BekasiMetropolis

350 Tahun Berdiri, jadi Pusat Perayaan Imlek

Melihat Klenteng Tertua di Bekasi

KUNJUNGI KLENTENG: CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu mengunjungi Klenteng Hok Lay Kiong di Bekasi Timur, Kemarin. Klenteng Hok Lay Kiong merupakan klenteng tertua di Bekasi yang sudah ada sejak 350 tahun silam. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Klenteng Hok Lay Kiong diketahui sudah berdiri sejak 350 tahun yang lalu. Klenteng ini berdiri di bawah Yayasan Pancaran Tri Dharma. Rumah para dewa, begitu Koh Bok Liang salah satu pengurus klenteng menyebutnya. Di Klenteng tertua di Bekasi ini terdapat 13 Dewa. Setiap tahunnya, menjadi pusat perayaan Imlek di Bekasi.

Laporan : SURYA BAGUS

Bekasi Timur

Ramah, begitu suasana penyambutan di Klenteng yang berada di Pasar Lama, biasa masyarakat Bekasi menyebut Pasar Proyek, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi. Masuk sedikit ke area gedung klenteng, aroma khas menyelimuti ruangan.

Memasuki halaman klenteng, rupang dewa Hian Thian Siang Te atau dewa langit Utara terlihat. Thian Siang Te dijelaskan sebagai penguasa tertinggi alam semesta. Kedudukannya berada di tempat paling tinggi. Para dewa dan malaikat lainnya adalah para pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan di alam semesta ini, tentunya dengan fungsinya masing-masing.

Radar Bekasi yang saat itu bersama CEO Radar Bogor Group, Hazairin Sitepu melangkah kedalam, memasuki altar Sam Kwan Tay Te, tiga dewa penguasa alam.

”Sam Kwan Tay Te adalah dewa penguasa alam,” jelas Koh Bok Liang kepada Radar Bekasi.

Pintu masuk ruang utama dijaga oleh Men Shen, yang berarti malaikat pintu. Digambarkan dalam bentuk ukiran pada daun pintu, di sisi kiri dan kanan. Pengunjung diwajibkan bersembahyang di depan altar Hian Thian Siang Te, lalu meletakkan tiga batang dupa sebagai permohonan izin sebelum melanjutkan sembahyang di altar-altar lainnya.

Mata pengunjung dimanjakan dengan relief penuh warna yang nampak indah di dinding kiri ruangan. Relief-relief penuh warna itu menggambarkan saat kelahiran sang Budha dan diorama Dewi Kwan Im.

”Klenteng ini berumur cukup tua, diperkirakan dibangun sekitar abad 17 oleh perantau dari daratan China yang berprofesi sebagai pedagang di sekitar Batavia,” lanjutnya seraya mendampingi kami menjelajahi ruangan klenteng.

Klenteng Hok Lay Kiong ini berdiri seluas 1.200 meter persegi, termasuk dengan halaman depannya. Dewa-dewa yang ada di klenteng tertua di Bekasi ini diantaranya yang berada di altar Han Thian Siang Tee, berisi dewa yang dipercaya mampu mengontrol elemen-elemen dan melakukan sihir yang hebat.

Dewa Hok Tek Ceng Sin, merupakan dewa bumi yang secara umum disebut sebagai Tu Di Gong. Ditampilkan dalam bentuk orang tua, berambut dan berjenggot putih, dengan wajah yang tersenyum ramah. Biasa digambarkan sedang menggenggam sebongkah uang emas di tangan kanannya.

Sesampainya kita di bagian belakang klenteng, Radar Bekasi berjumpa dengan altar Chaw Kun Kong, Bok Liang memperkenalkan kepada kita sebagai dewa dapur, lebih mudah untuk dipahami.

Pada agama tradisional China dan mitologi Tiongkok, dewa Zao Jun dan Zao Shen yang ada didalam altar adalah dewa lokal paling penting, merupakan pelindung tungku perapian dan keluarga.

”Secara bahasa diterjemahkan sebagai penguasa tungku atau perapian,” ungkapnya.

Di lantai dua klenteng, kita berjumpa dengan guru spiritual dari wilayah timur laut India, juga merupakan pendiri agama Buddha, pemeluk agama Buddha, sebagai Buddha agung pada zaman ini.

”Ini adalah Buddha Gautama, Guru para dewa dan manusia,” tutupnya.

Setelah berjumpa dengan Buddha Gautama Radar Bekasi kembali ke lantai dasar Klenteng. Klenteng ini menyimpan sejarah dan arti spitual yang mendalam. Sungguh berkesan petualangan dalam satu ruang yang dulu hanya memiki lebar, 8 meter, dan panjang 30 meter, sebelum akhirnya dibangun besar-besaran pada 1984 silam. (*)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button