BEKACITIZENOpini

Mengokohkan Jalan Literasi

Oleh: Kristianus Jimy Pratama, S.H.

Radarbekasi.id – Ketika seorang tamu melakukan kunjungan ke sebuah rumah maka sang tamu harus terlebih dahulu mengetuk pintu dari rumah tersebut. Apabila sang pemilik rumah membukakan pintu rumahnya serta mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk maka sang tamu baru dapat memasuki rumah tersebut.

Tidak menjadi sebuah kelaziman dalam budaya ketimuran bagi seorang pemilik rumah untuk mempersilahkan seorang tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya melalui jendela rumahnya. Ketidaklaziman tersebut sangat erat kaitannya dengan norma kesopanan yang hingga kini begitu dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Selain itu ukuran jendela yang cenderung berukuran lebih kecil dibandingkan dengan pintu tentu akan memberikanruang gerak yang sangat terbatas bagi tamu tersebut untuk melaluinya.

Berbicara mengenai jendela, istilah jendela juga digunakan dalam berbagai peribahasa hingga petuah. Salah satu peribahasa yang menggunakan istilah jendela dan begitu populer di masyarakat adalah bahwasanya buku adalah jendela ilmu atau buku adalah jendela dunia.

Peribahasa tersebut mengisyaratkan bahwa seseorang dapat mempelajari ragam ilmu pengetahuan yang terdapat di seluruh dunia dengan melalui buku.
Namun khazanah ilmu pengetahuan sangat luas tentu tidaklah dapat ditempuh hanya dengan membaca sebuah buku. Seperti apabila kita hendak mengarungi samudera yang luas maka kita membutuhkan banyak persediaan bekal dalam kapal yang kita gunakan.
Dengan mengandalkan pengetahuan yang didapatkan hanya pada sebuah buku akan membuat kita sebagai pembacanya akan terkurung bak katak di dalam tempurung.
Hal ini dikarenakan sebuah buku akan menyajikan berbagai perspektif yang berbeda dengan buku lainnya meskipun topik bahasannya serupa.

Dengan keterbatasan jumlah buku yang dijadikan rujukan untuk membaca akan menyebabkan seseorang memiliki pemahaman yang sangat terbatas perihal topik bahasan terkait dan memiliki kecenderungan untuk berpandangan sempit dalam menyikapi sebuah hal.

Hal tersebut sejalan dengan ungkapan yang menyatakan bahwa apabila kita memiliki sebuah buku maka kita dapat mengetahui bagaimana caranya untuk berjalan.
Sedangkan apabila kita memiliki tiga buku maka kita dapat memahami bagaimana caranya untuk melompat dan apabila kita memiliki lima buku maka kita akan memahami bagaimana caranya untuk berlari.

Namun dewasa ini di tengah derasnya arus globalisasi, buku tidak lagi menjadi hal yang digandrungi kalangan muda. Hal ini berbanding terbalik dengan para pendahulunya. Dimana ketika pada masa perjuangan untuk merebut kemerdekaan Indonesia hingga Indonesia merdeka, Bung Hatta menjadi salah satu tokoh bangsa yang mencintai buku dan tak terbilang betapa besarnya sumbangsih pemikiran dan tindakannya terhadap kemajuan bangsa.

Sedangkan dewasa ini, interaksi kalangan muda terhadap penggunaan media sosial yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dalam menciptakan kemanfaaatan melainkan terkadang justru melakukan hal-hal yang tidak memiliki faedah.

Padahal apabila di masa lampau, seorang perlu berusaha keras untuk mendapatkan sebuah buku yang diperlukannya karena keterbatasan jumlah dari buku tersebut. Namun di tengah segala kemudahan untuk mengakses informasi dewasa ini justru gelora untuk membaca justru begitu rendah.

Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Indonesia yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2019) menunjukkan bahwa 24 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki aktivitas literasi dengan kategori rendah dan hanya terdapat 9 provinsi di Indonesia yang berkategori sedang dalam hal aktivitas literasi.

Hal ini tidak berbanding lurus dengan indeks dimensi kecakapan yaitu dengan meningkatkan upaya pemberantasan buta aksara yang telah berjalan dengan baik.
Sehingga dapat dinyatakan bahwa yang menjadi kendala terutama di kalangan muda dewasa ini adalah niat untuk menumbuhkan kembali aktivitas literasi sebagai sebuah kebiasaan yang mengkultur.

Apabila kita menengok secara spesifik dari sampel kalangan muda adalah para pelajar ternyata para pelajar dewasa ini tidak menjadikan perpustakaan di sekolahnya masing-masing sebagai.

