Bekasi

WHO Tetapkan Corona Pandemi Global

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu (11/3), menyatakan virus Corona baru sebagai pandemi. Itu berarti, wabah tersebut menyebar luas ke seluruh dunia. Badan PBB itu menambahkan bahwa Italia dan Iran kini menjadi negara dengan penderita terbanyak penyakit tersebut, dan sejumlah negara lainnya diprediksi akan menyusul.

”Kami sangat khawatir baik dengan tingkat penyebaran dan keparahan, maupun tingkat kelambanan untuk menangani virus Corona. Dengan demikian, kami menilai bahwa COVID-19 dapat diketegorikan sebagai pandemik,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi pers.

Ia mendesak masyarakat dunia agar menggandakan upaya untuk membendung wabah tersebut. Langkah agresif, katanya, masih mampu berperan besar dalam membatasi pandemi.

Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan menyebutkan, situasi di Iran sangat serius dan badan tersebut ingin melihat pengawasan yang lebih, serta pengobatan ekstra bagi mereka yang terdampak.

Juru Bicara Penanganan Virus Achmad Yurianto menegaskan, sampai saat ini tidak ada rencana pemerintah menerapkan lockdown pada wilayah tertentu. ”Kita tidak akan ada opsi lockdown. Karena kalau di-lockdown kita tidak akan bisa apa-apa,” kata Yuri di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (12/3).

Diketahui, sampai saat ini di Indonesia sudah terdapat 34 pasien positif Corona. Sementara sejumlah negara yang sudah memberlakukan lockdown di antaranya Italia, Tiongkok, Jerman, Arab Saudi, Denmark, Iran, dan terbaru Filipina.

Menurut Yuri, keputusan lockdown dianggap cukup membahayakan bagi masyarakat. Dia mencontohkan kasus Corona di kapal pesiar Diamond Princess. Ketika kapal diputuskan lockdown untuk proses isolasi, justru penularan Corona saat itu terjadi cukup cepat kepada penumpang lain.

Atas dasar itu, imbuh Yuri, pemerintah Indonesia lebih fokus pada upaya pelacakan kontak langsung antara pasien positif Corona dengan masyarakat. Dengan begitu mata rantai penularan bisa diputus. ”Bahkan meliburkan sekolah pun belum opsinya,” tambah Yuri.

Kendati demikian, kebijakan pemerintah akan terus disesuaikan dengan situasi. Nantinya, keputusan akan diambil bersama para pemangku kepentingan. ”Ini akan jadi keputusan bersama yang dikoordinasikan di setiap kementerian,” pungkas Yuri.

Dia juga mengungkapkan bahwa tiga pasien yang awalnya positif virus Corona saat ini sudah sembuh. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tiga pasien itu dinyatakan negatif virus Corona.

“Tiga pasien dua kali pemeriksaan negatif. Sesuai SOP sudah dinyatakan sembuh. Pak Menkes untuk memastikan berita ini dan sudah bertemu dokter yang merawat dan direkturnya juga, sudah didiskusikan,” kata Yuri di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (12/3).

Menurut dia, pasien yang sembuh adalah kasus nomor 6, laki-laki (39 tahun); kasus 14, laki-laki (50 tahun); dan nomor 19, laki-laki (49 tahun).

Selain itu, Yuri menekankan, meski pihaknya sudah menyatakan mereka negatif virus Corona, Pemerintah tetap memberikan edukasi kepada mereka. Salah satunya isolasi mandiri.

“Harus gunakan masker, menghindari kontak dekat dengan keluarganya, tidak menggunakan alat minum dan makan bersamaan dengan yang lain, diharapkan beristirahat dulu di rumah, tidak lakukan aktivitas di luar dan mencukupi asupan gizinya dengan baik,” jelas dia.

Selain itu, kata dia, ketiganya juga mendapat surat keterangan rujukan balik dari rumah sakit yang dibutuhkan dari puskesmas terdekat. Surat itu memerintahkan Puskesmas melakukan pengawasan.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku, saat ini WHO menjadi rujukan utama,” intinya itu sebuah ketentuan WHO yang menjadi rujukan utama, dari Kemenkes pasti mengantisipasi tentang hal itu. Kami KSP juga saat ini sedang mengundang semua potensi di perguruan tinggi, masyarakat, komunitas kesehatan, kumpulan dokter-dokter akan kami undang, kami ajak bersama menyelesaikan persoalan ini,” katanya.

Sementara itu, Satu pasien yang berada di ruang isolasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso meninggal dunia. Pasien itu mengalami sakit pneumonia berat dan juga memakai ventilator.

”Tadi malam masuk dan sudah kita lakukan terapi maksimal, ternyata tidak tertolong pagi hari ini,” kata Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril di kantornya, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (12/3).

Syahril menyampaikan, meski sudah dibawa ke ruang isolasi tim dokter RSPI Sulianti Saroso belum mengetahui apakah pasien tersebut masuk ke dalam kategori pasien dalam pemantauan (PDP) terkait virus Corona atau tidak. Karena hingga kini, hasil laboratorium belum keluar.

”Labnya belum ada hasil. Tetapi dari tracking pasien itu tidak ada kontak yang betul-betul berat didapatkan. Jadi saat ini masih dipelajari betul oleh rumah sakit yang mengirim maupun dari kita, mudah-mudahan negatif (virus Corona) dan tidak ada apa-apa,” ujar Syahril.

Sayhril membeberkan, sosok pasien yang berada di ruang isolasi itu berjenis kelamin perempuan berusia 37 tahun. Dia menyebut, pasien itu sempat mengalami sesak nafas. ”Dia kadang-kadang sesak, tapi sedikit ya,” beber Syahril.

Oleh karena itu, RSPI Sulianti Saroso belum bisa memastikan apakah pasien rujukan yang meninggal itu masuk kategori PDP virus Corona atau tidak. Karena RSPI masih menunggu hasil laboratorium. ”Masih di-tracking, makanya saya bilang tidak ditempatkan secara jelas kepada kluster atau bukan,” tukas Syahril.(jpnn)

Tags
Close