Berita Utama

Tes Swab Sasar Penumpang KRL dan Pengendara

AMBIL SAMPEL: Petugas medis mengambil sampel  melalui saluran pernapasan dari penumpang KRL Commuter Line saat tes swab PCR di Stasiun Bekasi Jalan Ir.H. Juanda Bekasi Utara, Selasa (5/5). Langkah dari Pemerintah Kota Bekasi ini guna mendeteksi penyebaran virus Corona (Covid-19). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Warga yang masih hilir mudik keluar masuk Kota Bekasi akan menjalani tes swab dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk dilakukan deteksi virus Corona (Covid-19). Tes menyasar penumpang KRL Commuter Line dan pengendara yang melintas di perbatasan wilayah tersebut.

Tes berupa pengambilan sampel pertama kali dilakukan di Stasiun Bekasi mulai pukul 05.00 WIB, Selasa (5/5). Disiapkan 300 alat swab PCR, tes dilakukan secara acak kepada penumpang yang masuk area stasiun.

“Kita persiapkan 300 di Stasiun Bekasi ini, dan juga kita persiapkan tujuh titik. Titik perbatasan dengan DKI perbatasan dengan Kabupaten Bekasi,” ungkap Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi saat dijumpai di lokasi, kemarin.

Tes kepada warga yang masih masif keluar masuk Kota Bekasi ini, kata Rahmat, sebagai upaya untuk memetakan penyebaran Covid-19 di wilayahnya. Menyusul belum lama ini ditemukan penumpang KRL Commuter Line terkonfirmasi positif di wilayah Bogor.

Jumlah penumpang di Stasiun Bekasi saat ini tersisa 12 persen atau 12 ribu orang dari total dalam situasi normal sebanyak 110 ribu orang. Hasil tes kali ini rencananya akan disampaikan kepada yang bersangkutan maupun kepala daerah asal penumpang tinggal.

“Di Stasiun Bekasi ini juga ada dari Bekasi Utara, dari Tambun. Ini nanti kita setelah mengetahui kalau ada di Kabupaten Bekasi kita sampaikan kepada bupati untuk mengisolasi yang bersangkutan,” tambahnya.

Setiap penumpang yang dipilih untuk dilakukan pengambilan sampel lebih dulu didata identitas berupa KTP agar dapat dihubungi jika ditemukan hasil yang positif. Hasil tes diperkirakan baru bisa diketahui hari ini atau Kamis besok.

Pepen, sapaan akrab wali kota Bekasi berharap, dari setiap hasil tes yang dilakukan tidak ada tambahan kasus positif. Kalaupun ada, khususnya untuk warga Kota Bekasi akan langsung diarahkan ke RSUD ataupun diminta untuk isolasi mandiri.

Metode PCR dipilih karena memiliki tingkat akurasi 90 persen, dibandingkan dengan rapid test yang disebut hanya memiliki tingkat akurasi 50 sampai 60 persen. Pengambilan sampel juga dilakukan di enam perbatasan yakni Harapan Indah, Sumber Artha, Sasak Jarang, Jatiwaringin, Lubag Buaya, dan Bantargebang, total sebanyak 1005 sampel.

Petugas yang disiapkan kemarin di area Stasiun Bekasi merupakan analis dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, sebanyak lima orang analis. Sementara di perbatasan dilakukan oleh dinas kesehatan.

“Pemeriksaan paling akurat adalah pada hidung dan pada tenggorokan kalaupun nanti tidak ada yang bisa pada hidung dan tenggorokan bisa menggunakan pot dahak tapi kita harapkan semua bisa melalui hidung dan tenggorokan jadi hasilnya lebih akurat,” ungkap Direktur RSUD Kota Bekasi, Kusnanto. Hasil dapat diketahui setelah diproses melalui alat PCR selama dua jam.

PSBB Jawa Barat Mulai Diberlakukan Hari Ini

Sementara itu, Pemerintah provinsi Jawa Barat mulai memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di 27 kota/kabupaten di seluruh Provinsi Jabar. Pemberlakukan PSBB se-Jawa Barat mulai Rabu (6/5) hari ini, untuk menekan angka persebaran Covid-19 di kawasan yang selama ini belum menerapkan PSBB.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, PSBB tingkat Jawa Barat sudah siap diberlakukan mulai 6 Mei hingga 14 hari kedepan. Semua daerah diminta berperan aktif melaksanakan PSBB sehingga penularan cCovid-19 di Jawa Barat bisa ditekan.

“Sudah siap. Hari ini 10.30 WIB kita rapat di Polda Jabar, salah satunya mengecek kesiapan. Nanti tengah malam atau rabu dini hari kita mulai PSBB Provinsi Jabar,” ujarnya disela pemantauan pusat isolasi Covid-19 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Barat Jalan Kolonel Masturi Kota Cimahi, kemarin.

Menurut dia, PSBB Jabar membuat semua daerah se-Jawa Barat harus ikut aktif menerapkan PSBB.

“PSBB Bandung Raya kan hanya 5 kota kabupaten, untuk PSBB Jabar 17 kota kabupaten lain yang belum bergabung. Semua daerah melakukan protokol sama, batas wilayah diperketat. Inginnya dengan PSBB ini untuk 14 hari ke depan lebih banyak berita menggembirakan secara provinsi tidak hanya di zona PSBB daerah,” imbuhnya

PSBB Jawa Barat secara umum tidak jauh berbeda dengan Pergub PSBB Bodebek dan Bandung Raya. Mulai dari ketentuan umum, pembatasan di berbagai sektor, urusan yang dikecualikan, hak dan kewajiban masyarakat, serta diskresi bupati/wali kota, dan sanksi. Perbedaan mencolok ada pada sektor transportasi terutama motor baik pribadi maupun angkutan umum daring (online).(sur/hmf/jpg)

Related Articles

Back to top button