BEKACITIZEN

Refleksi Pembelajaran Interaktif di Rumah di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: M. Shalahuddin, S.S.I, M.Pd (Kepala SDIT Nurul Fajri Cikarang Barat)

Pembelajaran interaktif di rumah yang sudah dilaksanakan hampir tiga bulan di tahun ajaran 2019-2020 kemungkinan besar diselesaikan secara online sampai pelaksanaan PAT. Bahkan, Kemdikbud melalui Pelaksana Tugas Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammad Hamid sedang menyiapkan belajar dari rumah bisa terjadi sampai akhir tahun. Ini sebagai antisipasi andai wabah virus covid-19 masih belum berakhir di Indonesia hingga akhir tahun.

Praktik pembelajaran Interaktif di rumah ini dilakukan sekolah untuk turut mencegah penyebaran COVID-19. Keberhasilan pembelajaran dirumah ini tak bisa dipungkiri salah satunya oleh dukungan infrastruktur teknologi yang representatif seperti laptop, gawai dan jaringan internet yang memadai.

Hal inilah yang kemudian menjadi kendala, lantaran tidak semua peserta didik, orang tua dan para guru mampu menggunakanya dengan baik, serta konsumsi paket data kuota internet memerlukan biaya lebih besar dari biasanya sehingga bagi sebagian orang tua hal ini menjadi suatu permasalahan.

Sebagai ujung tombak di level paling bawah lembaga pendidikan, kepala sekolah dituntut membuat keputusan cepat dalam merespon kebijakan pemerintah yang mengharuskan sekolah memberlakukan pembelajaran interaktif dari rumah.

Guru merasa kaget karena harus mengubah sistem, silabus dan proses belajar secara cepat dan tepat. Siswa terbata-bata karena mendapat tumpukan tugas selama belajar di rumah. Sementara, orang tua siswa merasa stress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugas, di samping harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis wabah pandemi covid-19.

Ada beberapa hal yang dapat menjadi refleksi bersama dalam perbaikan sistem pendidikan kita khususnya terkait pembelajaran interaktif di rumah saat masa pandemi Covid -19.

Pertama, semua guru harus siap dan bisa mengajar jarak jauh yang notabene harus menggunakan teknologi. Peningkatan kompetensi guru disemua jenjang untuk menggunakan aplikasi IT pembelajaran jarak jauh mutlak dilakukan.

Kedua, penggunaan teknologi tidak boleh asal-asalan. Pembelajaran online tidak hanya memindahkan proses tatap muka menggunakan aplikasi digital. Pembelajaran online harus efektif, memberikan ruang gerak siswa untuk bereksplorasi, memudahkan interaksi dan kolaborasi antara siswa-guru, guru-orang tua, orang tua-siswa dan siswa-siswa.

Para orang tua saat ini dituntut untuk dapat menguasai penggunaan IT dengan baik.

Ketiga, pola pembelajaran Interaktif di rumah harus menjadi bagian dari semua pembelajaran. Guru harus terbiasa mengajar online, begitupun orang tua harus terbiasa mendampingi putra-putrinya belajar online di rumah.

Pemberlakuan sistem belajar online yang mendadak membuat sebagian besar gurudan orang tua kaget. Ke depan, harus ada kebijakan perubahan sistem untuk pemberlakuan pembelajaran online dalam setiap mata pelajaran.

Keempat, guru dan orang tua siswa harus punya perlengkapan pembelajaran online. Peralatan pembelajaran online IT minimal yang harus dimiliki guru dan orang tua siswa adalah laptop dan gawai. Keberadaan perangkat minimal yang harus dimiliki guru sangat perlu dipikirkan bersama baik pemerintah kab/kota, provinsi dan pusat termasuk orang tua siswa bagi sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Jadi, beberapa hal ini menjadi refleksi catatan penting dari dunia pendidikan kita yang harus memperbaiki pembelajaran interaktifdirumah secara cepat dan tepat. Pembelajaran interaktif di rumah ini harus mendorong siswa menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, mengasah wawasan dan ujungnya membentuk siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat dan berkarakter.

Berikut ini saya tuliskan refleksi Pembelajaran interaktif di rumah dari beberapa Kepala SD swasta di Kabupaten Bekasi :

’’Wabah yang terjadi saat ini makin meyakinkan saya bahwa pendidikan yang diajarkan di sekolah sejak kecil sampai saat ini selalu tentang kompetisi, saat kita butuh bersinergi sulitnya luar biasa. Pendidikan yang diajarkan di rumah harus lebih kontekstual, agar semakin orang terdidik, maka semakin dekat dengan realitas bukan malah sebaliknya’’. (Ikhwan Nasution/SDI Nurul Huda Setu).

’’Covid-19 memberikan pelajaran penting buat kita semua, bahwa memang seyogyanya pendidikan berawal dari rumah, hal ini menumbuhkan kesadaran bahwa setiap keluarga hendaknya memiliki kurikulum keluarga dengan visi dan misi yang jelas, sehingga peran sekolah adalah pelanjut dari kurikulum keluarga’’. (Abdul Hakim, S.Pd.I/ SDIT Zamzam Kurnia Tambun Utara).