Para pelajar dewasa ini cenderung menghabiskan waktu istirahatnya dengan bercengkerama dengan sebayanya hingga melakukan kegiatan ekstrakulikuler. Tak jarang bagi mereka yang sering menghabiskan waktu di perpustakaan akan disematkan stigma sebagai kutu buku.

Sedangkan apabila kita memahaminya lebih lanjut, stigma tersebut terbilang bersifat destruktif. Kutu atau rayap sekalipun merupakan serangga yang umumnya dapat merusak atau menghabiskan berbagai barang yang dimiliki oleh manusia.
Sehingga apabila dihubungkan dengan stigma tersebut maka kita dapat mengetahui bahwa stigma kutu buku berarti seorang yang menghabiskan waktunya dengan buku dan tidak melakukan hal lain dalam kehidupannya.

Mereka yang disebut kutu buku ini juga lekat dengan sebutan kuno oleh sebayanya dewasa ini terlebih apabila sang kutu buku selalu menghabiskan waktu istirahatnya di dalam perpustakaan.

Padahal apabila menyelaminya lebih dalam, perpustakaan menyimpan berbagai kisah yang amat mengeankan. Sejak dahulu, perpustakaan telah mengabadikan berbagai momen kehidupan baik dari perjalanan sebuah bangsa, keluhuran nilai budaya hingga nilai-nilai spiritual yang diterjemahkan dalam sebuah buku.

Salah satunya kita dapat memetik pembelajaran kehidupan dari surat-surat R.A. Kartini yang sarat dengan pemaknaan kepada sahabatnya, Nyonya Abendanon. Ketika kita membaca keseluruhan dari surat-surat tersebut maka kita dapat memahami betapa besarnya perjuangan R.A. Kartini terhadap penyetaraan kedudukan antara perempuan dan seorang laki-laki tidak hanya pada bidang pendidikan melainkan pada seluruh aspek kehidupan.

Apabila surat-surat R.A. Kartini tersebut tidak dipustakakan dengan cermat maka kita tidak akan mengetahui bahwa pada masa lampau kita pernah berada pada masa yang mendiskriminasikan kaum perempuan dan bukan tidak mungkin bahwa kita masih akan membudayakan budaya patriarki dengan keliru.

Tidak hanya mengenai surat-surat R.A. Kartini, kedigdayaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit yang mahsyur tidak akan dapat menjadi pembelajaran bagi anak-anak bangsa untuk membangun Indonesia lebih maju pada masa depan.

Namun kalangan muda justru membanggakan hanya pada sisi romantisme kejayaan kerajaan-kerajaan mahsyur di tanah nusantara padahal sesungguhnya kini pikiran kalangan muda tengah tersandera bahkan terjajah oleh arus globalisasi.
Ketika para pemimpin bercita-cita untuk mewujudkan Indonesia Emas seharusnya kalangan muda menyadari bahwa cita-cita seluruh pendahulu bangsa ini tengah dititipkan pada pundak mereka.

Di saat semangat untuk menggunakan produk dalam negeri sebagai bentuk penghargaan terhadap buatan anak bangsa, kalangan muda dewasa ini justru memiliki kecenderungan untuk melihat berbagai buatan luar negeri melalui katalog elektronik padahal manakala kalangan muda menyibak pintu perpustakaan maka kalangan muda akan dapat melihat bahwa negeri ini sarat akan budaya yang sangat beragam.

Ketika segelintir orang membanggakan merek-merek ternama di dunia, perpustakaan telah terlebih dahulu mengabadikan bagaimana perjalanan batik sebagai kain asli Indonesia yang mendunia. Ir. Soekarno pernah mengemukakan bahwa dengan sepuluh muda beliau akan mengguncangkan dunia.

Namun apabila kita mengibaratkan negeri ini sebagai kapal layar dan kalangan muda adalah sebagai penumpangnya dan dikemudian hari menjadi nahkodanya, apakah kapal layar ini akan dapat mencapai dermaga kesejahteraannya.

Perpustakaan adalah laksana mercusuar ilmu bagi kalangan muda di masa depan untuk menahkodai kapal layar bangsa ini. Namun manakala sebuah mercusuar tidak terawat dengan baik dan ditinggalkan maka manakala kapal layar tersebut mengarungi samudera di malam hari bukan tak mungkin bahwa kapal tersebut akan salah arah.
Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk merawat mercusuar ilmu itu apabila kita tidak ingin kapal layar bangsa kita hanya mengampung di tempat atau bahkan karam karena kegagalan nahkoda muda mengambil alih kemudi dari nahkoda pendahulu-nya. (*)

Peneliti Hukum Social Sciences and Humanities Research Association

Related Articles

Back to top button