BEKACITIZENOpini

Mati Siji Mati Kabeh?

Oleh: Salamuddin Daeng

Radarbekasi.id – “CHINA Shutdown”, belum tahu sampai kapan keadaan ini akan terus berlanjut. Wabah virus corona terus menyebar luas ke seantero China, Hongkong, Taiwan, negara-negara tetangga Jepang, Korea. Kota-kota besar di China berubah menjadi kota hantu, negara-negara yang tertular juga terancam menghadapi keadaan yang sama.

Berapa lama China dapat mengatasi wabah virus corona? Sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan bisa mengatasinya. Walaupun nanti diketemukan obat atau vaksin bagi virus ini, China butuh waktu bertahun-tahun lagi untuk memulihkan ekonomi dan keadaan sosial negara pasca wabah virus corona.

Belum lagi harus memulihkan kepercayaan internasional atas negara China dan barang-barang dari China. Demikian pula dengan negara sekitarnya yang terpapar wabah dalam skala yang signifikan akan menghadapi masalah ekonomi dan sosial yang sama.

Padahal ekonomi China adalah penopang utama ekonomi global, pertumbuhan ekonomi global dalam lebih satu setengah dekade terakhir. Bahkan ekonomi digitalisasi bergerak dengan cepat karena ditopang oleh kekuatan pasar China, kekuatan permintaan yang terjadi dalam pasar China. Dunia terutama negara-negara industri maju sebetulnya sudah sangat menderita sejak ekonomi China melemah tahun 2014 lalu.

Pertumbuhan ekonomi China yang sebelumnya mencapai double digit, tersisa 6 persen dan terus menurun menjadi 5 persen. Dunia menjadi lebih rentan terhadap krisis, gampang bergejolak, pasar keuangan jatuh secara tiba-tiba. Semua banyak dipicu oleh dinamika pasar di China.

USA dan Eropa
China adalah mitra utama bagi Amerika Serikat. Dalam perdagangan, China adalah partner utama dalam perdagangan USA. Nilai perdagangan USA China mencapai 630 billion dolar AS (ini 10 kali perdagangan Indonesia China).

Bagaimana dengan Uni Eropa, ini lebih besar lagi, nilai perdagangan Uni Eropa China dengan Uni Eropa mencapai 610 billion euro. Uni Eropa bergantung pada pasar ekspor China sedikitnya 200 billion euro.

Pasar terbesar yang tidak mungkin digantikan oleh ukuran pasar sebuah negara. Apakah hubungan hanya sebatas perdagangan? Tentu saja tidak, Eropa-Amerika Serikat dua pasar terbesar di dunia telah terikat sangat kuat dengan keuangan China. USA memiliki utang 1.10 triliun dolar (Oktober 2019), merupakan 26.7% dari 4.12 triliun dolar AS Treasury bills, notes, dan bonds yang dimiliki asing dalam APBN USA.

Demikian juga dengan Uni Eropa, investasi China di Eropa telah bertumbuh dengan cepat. Perusahaan-perusahaan China masuk ke segala lini, mulai dari kecil hingga investasi besar dalam infrastruktur. Sekitar 35-40 billion euro investasi langsung China di Eropa. Negara-negara Eropa sejak krisis mulai berbondong-bondong mengambil utang dari pasar keuangan China.

Indonesia dan Singapura
Singapura telah resmi terkena wabah corona. Pemerintah Singapura telah memperingatkan warganya untuk tidak panik dan bahu-membahu saling membantu. Namun kepanikan di Singapura tak bisa dihindari, warga mulai memborong masker dan bahan makanan, bersiap-siap jika suatu waktu tidak lagi bisa ke luar rumah.

Singapura merupakan mitra dagang utama Indonesia setelah China. Nilai perdagangan Indonesia Singapura dapat mencapai 30-40 miliar dolar AS. Meski nilainya makin menurun dalam lima tahun terakhir, namun tetap terbesar dalam kawasan Asean dan nomor 2 setelah China di kawasan Asia. Bahan Bakar Minyak Indonesia sebagian besar dipasok dari Singapura. Investasi langsung di Indonesia sebagian besar berasal dari Singapura.

China-Indonesia-Singapura telah menjadi ekonomi yang sulit dipisahkan. Indonesia China terikat dalam nilai perdagangan yang sangat besar. Nilainya mencapai Rp 1000 triliun. Ini adalah nilai perdagangan terbesar dengan sebuah negara.

Indonesia juga bergantung dengan pasar ekspor China yang nilainya sangat besar, yakni mencapai Rp 369 triliun (Tahun 2018). China-Hongkong-Taiwan masuk dalam berbagai investasi dengan agresif dalam satu dekade terakhir.

Perdagangan dan ekonomi integrasi Indonesia-China-Singapura tidak mungkin tergantikan dalam tempo cepat. APBN dan BUMN Langsung Lumpuh? Sejak ekonomi China menurun pada 2014 lalu, ekonomi Indonesia stagnan cenderung menurun, ekonomi Singpura tahun ini telah berada pada tingkat pertumbuhan paling rendah sebelum korona virus.

Pemerintah Jokowi selama lima tahun ke belakang menghadapi masalah penerimaan negara yang makin rendah dan sulit. Berbagai terobosan seperti paket kebijakan ekonomi, tax amnesty dan sekarang omnibus law, semuanya tidak membawa hasil dan tidak akan membawa hasil karena sekarang berhadapan dengan wabah virus corona yang melanda Asia Tenggara. Keuangan BUMN bank maupun nonbank selama lima tahun terakhir memburuk dikarenakan utang yang besar, tata kelola yang buruk, tidak transparan dan merugi.

BUMN telah dipaksa pemerintah untuk mengambil utang dalam rangka proyek bancakan oligarki sehingga keadaanya benar-benar memburuk. Sebelum serangan virus corona, BUMN Indonesia satu-persatu bermasalah, dan terancam bangkrut karena dililit utang.

Serangan virus corona benar-benar melipatgandakan resesi yang melanda dunia, Asia, dan melipatgandakan krisis yang melanda APBN dan BUMN Indonesia, serta keuangan Indonesia.

Mengapa? Sebab utamanya adalah utang dan kewajiban yang sangat besar, kewajiban membayar dana pensiun, dana asuransi, dana Jamsostek, dana haji, dan berbagai utang pemerintah dan BUMN dari dalam dan luar negeri. Sementara penerimaan dan pendapatan mengecil, dan sebagian besar hilang. Sekarang orang sudah tak mikir cari uang, tapi cari selamat dulu. (*)

Peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Related Articles

Back to top button