Metropolis

Hikmah Didi Kempot, Rutin Cek Jantung Cegah Kematian Mendadak

 

ILUSTRASI: Sakit jantung. Foto: Istimewa

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Meninggalnya seniman Didi Kempot akibat penyakit jantung memang mengejutkan dan tiba-tiba. Pentingnya medical check up pun mengemuka usai kepergian Lord Didi.

Almarhum juga disebut sedang dalam agenda yang sangat sibuk menjelang kematiannya. Artinya, kelelahan mencetuskan terjadi berbagai sebab kematian mendadak.

“Memang serangan jantung atau stroke merupakan penyebab utama kematian mendadak karena sakit,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Ari Fahrial Syam, seperti diberitakan jawapos.com (grup radarbekasi.id).

Ari pun meminta masyarakat mewaspadai sesak napas tanpa atau disertai nyeri dada yang berhubungan dengan aktivitas. Misalnya setelah naik tangga atau berjalan jauh terasa sesak, harus diduga sebagai gangguan pada jantung.

“Ini hikmah pertama yang harus menjadi pelajaran buat kita semua. Keluhan yang baru muncul ketika umur kita di atas 40 tahun merupakan suatu tanda ada yang tidak beres di dalam tubuh kita yang perlu evaluasi sesegera mungkin,” ungkapnya.

Ia menambahkan bagi orang yang memang tidak ada risiko sakit jantung, mereka dianjurkan untuk check-up setelah berusia di atas 40 tahun. Bahkan, check-up harus dilakukan lebih awal jika kita mempunyai faktor risiko sakit jantung.

“Dengan check up, kita bisa mendeteksi adanya penyakit atau gangguan kesehatan yang memang hanya bisa diketahui melalui check-up. Kita juga harus paham, sebenarnya tidak ada proses penyakit yang terjadi tiba-tiba tetapi manifestasi klinisnya bisa tiba-tiba. Sehingga check-up merupakan hal penting yang harus rutin dilakukan sehingga kita tidak akan terkejut bila ada kematian mendadak yang terjadi di sekitar kita,” jelasnya.

Sebenarnya, apa pun gangguannya, termasuk juga gangguan pencernaaan seperti nyeri ulu hati atau kembung (begah) yang baru dirasakan ketika umur kita di atas 40 tahun, juga merupakan keluhan yang harus segera dievaluasi.
Beberapa faktor risiko dari penyakit jantung koroner antara lain berusia lebih dari 40 tahun, kegemukan atau obesitas, merokok, hipertensi, kolesterol tinggi atau hiperkolesterol, hipertrigliserida, penyakit kencing manis atau DM, riwayat keluarga dengan sakit jantung, kurang olahraga rutin, dan stres.

“Kita juga mengetahui bahwa faktor risiko jantung koroner tersebut ada yang bisa dicegah agar terhindar dari serangan jantung. Sekali lagi, umur memang rahasia Allah. Kita manusia hanya bisa berusaha untuk hidup sehat,” katanya.

“Segera berobat ke dokter jika ada keluhan yang terjadi, terutama sesak napas, nyeri dada atau nyeri dulu hati setelah beraktivitas,” tegas Ari. (oke/jpc)

Related Articles

Back to top button