yang ikuti Kota Depok sebesar Rp 4.470.034.900.000, dan ketiga Kabupaten Bogor Rp 4.414.689.200.000.

”Kabupaten Bekasi yang merupakan kawasan industri terbesar tentunya perlu ada pengaturan dalam penataan ruang. Oleh sebab itu belum jadinya Perda RDTR yang menjadi pedoman atau dasar dalam pemberian izin juga berpotensi menghambat untuk pertumbuhan nilai ekonomi,” jelasnya.

Terpisah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan dampak virus Corona terhadap ekonomi domestik bisa berlanjut hingga 2021 mendatang. Hal itu dikarenakan meluasnya wabah virus Corona ke lebih dari 100 negara di dunia, termasuk Indonesia.

”Saya minta dikalkulasi lagi secara detail mengenai risiko pelemahan ekonomi global, termasuk akibat dari merebaknya virus Corona yang terjadi pada awal tahun ini dan kemungkinan dampak ekonomi lanjutan pada 2021,” ujarnya di Istana Presiden di Jakarta.

Oleh sebab itu, Jokowi memerintahkan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju untuk membuat kebijakan fiskal yang berdampak langsung pada ekonomi nasional. Dengan begitu, ekonomi RI tetap terjaga meskipun ada potensi perlambatan ekonomi global di tengah wabah virus Corona.

”Langkah-langkah mitigasi yang dikerjakan pada 2020 harus diperkuat untuk 2021 nanti. Rancangan kebijakan fiskal pada 2021 harus mampu memperkuat daya tahan ekonomi nasional,” jelasnya.(pra/and/cnn)

Related Articles

Back to top button