Bekasi

Positif Corona di Bekasi Meninggal

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Salah seorang warga Kabupaten Bekasi yang diketahui positif terserang virus Corona, meninggal dunia pada Kamis (12/3) kemarin. Petugas rescue RSCM Jakarta tersebut sempat mengalami perawatan di RSPI Sulianti Saroso.

”Hasil laboratiumnya sudah ada dari Kementerian. Ia positif terkena Covid-19,” kata Juru Bicara Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Kabupaten Bekasi, Alamsyah saat dihubungi Radar Bekasi, Minggu (15/3).

Pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi ini menuturkan, korban sebelumnya sudah pernah merawat pasien Covid-19 di tempat dirinya bekerja. ”Mengenai korban sudah lama apa belum menjadi petugas saya tidak tahu dengan detail. Yang jelas beliau itu kerja di RSCM bagian rescue pernah merawat pasien Covid-19 di sana,” ungkapnya.

Menurutnya, korban ini merawat pasien yang terkena Covid-19 pada tanggal 5 Maret. Kemudian tanggal 6 sampai tanggal 9 Maret beliau off di rumah karena sakit. Lalu pada tanggal 10 Maret, korban dirawat di RSPI Sulianti Suroso sampai tanggal 12 Maret, sampai akhirnya korban meninggal dunia. Walaupun sebenarnya kata dia, korban ada riwayat penyakit lain.

”Korban ada riwayat penyakit asma dan jantung. Sehari setelah beliau merawat pasien yang di RSCM beliau off. Meninggal di RSPI Sulianti Saroso tanggal 12 Maret,” ucapnya.

Dia mengaku, Pemkab Bekasi akan melakukan pengecekan intens kepada pihak keluarga korban berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kementerian. Termasuk melakukan isolasi mandiri terhadap pihak keluarga korban agar tidak keluar rumah sembarangan.

”Jadi yang pernah berkontak dengan korban kita pres (ikuti) untuk diperiksa. Kemudian kita memberikan edukasi kepada keluarganya agar beraktivitas di dalam rumah saja, tidak pergi kemana-mana. Itu yang disebut isolasi mandiri,” ucpanya.

Dia juga menegaskan, keluarga pegawai telkom asal Tambun Selatan yang meninggal karena suspect Covid-19 saat ini sudah mendapatkan perawat di rumah sakit di luar Kabupaten Bekasi. Kendati demikian dia memastikan, sampai saat ini belum mendapatkan laporan hasil laboratium.

”Kalau korban yang di Tambun itu suspect sampai beliau meninggal belum ada hasil laboratium. Untuk anak dan istrinya sudah dilakukan perawatan. Tapi saya belum dapat hasil laboratiumnya positif Corona apa belum. Tapi digolongkan ke dalam suspect. Sekarang dirawat di luar Kabupaten Bekasi,” tuturnya.

Sementara itu, jumlah Orang Dalam Pengawasan (OPD) di Kabupaten Bekasi mengalami peningkatan dari sebelumnya. ”ODP bertambah, detailnya sekisaran 40, tepatnya berapa saya lupa. Itu gabungan dari WNI dan WNA. Tapi jangan ibaratkan mereka ini kenapa-kenapa, kondisi sehat, hanya saja dia pernah kontak secara langaung,” jelasnya.

Sementara itu, terduga warga terjangkit Covid-19 di wilayah Kota Bekasi bertambah dua orang, dari jumlah terakhir sebanyak 30 orang, saat ini menjadi 32 orang. Dari puluhan orang tersebut, empat diantaranya dalam pengawasan, atau diisolasi di rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bekasi, Tanti Rohilawati menyebut Enam orang diantaranya berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP), empat diantaranya berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

”Pengawasan itu pasti adanya di rumah sakit, kalau di rumah sakit apakah ini terisolasi, karena pengawasan pastinya kan di isolasi. Mudah-mudahan saja, karena kita juga sedang menunggu hasil laboratoriumnya sehingga yang empat dalam pengawasan ini pun negatif untuk Covid-19 nya,” jelasnya.

Tanti mengaku belum bisa memastikan beberapa informasi yang beredar, adanya pasien yang meninggal akibat Covid-19. Lantaran belum diperoleh hasil yang meyakinkan terkait dengan pemeriksaan pasien yang bersangkutan.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi, Chairuman Joewono Putro meminta Pemerintah Kota Bekasi untuk bertindak secara integratif. Ia menyambut baik Sederet kebijakan yang telah diambil diantaranya membatalkan serangkaian event yang bertujuan untuk mengumpulkan massa. Namun, harus dilakukan langkah integratif dengan memeriksa seluruh kegiatan antisipatif di area publik.

 ”Itu seharusnya diintegrasikan dengan mengecek seluruh persiapan area publik, dalam kaitan dengan tersedianya hand sanitizer, kemudian pengukur suhu tubuh di mall, kemudian di tempat-tempat publik. Sehingga bisa di kontrol perpindahan orang yang terdeteksi memiliki suhu yang beresiko terpapar Corona,” ungkapnya.(pra/adv)

Related Articles

Back to top button