Metropolis

Penyedia Jasa Pijat Tuna Netra Ikut Terdampak

Gang Permukiman Ditutup, Kebutuhan Harian Tak Terpenuhi


BAGIKAN SEMBAKO : Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) membagikan paket sembako kepada penyandang tuna netra di Yayasan Binnaul Ummah, Bekasi Timur, Senin (4/7). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penyebaran Covid-19 telah mempengaruhi berbagai sektor kehidupan, mulai dari sektor sosial hingga ekonomi. Aktivitas masyarakat yang berpotensi mengumpulkan orang banyak diminta untuk dihindari. Pedagang makanan hingga restoran cepat saji diminta untuk tidak lagi menyediakan tempat makan di lokasi. Didorong untuk melakukan pelayanan drive thru atau layanan pesan antar. Ternyata, ini juga berdampak hingga ke penyedia jasa pijat tuna netra, mengapa demikian?, berikut laporannya.

Surya Bagus

BEKASI TIMUR

Mayoritas hampir setiap jalan masuk area permukiman warga ditutup. Dibatasi aksesnya mulai dengan menggunakan portal, bambu, hingga alat seadanya seperti bangku panjang. Otomatis, akses mobilitas warga di wilayah Kota Bekasi terbatas.

Akses erat kaitannya dengan aktivitas ekonomi, ketersediaan akses menjadi kunci penting dalam aktivitas perekonomian warga. Mulai dari hilir mudik pengangkut bahan produksi, hingga pedagang keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di lingkungan permukiman warga.

Aktivitas ekonomi penyedia jasa pijat oleh tuna netra juga terdampak. Pendapatan mereka menurun drastis beberapa pekan ini. Alasannya, karena akses masuk di wilayah permukiman warga mayoritas ditutup.

“Karena daerah kami, untuk akses pasien pijat itu gangnya sudah ditutup, digembok sekarang ini,” keluh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia kota Bekasi, Deden Rustandi (48).

Aktivitas ekonomi penyedia jasa pijat tuna netra akhir-akhir ini lesu, bahkan mereka tidak mendapatka pelanggan satupun. Deden sendiri, sudah 20 hari ini tidak mendapatkan pelanggan. Otomatis ia hanya berdiam diri dirumah, memanfaatkan sisa-sisa pundi uang yang masih dimiliki.

Sejatinya, dari hasil keringat itu, dalam sehari bisa mengantongi lebih dari Rp100 ribu. Namun, situasi kali ini jauh berbeda. Tarif untuk sekali pijat di tempat Rp70 ribu. Sementara jika diminta untuk datang ke rumah pelanggan, ditarif Rp100 ribu, berikut ongkos transportasi ditanggung pelanggan.

 “Selama Corona ini bahkan saya berfikiran luar biasa dampaknya, ditambah virus kelaparan bisa jadi ini,” tambahnya.

Kemarin mereka akhirnya menerima bantuan. Puluhan pemijat tuna netra diundang di halaman sekretariat Yayasan Binnaul Ummah, Kelurahan Bekasi Timur, Kota Bekasi.  Bantuan uang tunai dan bahan pangan mereka terima.

Deden bersama dengan ratusan anggotanya berterimakasih kepada donatur yang sudah menunjukkan kepeduliannya selama ini, beberapa pekan ini ia merasa terbantu dari para donatur yang datang meringankan kebutuhan sehari-hari ratusan anggotanya.

Dalam kesempatan tersebut, setiap orang mendapatkan uang tunai Rp200 ribu, serta paket sembako. Bantuan ini diberikan kepada 100 pemijat tuna netra. Bantuan diberikan secara simbolis kepada 25 orang guna menghindari kerumunan berlebih.

Pemberian bantuan kali ini diserahkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama dengan beberapa lembaga lain. Aksi serupa akan dilanjutkan kepada masyarakat yang terdampak pandemik Covid-19. Operasi pangan yang disampaikan beberapa waktu lalu, dilaporkan sudah berjalan. Total 30 warung Tegal (Warteg) yang tersebar di wilayah Bekasi melayani makan gratis.

“Warteg yang sudah berjalan ada 30 titik, satu titik itu bisa melayani 100 paket makan gratis,” jelas Ketua Cabang ACT Bekasi, Ishaq Maulana.

Operasi pangan gratis tersebut diperuntukkan bagi pengemudi ojek daring, pekerja harian lepas, dan pedagang kecil. (*)

Related Articles

Back to top button