Bekasi

Saya Tidak Takut, tapi Keluarga Cemas

Surat dari Garis Depan

TIDAK TAKUT : Asep, Petugas Pemakaman TPU Tegal Alur, Jakarta Barat (TAUFIQ ARDIANSYAH/JAWA POS)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Seperti para dokter, mereka yang mewakili rekan-rekan seprofesi lain juga berada di garis depan pertarungan melawan Covid-19. Ini kisah keseharian mereka menjalankan tugas. Tentang kecemasan, keikhlasan, dan keharuan.

Asep, Petugas Pemakaman TPU Tegal Alur, Jakarta Barat

DALAM sehari, saya bisa menguburkan belasan jenazah yang terkait dengan pandemi Covid-19. Memang berat dan penuh risiko.

Karena itu, saya dan teman-teman selalu berhati-hati. Ada SOP (standard operating procedure) yang harus kami patuhi benar. Di antaranya, jenazah harus dikebumikan dengan menggunakan peti mati.

Lubang kubur juga harus agak dalam daripada kuburan lain.

Dari tinggi peti mati, harus ada jarak 1 meter sampai ke atas lubang kubur. Selain itu, dalam menguburkan jenazah, saya harus menggunakan hazmat suit lengkap dengan masker dan sarung tangan.

Sayalah yang diminta pihak keluarga untuk mengazani. Setelah mengazani, jenazah langsung dikubur. Penguburan jenazah harus selesai dalam 20 menit. Tidak boleh lebih dari itu.

Apa saya tidak takut tertular? Terus terang tidak. Jenazah sudah aman di dalam peti mati. Kemungkinan menularkan kecil.

Yang ada dalam pikiran saya justru keluarga jenazah. Sebab, keluarga adalah pihak yang berhubungan dengan mendiang semasa hidup. Mereka lebih besar peluangnya untuk menularkan.

Keluarga saya sendiri juga selalu khawatir. Saya maklum. Sebab, mereka tahu bahwa saya tiap hari berurusan dengan jenazah. Tapi, saya selalu jelaskan kepada mereka bahwa saya selalu berhati-hati dalam bekerja.

Selain itu, sebelum pulang ke rumah, saya selalu mandi dan mencuci pakaian yang saya kenakan hari itu. Sampai rumah, saya mandi lagi. Itu biar semua yang di rumah tenang.

Mudah-mudahan saja wabah ini segera berlalu. Bukan cuma saya, semua orang dibuat kesusahan karenanya.

Soni Eko Hariyanto, (Relawan Tim Reaksi Cepat BPBD Jogjakarta)

SEJAK 2013 saya menjadi relawan di Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jogjakarta. Tapi, baru kali ini saya ikut menangani bencana yang sifatnya adalah wabah penyakit menular.

Sudah satu bulan ini saya berada di posko TRC BPBD DI Jogjakarta untuk bertugas menangani jenazah di masa pandemi Covid-19. Saat ada jadwal, saya bertugas sebagai driver armada ambulans yang menjemput jenazah korban Covid-19 maupun pasien dalam pengawasan (PDP) di rumah sakit (RS) rujukan pemerintah. Ketika tidak ada jadwal, saya membantu sebagai personel dekontaminasi.

Sebelum penjemputan, tentu saya menjalani beragam prosedur untuk siap bertugas. Demi protokol keamanan, saya bersama tim saat bertugas. Sebelum memakai alat pelindung diri (APD), makan serta minum vitamin dan air mineral secukupnya untuk menjaga daya tahan tubuh selama memakai APD.

Rata-rata dalam satu hari saya bisa membawa tiga jenazah. Saya juga pernah harus menjemput dan mengantarkan jenazah hingga memakamkan pada waktu malam hari di tiga lokasi pemakaman yang berbeda.

Meskipun itu pengalaman baru sebagai relawan, saya pernah melakukannya sebagai warga biasa, yaitu membantu memakamkan jenazah di kampung. Hanya bedanya, di kampung banyak yang membantu.

Pengalaman terjauh saya mengantarkan jenazah adalah ke Wonogiri. Dengan waktu tempuh satu setengah jam perjalanan atau tiga jam perjalanan pergi-pulang Jogja-Wonogiri. Dengan menggunakan APD di badan saya.

Saat perjalanan pulang, karena saya lelah, teman saya menggantikan saya untuk mengemudikan ambulans. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba mobil menabrak pikap yang ada di depannya. Tapi, alhamdulillah, semua selamat, tidak ada luka sedikit pun.

APD masih melekat di badan saya saat itu sembari saya harus menahan lapar dan dahaga. Tapi, syukurnya, sebelum berangkat sudah makan, minum vitamin, dan menenggak air mineral. Masih membantu, bisa menahan sampai tiba di posko.

Selama menjadi relawan ini, saya hanya bisa bertemu dengan anak saya satu-satunya dan istri serta keluarga empat hari sekali. Hanya 8-12 jam saya bertemu dengan keluarga. Itu pun harus ekstrahati-hati.

Related Articles

Back to top button