Bekasi

Agar Orang Waspada dan Sadar akan Kesalahan

Mengekspresikan Keprihatinan Pandemi ke Dalam Karya

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Gafarock dan Candra Malik menulis lirik yang mewakili kegelisahan mereka melihat kondisi sekitar saat virus korona mulai memunculkan kepanikan.

AUDINA HUTAMA PUTRI, Lamongan, Jawa Pos

SEMUA berawal dari kegelisahan….

Di akhir Januari lalu itu, Faiz Alhabib resah dengan banyaknya hoaks beredar tentang virus korona baru. ”Belum ada orang yang dinyatakan positif ketika itu, tapi kabar tentang itu berseliweran. Masyarakat pun mulai panik,” tutur gitaris sekaligus vokalis Gafarock tersebut saat dihubungi Jawa Pos Radar Lamongan Kamis pekan lalu (9/4).

Berkilo-kilometer dari sana, di waktu yang tak terpaut jauh di awal tahun, di rumahnya di Depok, Candra Malik sama gelisahnya. Dia melihat bagaimana manusia sebagai khalifah fil ardli atau pemimpin di bumi justru tak henti merusak tempat dia berpijak. Kepanikan akan rasa sakit yang dibawa virus baru dari Wuhan, Tiongkok, pun sejatinya baru siksa awal.

”Saya percaya alam semesta dan seisinya adalah rahmat Allah yang dianugerahkan tidak hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk-makhluk lainnya. Kerusakan alam semesta akibat perbuatan manusia berdampak tak hanya pada alam, tapi juga pada diri manusia sendiri,” kata penulis sekaligus musikus sufi itu melalui WhatsApp kepada Jawa Pos Selasa lalu (14/4).

Keduanya pun akhirnya menuangkan kegelisahan itu ke medium keseharian mereka: musik. Untuk menenangkan masyarakat, untuk membangkitkan kesadaran manusia atas kesalahan mereka di masa pandemi Covid-19 ini. Lahirlah Waspada dan Doa Lagu Virus Corona 4 Bahasa dan Shalawat Kinanthi.

Faiz dan dua kawannya di Gafarock yang bermukim di Lamongan, Jawa Timur –Muhammad Ma’ruf Efendy (drummer) serta Fadailul Amal (bassist)– meluncurkan video Waspada dan Doa Lagu Virus Corona 4 Bahasa di YouTube pada 1 Februari lalu. Sedangkan video Shalawat Kinanthi meluncur sekitar dua bulan kemudian, tepatnya 9 April lalu.

Gafarock mengaransemennya menggunakan nada asli lagu Jaranan, lagu anak-anak dalam bahasa Jawa karya Ki Hadi Sukatno. Liriknya ditulis dalam empat bahasa: Sunda, Jawa, Jawa logat Ngapak, dan bahasa Indonesia.

”Agar bisa menarik viewer dari berbagai daerah,” kata Faiz tentang alasan penggunaan empat bahasa tersebut.

Dibentuk pada 2016, Gafarock menggabungkan unsur gamelan ke dalam musik rock yang mereka mainkan. Lagu-lagu mereka, baik yang merupakan parodi dari karya musisi lain maupun lagu yang ditulis sendiri, menggunakan medium bahasa Jawa.

”Ini cara kami melestarikan bahasa Jawa di tengah arus zaman,” kata Faiz dalam sebuah wawancara dengan Jawa Pos (Radar Bekasi Group) dua tahun silam.

In The End (Linkin Park) yang jadi Ket Mbiyen dan Turu Hotel Karo Sonia yang ”dipelesetkan” dari Hotel California (Eagles) contoh olahan Gafarock. Pada 2018 mereka juga sempat dua kali menghelat konser di Suriname, negeri Amerika Selatan yang banyak dihuni warga keturunan Jawa.

Lirik Waspada dan Doa Lagu Virus Corona 4 Bahasa, kata Faiz, ditulis hanya dalam waktu sehari. Keempatnya dicampur dalam satu lagu.

Jadi, tidak dipisah jadi empat lagu dengan empat bahasa berbeda. Inti liriknya, band asal Paciran, Lamongan, itu mengingatkan betapa virus telah merajalela, korban berjatuhan, dan para dokter sudah kewalahan.

