BekasiCikarang

Pengelola Destinasi Wisata Ragu Terima Pengunjung

TAMAN BUNGA: Sejumlah pengunjung sedang menikmati keindahan bunga di Taman Bunga Matahari, di Desa Sukakarya, Kabupaten Bekasi, Selasa (23/6).

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi sudah menerapkan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau new normal, termasuk sejumlah objek wisata. Namun siapa sangka, pengelola tempat wisata masih ragu menerima pengunjung yang notabene berasal dari zona merah Covid-19.

Salah satu pengelola kolam berenang Aquatic Centre di Komplek Stadion Wibawa Mukti (WBM), Wanto. Ia menyampaikan, kolam renang masih belum bisa dibuka total.

Untuk saat ini, kata dia, kolam hanya diperuntukkan bagi atlet Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI). Total atlet yang berlatih, yakni 15 atlet Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) PON Jawa Barat dan atlet Binaan PRSI sebanyak 15-20 atlet.

“Kami masih membatasi pengunjung, dan sangat teliti untuk menerima pengunjung di luar atlet Kabupaten Bekasi. Apalagi kalau tahu pengunjung-nya berasal dari wilayah zona merah Covid-19,” tutur Wanto kepada Radar Bekasi, Selasa (23/6).

Ia menjelaskan, pihaknya sampai saat ini masih menunggu kejelasan dari Pemkab Bekasi, berkaitan dengan regulasi tempat renang yang notabene dikunjungi masyarakat umum di Kabupaten Bekasi.

“Kami masih tutup sebenarnya, dan ini hanya persiapan new normal. Namun kami masih menunggu keputusan bupati, kapan baru boleh dibuka untuk umum tempat renang yang ada di Stadion Wibawa Mukti ini,” ujarnya.

Wanto menegaskan, imbas Covid- 19 terhadap sektor wisata memang sangat besar. Sejumlah pengola sudah banyak yang mengeluh dan menunggu kebijakan dari pemerintah daerah.

“Kalau memang sudah dibuka, otomatis protokoler kesehatan akan kami perketat lagi. Saat ini pun, kami sudah menerapkan protokol kesehatan. Setiap atlet yang masuk, harus diperiksa suhu tubuh dan memastikan bahwa atlet itu tidak reaktif,” terang Wanto.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Encep S Jaya mengakui ada kekhawatiran setiap pengelola wisata sebelum ditetapkannya new normal. Meski begitu, Encep sendiri menilai bahwa kekhawatiran tersebut perlu ada dasari dan tolak ukuran serta kajian khusus.

Bahkan, pihaknya mendorong agar tempat wisata segera dibuka. Tentunya dengan protokoler kesehatan yang sudah ditentukan Tim Gugus Covid-19 Kabupaten Bekasi. Maka, kata dia, untuk merealisasikan itu, pihaknya sudah membuat formula.

Dalam waktu dekat, tambah Encep, pihaknya akan menyerahkan hasil kajian berkenaan dengan rencana pembukaan tempat wisata yang ada di Kabupaten Bekasi.

Dinas Pariwisata memiliki wacana akan melakukan kajian menyeluruh berkenaan dengan kapasitas penerapan protokoler kesehatan pada setiap objek wisata. Termasuk juga melakukan kajian mendalam berkenaan dengan lokasi wisata yang berada di wilayah zona merah.

“Pada tahapan new normal ini, kami sudah menurunkan tim pengkaji wisata. Jadi, tim yang diturunkan harus memberikan laporan berkaitan dengan survey yang dilakukan pada setiap tempat wisata yang ada di Kabupaten Bekasi,” bebernya.

Tim yang diturunkan, memiliki tugas masing- masing dalam melakukan pengkajian. Pertama, untuk destinasi, meninjau lokasi wisata, baik yang buatan maupun destinasi alam. Kemudian tim lain mendata dan meng kroscek hotel dan pengusaha hotel serta fasilitas-nya. Dan tim lain-nya, bergerak pada lini kuliner, seperti rumah makan dan restoran. Namun, tidak termasuk warteg dan pedagang kaki lima. Tambahan tim lain-nya, yakni langsung meninjau usaha lain seperti golf dan kolam berrenang.

“Hasilnya, saya akan simpulkan dalam waktu dekat, baru dilaporkan ke bupati. Sehingga ada rujukan, bilamana tempat wisata dibuka di masa new normal. Misalnya, bahwa dari sekian pengusaha, sudah siap melakukan protokoler kesehatan ketika new normal dan sudah matang,” terang Encep.

Ia berharap, dari hasil kajian yang akan disampaikan, bisa menjadi rujukan awal, baik itu untuk pemerintah daerah melalui bupati, maupun untuk tim Gugus Covid -19 Kabupaten Bekasi.

“Saya akan meminta kepada bupati agar bisa membuka sejumlah sumber ekonomi tersebut, merujuk dari hasil kajian yang nanti akan disampaikan. Artinya, dari sektor wisata yang ada, agar bisa dipercepat untuk dibuka. Terutama, pada wisata yang berada di zona aman,” harapnya.

Lanjut Encep, berkaitan dengan sektor wisata, dirinya terus berupaya agar yang terdampak segera beroperasi. Maka, bila hasil kajian sudah diperoleh, akan sangat memungkinakan untuk bisa menjadi penentu dibukanya suatu tempat wisata. (dan)

Related Articles

Back to top button