’’Pembelajaran tidak harus ranah kognitif. Metode pembelajaran tidak hanya ceramah. Banyak yang harus diasah. Namun masih saja banyak guru menggunakan metode pembelajaran dengan ceramah, instrumen tes terlalu banyak ranah kognitif. Tiga bulan keluarga jadi the best home scholler meskipun lipatan jidat menjadi bertambah, nada suara menjadi lebih tinggi. Semua Akan indah karna kita berada dalam kepompong yang suatu saat akan melahirkan seekor kupu-kupu indah memberikan kebahagiaan dan manfaat bagi yang lainnya’’. (Agus Irwan Suhendar, S.Pd/SDIT Qurrata A’yun Cikarang Barat).

’’Covid 19 mengubah pola kenyamanan sebuah pembelajaran, mengubah sistem yang terbiasa kita lakukan hampir puluhan tahun. Dan pada masa ini kita tentu sebagai pimpinan diminta bergerak lebih cepat, kepala sekolah sebagai manajer menyiapkan learning manajeman sistem agar kelangsungan pola pendidikan menguatkan 3 ranah yakni ; kognitif, afektif dan psikomotorik tercapai’’.  (Rina Riyana/SDIT Prestasi Cendikia Tambun Utara).

Pandemi Covid 19 memberikan pembelajaran penting bagi pendidik, orangtua dan peserta didik serta masyarakat tentang belajar cara survive bertahan dan berkreasi untuk sebuah proses pembelajaran yang komprehensif dan bermanfaat buat bekal riil kehidupan berupa peningkatan varian kompetensi pada semua ranah pendidikan’’. (Imron Rosyadi, M.A/SDIT Nurul Qolbi Tarumajaya).

’’Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah dan kejadian yang terjadi dalam hidup termasuk pandemi covid-19 ini. Termasuk salah satunya ialah kesuksesan anak didik dikembalikan lagi ke lingkungan keluarga sebagai ujung tombak dalam pengembangan anak didik’’. Mei Eko Hermanto, S.Si/SDIT Insan Mulia Tambun Utara).

’’Dengan Covid, Institusi pendidikan ataupun masyarakat pada umumnya bisa menjadikan masa pandemi Covid-19 sebagai sarana berharga untuk bisa menempa diri menjadi pribadi disiplin, mandiri, bertanggung jawab, terampildalam hidup dan mengelola keuangan. Dengan Covid menjadikan masyarakat disiplin menjaga kebersihan dan kesehatan’’. (MY/SDIT Bani Luqman Babelan).

’’Sebagai insan pendidikan banyak cara yang dapat kita lakukan dalam mekanisme belajar online anak-anak di rumah, yaitu : Online tatap muka langsung dan Online tanpa tatap muka langsung. Tentunya dalam penerapan 2 model itu semua harus memperhatikan perangkat yang harus disiapkan, yaitu; gawai, laptop, kuota untuk jaringan internet serta Memory yang cukup. Tidak semua guru dan orang tua memiliki perangkat tersebut, kalaupun memiliki tidak sesuai ketentuan.Yang harus kita lakukan untuk pembelajaran online di rumah adalah dengan menyiapkan materi pembelajaran melalui:Pemberian materi dengan format PDF yang menarik,Penjelasan materi dengan voice note sambil siswa membuka buku pelajaran danmembuat video pembelajaran yang kita rancang sendiri dan dishare di youtube. Guru Fokus memberikan materi pembelajaran poin-poin inti saja dan selebihnya pembelajaran karakter siswa di rumah’’. (Hendry Irawan, M.Pd/SDI Abdurrahman Bin Auf Cikarang Timur).

Dari beberapa catatan refleksi kepala sekolah diatas, dunia pendidikan harus berani melangkah untuk menjadikan pembelajaran interaktif dirumah sebagai kesempatan mentransformasi pendidikan di Indonesia.Pandemi Covid-19 memang menjadi efek kejut bagi kita semua, dunia seolah melambat dan bahkan terhenti sejenak. Di tengah pandemi Covid-19 ini, sistem pendidikan harus siap melakukan lompatan untuk melakukan transformasi pembelajaran online bagi siswa, guru dan orang tua. Kita memasuki new era baru untuk membangun kreatifitas, mengasah skill siswa, dan peningkatan kualitas diri dengan perubahan sistem, cara pandang dan pola interaksi kita dengan teknologi.

Terakhir penulis ingin sampaikan. Mencermati kebijakan pemerintah menetapkan new normal dunia pendidikan di sekolah yang kemungkinan besar akan diterapkan di tahun ajaran baru 2020-2021, pemerintah harus membuat simulasi serta membantu menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam penerapan new normal ini, sekolahpun harus siap,cermat, teliti, dan tepat mengikuti kebijakan pemerintah mempersiapkanprotokol kesehatan dengan menyesuaikan dan mengkondisikan kondisi internal sekolah, Semua yang dilakukan untuk keselamatan, kesehatan dan kemaslahatan warga sekolah.

Tetap optimis wabah virus covid–19 ini akan segera berakhir, semua akan kembali beraktifitas dengan normal serta optimis dunia pendidikan Indonesia terus maju dan berprestasi melahirkan generasi-generasi terbaik yang hidup di zamannya. (*)

Related Articles

Back to top button