Proses aransemen lagu berlangsung hampir tiga hari. Mengingat, saat ini Faiz tinggal Cipayung, Jakarta Timur. Sementara itu, dua personel lainnya di Lamongan. Mengenai dipilihnya Jaranan, itu karena memang mereka sejak dulu ingin mengkreasikannya.

”Lagu juga sudah dapat izin langsung dari pihak publisher kuasa pencipta lagu Jaranan Ki Hadi Sukatno,” imbuh Faiz

Setelah proses aransemen lagu rampung, ketiganya memproduksi klip video di dua tempat berbeda. Faiz melakukan syuting di hutan sekitar Bumi Perkemahan Cibubur dengan dibantu penggemarnya yang disebut Bolo Gafa. Sementara itu, Amal dan Fendy syuting bersama tim produksi di hutan dekat Desa Sendangagung, Paciran. Pada video tersebut tampak para personel dikejar sekumpulan kelelawar saat berada di dalam hutan.

”Sengaja dimasukkan gambar kelelawar karena binatang ini dianggap sebagai biang kerok penyebar virus korona,” ucap Faiz.

Dalam waktu seminggu, video tersebut ditonton 2 juta viewer. Tapi, tak berselang lama, kritik mulai muncul. ”Rata-rata dari TKI (tenaga kerja Indonesia) yang masih di luar negeri. Padahal, lirik lagu kami sama sekali tidak menyebut mereka sebagai pembawa wabah korona itu,” kata Faiz.

Dalam liriknya, Gafarock hanya menyebut, antara lain, ”nyebar tekan bandara//teko poro WNA (menyebar dari bandara, dari para WNA/warga negara asing)”. ”Jujur, merasa gemas karena sepertinya (kritik) mereka salah alamat,” katanya.

Lirik Shalawat Kinanthi juga ditulis dalam bahasa Jawa. Candra meyakini bahasa tak akan jadi penghalang bagi siapa saja untuk menikmati karyanya.

Karya yang dimaksudkan sebagai ikhtiar penyadaran. ”Saya percaya syafaat Nabi Muhammad SAW itu penawar segala siksa dan penyembuh segala sakit, berpasangan dengan istigfar kita kepada Allah,” kata penulis buku Menyambut Kematian dan Layla, Seribu Malam Tanpamu itu.

Shalawat Kinanthi seperti mendapatkan momentumnya ketika virus korona baru mewabah ke berbagai belahan dunia. ”Seperti membenarkan syair dalam Shalawat Kinanthi, ’kula mboten wani’ atau saya tidak berani dan ’kula mboten kiyat’ atau saya tidak kuat, terhadap aneka rupa siksa yang berat,” kata pelantun Fatwa Rindu dan Samudera Debu itu.

Candra berkolaborasi dengan dua musisi Banyuwangi, Emilio Sing dan Nanda Thebreng. ”Saya menulis syair dan lagu. Saya melagukannya. Kemudian, dalam komunikasi yang lebih sering lewat WhatsApp, kami membahas aransemennya, termasuk untuk saling mengirim audio dan video,” katanya.

Dia mengaku beruntung sempat merekam lagu tersebut di Omexo Studio milik produser Tendy Yanuarman sebelum aturan menjauhi kerumunan mulai dijalankan. Aturan itu pula yang membuat ketiganya tak bisa hadir dalam syuting video musik.

Candra meminta tolong kepada Ardi Gumilar, rekanan event organizer di Bandung, untuk mengambil gambar demi mewujudkan video musik. Ardi kemudian menggerakkan jejaring di Cimahi karena dia sendiri juga tak bisa hadir.

Shalawat Kinanthi akhirnya diluncurkan pada Rabu malam pekan lalu (8/4). Bertepatan dengan malam Nisfu Syakban atau malam tengah bulan Syakban yang diyakini malam tersebut adalah malam pelaporan tahunan dan pergantian buku amal kebaikan umat manusia. Videonya diluncurkan sehari kemudian.

Kini, setelah kegelisahan mereka telah bermuara pada karya, Gafarock maupun Candra berharap karya mereka bisa jadi semacam pengingat.

”Semoga masyarakat tetap waspada. Dan, senantiasa berdoa agar selamat dalam menghadapi penyakit Covid-19 yang semakin merebak,” kata Faiz.

