BekasiMetropolis

Mal Sepi, Stasiun Ramai, Permintaan Penyemprotan Disinfektan Meningkat

Suasana Hari Pertama setelah Kebijakan Libur Sekolah 14 Hari

SEPI: Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bekasi terlihat sepi, Senin siang kemarin

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suasana Kota Bekasi Senin siang kemarin terlihat lebih lenggang, ketimbang hari biasanya. Titik kemacetan di jalan protokol pun kemarin tidak terlihat, setelah adanya kebijakan Pemkot Bekasi meliburkan siswa selama 14 hari kedepan untuk menekan penyebaran virus Corona.

Laporan: Surya Bagus

Bekasi Selatan

Suasana lengang tidak hanya terlihat di jalanan, di sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Bekasi terlihat sepi pengunjung. Salah satu pegawai mal, yang menolak untuk diketahui namanya mengaku ada penurunan pengunjung, bahkan untuk siswa yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) juga dirumahkan.

”Sepi, jauh banget, kalau biasanya kita bisa jual tiga sampai lima (HP), sekarang ini engga. Anak PKL diliburin,” katanya.

Senada, penurunan penumpang juga terjadi di Terminal bus DAMRI Kayuringin, Kelurahan Kayuringinjaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Jika biasanya bus yang bertolak penuh 40 kursi, saat ini hanya setengahnya saja yang terisi.

”Biasanya full satu seat itu 40, kalau sekarang ini ya setengahnya kalau biasanya 40 ya sekarang jadi 20 seat saja terisi,” terang Timer Bus DAMRI, Herman saat dijumpai di lokasi.

Penurunan jumlah penumpang sudah terjadi sejak pertengahan bulan lalu, penumpang yang masih melakukan perjalanan ke bandara didominasi oleh penerbangan dengan tujuan domestik atau dalam negeri.

Beruntung harga tiket untuk penerbangan lokal masih terjangkau, jika tidak, mungkin diperkirakan tidak ada sama sekali penumpang tujuan bandara. Setiap harinya, lima belas bus DAMRI hilir mudik dari terminal menuju ke Bandara.

”Untung tiket pesawat-nya agak murah jadi agak banyak. Kalau tiket pesawatnya mahal nggak ada sama sekali,” lanjutnya.

Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto yang dijumpai saat mengunjungi salah satu mal di Kota Bekasi mengaku persediaan kebutuhan masyarakat masih terjamin sepuluh hari mendatang. Guna mengantisipasi keadaan yang tidak diinginkan jika terjadi lonjakan pembelian, pihaknya akan mengadakan operasi pasar.

Terkait dengan masih banyaknya perjalanan hilir mudik masyarakat Kota Bekasi menuju ke DKI Jakarta, ia akan melihat satu atau dua hari mendatang. Jika keadaan semakin memburuk, maka diimbau masyarakat Kota Bekasi untuk meliburkan diri sementara ini.

”Kita akan menunggu situasi terakhir kondisi Jakarta, kalau kemudian Jakarta nanti meningkat secara signifikan, kemudian ini emang sesuatu yang membahayakan untuk warga Kota Bekasi kita akan mengimbau untuk warga Kota Bekasi yang bekerja di Jakarta untuk meliburkan diri,” paparnya.

Terkait dengan kebutuhan disinfektan oleh PMI Kota Bekasi, pihaknya telah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan PMI Pusat untuk segera melakukan penetrasi terkait dengan barang-barang yang dibutuhkan seperti disinfektan.

Berbeda di situasi Stasiun Bekasi, jumlah penumpang diklaim masih normal seperti biasanya. Sekira 60 persen warga yang tinggal di Kota Bekasi sehari-hari bekerja di wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, sehingga hilir mudik masyarakat dari dan ke Bekasi memang selalu padat di jam-jam tertentu.

Sementara itu, Permintaan penyemprotan disinfektan di ruang-ruang publik yang masuk ke Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bekasi membludak. Setiap harinya tidak kurang sepuluh hingga lima belas permintaan penyemprotan disinfektan masuk di kantor PMI Kota Bekasi.

Permintaan sampai saat ini datang dari warga masyarakat, masjid, Puskesmas, sekolah, gereja, hingga kantor pemerintahan. Beberapa waktu lalu lingkungan kantor Pemerintah Kota Bekasi telah disemprot untuk mengantisipasi penyebaran virus.

”Permintaannya sudah banyak ngantre, angkanya sudah sama sekolah itu 60-an, masih waiting list,” terang Humas PMI Kota Bekasi, Imam Tri Subekti.

Setiap harinya PMI bisa melakukan penyemprotan di tiga titik, menggunakan empat alat semprot, dua diantaranya otomatis, dua lainnya manual. Sementara itu, kendala yang dialami oleh PMI Kota Bekasi berkaitan dengan ketersediaan Vikron atau Disinfektan yang selama ini digunakan. Vikron ini sebelumnya juga pernah digunakan untuk mencegah penyebaran virus flu burung yang sempat mewabah beberapa tahun lalu.

Diperkirakan Virkon yang tersedia saat ini habis dalam waktu dua hari kedepan. Pihaknya kesulitan untuk memenuhi ketersediaan Virkon ini, lantaran penjualan di toko online mencapai Rp4 juta, yang sebelumnya hanya Rp500 ribu.

”Mungkin pemerintah kemarin sudah rapat ya, katanya akan didorong juga. Ya kita butuh bantuan dari pemerintah daerah untuk mesin dan virkon-nya,” jelasnya.

Penggunaan Virkon ini disesuaikan dengan luas area yang akan disemprot, jika terpaksa kehabisan persediaan, maka sementaraa akan disiasati dengan menggunakan biang karbon. Efek dari penyemprotan Virkon ini disebut bertahan hingga satu bulan kedepan.(*)

Related Articles

Back to top button