BekasiBerita Utama
Trending

Perekonomian ’Diserang’

Dampak Penyebaran Covid-19

HARGA GULA NAIK : Pekerja merapihkan tumpukan karung gula pasir di Toko Agen Gula Bryan Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur, Kamis (12/3). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ditetapkannya virus Corona (Covid-19) menjadi pandemi global, sontak meningkatkan kekhawatiran pasar. Di Bekasi, sejumlah kebutuhan pokok sudah merangkak naik, khususnya barang impor. Kondisi ini membuat pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan warga lainnya harus memutar otak untuk mengatur pengeluaran rumah tangga.

Salah satu komoditas pokok yang paling dirasakan yakni harga gula dan bawang Bombay. Kenaikan harga ini sudah terjadi hampir sebulan terakhir,” 1 ball Rp770 ribu (50 kg), biasanya kita jual Rp600 ribu,” terang salah satu penjaga agen gula di Kota Bekasi, Novi (19) saat ditemui Radar Bekasi di kawasan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Kamis (12/3).

Persediaan di tempatnya masih ada 400 ball, persediaan gula didatangkan langsung dari wilayah Lampung. Imbas dari kenaikan harga ini, permintaan dari toko-toko kecil berkurang. Hal ini diperkirakan lantaran tidak berjalannya impor gula dari luar negeri, akibatnya gula produksi lokal mengalami lonjakan harga.

Melonjaknya harga gula ini dikeluhkan oleh pelaku UMKM, pelaku usaha kecil menjerit ditengah melonjaknya harga beberapa bahan baku. Selain gula, harga bawang Bombay diakui juga naik, bahkan lebih tinggi.

”Iya nih banyak yang ngeluh dari Rp12.500 ke Rp17 ribu, ada yang sampai Rp20 ribu/kg, ada semingguan lebih. Bawang bombay naik gila-gilaan dari Rp15 ribu per kg jadi 170 ribu per kg. Gila, naik 11 kali lipet,” keluh salah seorang pelaku UMKM, Afif ridwan.

Mensiasati keadaan ini, pelaku UMKM yang tergabung dalam klasternya terpaksa untuk menaikkan harga jual. Dua pilihan harus dipilih, antara mengurangi ukuran atau menaikkan harga jual.

”Iya, biasanya ngurangin keuntungan, lah untung udah kecil bahan baku naik bisa kerja bakti. Rata-rata naikin harga,” tambahnya.

Ia bersama anggota klaster berharap ada tindakan konkret dari Disperindag Kota Bekasi untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan barang. Seperti melakukan operasi pasar untuk pelaku UMKM. Namun, sampai saat ini belum diakui belum ada informasi perihal tersebut.

Radar Bekasi coba mendatangi kantor Disperindag Kota Bekasi. Namun, nyatanya di kantor yang dimaksud tidak ada satupun pejabat berwenang yang mampu memberikan penjelasan langkah yang diambil untuk mengatasi masalah tersebut, mulai dari Kepala Bidang hingga Kepala Seksi yang membidangi perdagangan. ”Semuanya lagi nggak ada, kalau mau tunggu, tunggu aja,” tukas salah seorang pegawai Disperindag Kota Bekasi.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi bereaksi. DPRD meminta pemerintah Kota bersinergi dengan legislatif untuk mensiasati kondisi yang terjadi. ”Untuk mewujudkan itu semua, sekali lagi pemkot kudu kompak sama dewan, kalo perlu harus duduk bareng agar bisa memangkas rantai distribusi barang yang cukup panjang,” terang sekretaris Komisi 3 DPRD Kota Bekasi, Nuryadi Darmawan.

Validitas data terkait dengan hal ini dinilai sangat penting untuk menjadi acuan, berasal dari Kementerian Pertanian (Kementan). Operasi pasar dalam hal ini dinilai perlu dilakukan terkait penekanan terhadap spekulasi harga.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bekasi. Harga gula pasir di sejumlah Pasar Tradisional di Kabupaten Bekasi mulai mengalami kenaikan sejak awal Maret lalu, dari harga Rp 13 ribu perkilo sampai Rp 14 ribu perkilo, menjadi Rp 17 ribu perkilo.

”Kalau disini ada terus. Cuma harganya naik. Dari mulai awal Maret naiknya perlahan,” ujar salah seorang pedagang gila di Pasar Tambun, Ahmad saat ditemui disela-sela melayani pelanggannya di Pasar Tambun, Kamis (12/3).

Terpisah, Kepala UPTD Pasar Tambun, Sulaiman beranggapan, harga gula pasir di Pasar Tambun masih stabil. Dimana laporan tersebut didapatkan dari petugasnya yang ada dilapangan per Minggu sekali.

”Kalau begitu permainan pedagang apa gimana ya. Karena berdasarkan keterangan dari petugas saya di lapangan masih stabil, udah saya kontrol harganya Rp15 ribu per kilo,” ujarnya saat dihubungi Radar Bekasi.

Tidak hanya itu, pasca-ditetapkan virus Corona (Covid-19) menjadi pandemi global, imbasnya rupiah pada Kamis (12/3), tersungkur lebih dalam. ”Kekhawatiran investor terwujud setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Virus Corona sebagai pandemik global,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis (12/3)

Rupiah ditutup melemah 148 poin atau 1,03 persen menjadi Rp14.522 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.374 per dolar AS.(sur/pra/jpnn)

Related Articles

Back to top button