Demikian pula Candra. ”Saya berharap Shalawat Kinanthi dapat menjadi satu di antara ibadah kreatif kami di dunia, syukur-syukur bisa menjadi bukti ikhtiar perbuatan baik kelak di akhirat,” ujarnya.(*)

Gafarock dan Candra Malik menulis lirik yang mewakili kegelisahan mereka melihat kondisi sekitar saat virus korona mulai memunculkan kepanikan.

AUDINA HUTAMA PUTRI, Lamongan, Jawa Pos

SEMUA berawal dari kegelisahan….

Di akhir Januari lalu itu, Faiz Alhabib resah dengan banyaknya hoaks beredar tentang virus korona baru. ”Belum ada orang yang dinyatakan positif ketika itu, tapi kabar tentang itu berseliweran. Masyarakat pun mulai panik,” tutur gitaris sekaligus vokalis Gafarock tersebut saat dihubungi Jawa Pos Radar Lamongan Kamis pekan lalu (9/4).

Berkilo-kilometer dari sana, di waktu yang tak terpaut jauh di awal tahun, di rumahnya di Depok, Candra Malik sama gelisahnya. Dia melihat bagaimana manusia sebagai khalifah fil ardli atau pemimpin di bumi justru tak henti merusak tempat dia berpijak. Kepanikan akan rasa sakit yang dibawa virus baru dari Wuhan, Tiongkok, pun sejatinya baru siksa awal.

”Saya percaya alam semesta dan seisinya adalah rahmat Allah yang dianugerahkan tidak hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk-makhluk lainnya. Kerusakan alam semesta akibat perbuatan manusia berdampak tak hanya pada alam, tapi juga pada diri manusia sendiri,” kata penulis sekaligus musikus sufi itu melalui WhatsApp kepada Jawa Pos Selasa lalu (14/4).

Keduanya pun akhirnya menuangkan kegelisahan itu ke medium keseharian mereka: musik. Untuk menenangkan masyarakat, untuk membangkitkan kesadaran manusia atas kesalahan mereka di masa pandemi Covid-19 ini. Lahirlah Waspada dan Doa Lagu Virus Corona 4 Bahasa dan Shalawat Kinanthi.

Faiz dan dua kawannya di Gafarock yang bermukim di Lamongan, Jawa Timur –Muhammad Ma’ruf Efendy (drummer) serta Fadailul Amal (bassist)– meluncurkan video Waspada dan Doa Lagu Virus Corona 4 Bahasa di YouTube pada 1 Februari lalu. Sedangkan video Shalawat Kinanthi meluncur sekitar dua bulan kemudian, tepatnya 9 April lalu.

Gafarock mengaransemennya menggunakan nada asli lagu Jaranan, lagu anak-anak dalam bahasa Jawa karya Ki Hadi Sukatno. Liriknya ditulis dalam empat bahasa: Sunda, Jawa, Jawa logat Ngapak, dan bahasa Indonesia.

”Agar bisa menarik viewer dari berbagai daerah,” kata Faiz tentang alasan penggunaan empat bahasa tersebut.

Dibentuk pada 2016, Gafarock menggabungkan unsur gamelan ke dalam musik rock yang mereka mainkan. Lagu-lagu mereka, baik yang merupakan parodi dari karya musisi lain maupun lagu yang ditulis sendiri, menggunakan medium bahasa Jawa.

”Ini cara kami melestarikan bahasa Jawa di tengah arus zaman,” kata Faiz dalam sebuah wawancara dengan Jawa Pos (Radar Bekasi Group) dua tahun silam.

In The End (Linkin Park) yang jadi Ket Mbiyen dan Turu Hotel Karo Sonia yang ”dipelesetkan” dari Hotel California (Eagles) contoh olahan Gafarock. Pada 2018 mereka juga sempat dua kali menghelat konser di Suriname, negeri Amerika Selatan yang banyak dihuni warga keturunan Jawa.

Lirik Waspada dan Doa Lagu Virus Corona 4 Bahasa, kata Faiz, ditulis hanya dalam waktu sehari. Keempatnya dicampur dalam satu lagu.

Jadi, tidak dipisah jadi empat lagu dengan empat bahasa berbeda. Inti liriknya, band asal Paciran, Lamongan, itu mengingatkan betapa virus telah merajalela, korban berjatuhan, dan para dokter sudah kewalahan.

Proses aransemen lagu berlangsung hampir tiga hari. Mengingat, saat ini Faiz tinggal Cipayung, Jakarta Timur. Sementara itu, dua personel lainnya di Lamongan. Mengenai dipilihnya Jaranan, itu karena memang mereka sejak dulu ingin mengkreasikannya.

”Lagu juga sudah dapat izin langsung dari pihak publisher kuasa pencipta lagu Jaranan Ki Hadi Sukatno,” imbuh Faiz

Setelah proses aransemen lagu rampung, ketiganya memproduksi klip video di dua tempat berbeda. Faiz melakukan syuting di hutan sekitar Bumi Perkemahan Cibubur dengan dibantu penggemarnya yang disebut Bolo Gafa. Sementara itu, Amal dan Fendy syuting bersama tim produksi di hutan dekat Desa Sendangagung, Paciran. Pada video tersebut tampak para personel dikejar sekumpulan kelelawar saat berada di dalam hutan.

”Sengaja dimasukkan gambar kelelawar karena binatang ini dianggap sebagai biang kerok penyebar virus korona,” ucap Faiz.

Dalam waktu seminggu, video tersebut ditonton 2 juta viewer. Tapi, tak berselang lama, kritik mulai muncul. ”Rata-rata dari TKI (tenaga kerja Indonesia) yang masih di luar negeri. Padahal, lirik lagu kami sama sekali tidak menyebut mereka sebagai pembawa wabah korona itu,” kata Faiz.

Dalam liriknya, Gafarock hanya menyebut, antara lain, ”nyebar tekan bandara//teko poro WNA (menyebar dari bandara, dari para WNA/warga negara asing)”. ”Jujur, merasa gemas karena sepertinya (kritik) mereka salah alamat,” katanya.

Lirik Shalawat Kinanthi juga ditulis dalam bahasa Jawa. Candra meyakini bahasa tak akan jadi penghalang bagi siapa saja untuk menikmati karyanya.

Karya yang dimaksudkan sebagai ikhtiar penyadaran. ”Saya percaya syafaat Nabi Muhammad SAW itu penawar segala siksa dan penyembuh segala sakit, berpasangan dengan istigfar kita kepada Allah,” kata penulis buku Menyambut Kematian dan Layla, Seribu Malam Tanpamu itu.

Shalawat Kinanthi seperti mendapatkan momentumnya ketika virus korona baru mewabah ke berbagai belahan dunia. ”Seperti membenarkan syair dalam Shalawat Kinanthi, ’kula mboten wani’ atau saya tidak berani dan ’kula mboten kiyat’ atau saya tidak kuat, terhadap aneka rupa siksa yang berat,” kata pelantun Fatwa Rindu dan Samudera Debu itu.

Candra berkolaborasi dengan dua musisi Banyuwangi, Emilio Sing dan Nanda Thebreng. ”Saya menulis syair dan lagu. Saya melagukannya. Kemudian, dalam komunikasi yang lebih sering lewat WhatsApp, kami membahas aransemennya, termasuk untuk saling mengirim audio dan video,” katanya.

Dia mengaku beruntung sempat merekam lagu tersebut di Omexo Studio milik produser Tendy Yanuarman sebelum aturan menjauhi kerumunan mulai dijalankan. Aturan itu pula yang membuat ketiganya tak bisa hadir dalam syuting video musik.

Candra meminta tolong kepada Ardi Gumilar, rekanan event organizer di Bandung, untuk mengambil gambar demi mewujudkan video musik. Ardi kemudian menggerakkan jejaring di Cimahi karena dia sendiri juga tak bisa hadir.

Shalawat Kinanthi akhirnya diluncurkan pada Rabu malam pekan lalu (8/4). Bertepatan dengan malam Nisfu Syakban atau malam tengah bulan Syakban yang diyakini malam tersebut adalah malam pelaporan tahunan dan pergantian buku amal kebaikan umat manusia. Videonya diluncurkan sehari kemudian.

Kini, setelah kegelisahan mereka telah bermuara pada karya, Gafarock maupun Candra berharap karya mereka bisa jadi semacam pengingat.

”Semoga masyarakat tetap waspada. Dan, senantiasa berdoa agar selamat dalam menghadapi penyakit Covid-19 yang semakin merebak,” kata Faiz.

Demikian pula Candra. ”Saya berharap Shalawat Kinanthi dapat menjadi satu di antara ibadah kreatif kami di dunia, syukur-syukur bisa menjadi bukti ikhtiar perbuatan baik kelak di akhirat,” ujarnya.(*)

Related Articles

Back to top button